← Beranda
10 Ucapan Perceraian yang Bisa Melukai Anak Secara Mendalam Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSenin, 7 September 2026 | 02.39 WIB
Ucapan perceraian yang bisa melukai anak secara mendalam menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Perceraian sering memengaruhi ucapan orang tua kepada anak yang tanpa disadari dapat meninggalkan luka mendalam.

Masa perceraian menjadi momen penting bagi orang tua untuk lebih berhati-hati dalam memilih setiap ucapannya.

Ucapan yang terlontar saat emosi memuncak dapat berdampak buruk bagi kondisi mental dan emosional anak.

Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (6/9), berikut sepuluh ucapan psikologi perceraian yang biasa dilontarkan orang tua dan dapat melukai anak secara mendalam.

1. Menjelekkan mantan pasangan di depan anak

Anak merupakan gabungan dari kedua orang tuanya, sehingga mengkritik salah satu pihak turut menyakiti anak.

Ketika satu orang tua terus dikritik, anak cenderung merasa perlu membela pihak yang dianggap disalahkan.

Sikap ini dapat merusak hubungan antara anak dengan orang tua yang melontarkan kritik tersebut.

Anak pun menjadi lebih defensif dan protektif terhadap orang tua yang terus-menerus direndahkan.

2. Membuat anak merasa bertanggung jawab atas kesepian orang tua

Ucapan semacam ini membuat anak merasa kebahagiaan orang tua menjadi tanggung jawab dirinya sendiri.

Anak seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan perasaan kesepian yang dialami oleh orang tuanya sendiri.

Membebani anak dengan emosi orang dewasa dapat menimbulkan tekanan yang tidak seharusnya mereka tanggung.

Peran ini seharusnya berjalan sebaliknya, di mana orang tua yang menjaga kebahagiaan anak.

3. Membicarakan masalah finansial akibat perceraian kepada anak

Berbagi masalah keuangan kepada anak menjadi beban yang tidak seharusnya mereka pikul di usia muda.

Anak berhak mengetahui bahwa kondisi telah berubah tanpa harus terlibat dalam detail finansial orang tua.

Membiarkan anak menikmati masa kecilnya jauh lebih penting dibanding membebani mereka dengan urusan keuangan.

Persoalan finansial seharusnya tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa, bukan beban pikiran seorang anak.

4. Menyalahkan salah satu orang tua atas keputusan bercerai

Menyalahkan satu pihak membuat anak merasa harus memilih di antara kedua orang tuanya sendiri.

Sikap ini hanya memperbesar kebingungan dan kesedihan yang sudah dirasakan anak akibat perceraian tersebut.

Pesan tersembunyi dari ucapan ini seolah mengharuskan anak memihak salah satu orang tua saja.

Anak seharusnya tidak perlu terlibat dalam konflik menentukan siapa yang benar dalam perceraian tersebut.

5. Mengucapkan generalisasi negatif tentang gender tertentu

Ucapan seperti ini dapat membentuk pandangan negatif anak terhadap gender tertentu di masa depan.

Anak cenderung memperhatikan dan meniru pola pikir orang tua dalam memandang hubungan di kemudian hari.

Ucapan generalisasi ini berpotensi memengaruhi cara anak menjalani hubungan personalnya saat dewasa nanti.

Sikap orang tua yang bijak sangat penting agar anak tidak mengulangi pola pikir negatif tersebut.

6. Menyalahkan sifat anak sebagai penyebab perceraian

Anak secara alami sudah cenderung menyalahkan dirinya sendiri ketika menghadapi perceraian orang tuanya.

Ucapan semacam ini justru menguatkan anggapan keliru bahwa mereka menjadi penyebab utama perceraian tersebut.

Mengelola stres dan perselisihan seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua, bukan tanggung jawab seorang anak.

Ucapan ini membuat anak merasa dirinya harus menjadi lebih baik agar orang tua tidak berpisah.

7. Membandingkan anak dengan mantan pasangan

Ucapan ini mengirimkan pesan membingungkan karena orang tua sudah tidak ingin bersama mantan pasangannya.

Anak mungkin mempertanyakan apakah dirinya berisiko kehilangan kasih sayang akibat kemiripan dengan orang tua tersebut.

Perbandingan ini dapat membuat anak ragu untuk tetap setia terhadap kedua orang tuanya sekaligus.

Anak berhak merasa dicintai tanpa perlu dibandingkan dengan sifat orang tua yang sudah berpisah.

8. Memberikan penjelasan tidak jujur tentang perpisahan

Anak membutuhkan penjelasan jujur dan sesuai usia untuk memahami perubahan besar dalam hidupnya.

Kebohongan kecil justru membuat anak merasa dunia di sekitarnya menjadi tidak dapat diprediksi.

Kepindahan salah satu orang tua memerlukan penjelasan yang jelas agar anak tidak merasa bingung.

Kedua orang tua sebaiknya sepakat memberikan penjelasan lembut yang membantu anak menghadapi perubahan tersebut.

9. Melarang anak menunjukkan emosi kesedihannya

Menyaksikan kesedihan anak akibat perceraian memang berat, namun emosi tersebut tidak boleh dipaksa untuk ditekan.

Perceraian menjadi hal menakutkan bagi anak, terutama mereka yang belum mampu mengungkapkan emosinya dengan jelas.

Ucapan ini menunjukkan kepada anak bahwa perasaan negatif mereka tidak diterima oleh orang tuanya.

Anak pun akhirnya belajar menyembunyikan emosinya demi menghindari penolakan dari orang tua sendiri.

10. Menuntut anak mengambil peran orang dewasa di rumah

Ucapan ini dimaksudkan menanamkan tanggung jawab, namun justru membebani anak dengan peran yang tidak sesuai usianya.

Anak yang lebih muda cenderung memaknai ucapan ini secara harfiah dan menganggapnya sebagai kewajiban nyata.

Tidak ada anak yang seharusnya merasa perlu mengambil alih peran dan tanggung jawab orang dewasa.

Beban peran ini dapat memengaruhi tumbuh kembang anak yang seharusnya tetap menikmati masa kanak-kanaknya.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti