JawaPos.com – Frasa licik dalam iklan lowongan kerja sering menjadi tanda tersembunyi bahwa perusahaan buruk sedang mencari korban.
Kritik terhadap pelamar kerja sering muncul, padahal perusahaan buruk juga perlu diperhatikan lewat cara mereka menulis lowongan.
Beberapa frasa dalam iklan lowongan kerja justru dapat membuat kandidat berkualitas merasa ragu untuk melamar posisi tersebut.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (6/9), berikut sembilan frasa licik yang biasa digunakan perusahaan buruk dalam iklan lowongan kerja untuk menjebak pencari kerja.
1. Menyebut mentalitas pemenang dalam deskripsi pekerjaan
Sebagian perusahaan menggunakan istilah ini untuk menyaring kandidat yang dianggap kurang berdedikasi tinggi.
Namun kata ini justru menciptakan lingkungan kerja penuh tekanan tanpa imbalan yang sepadan.
Istilah ini sering menjadi cara halus menyingkirkan karyawan yang menolak budaya kerja berlebihan tanpa kompensasi layak.
Tingginya pergantian karyawan akibat budaya ini justru membuat kandidat berkualitas semakin enggan melamar.
2. Menggunakan istilah hustle dalam lowongan kerja
Budaya kerja serba cepat semacam ini sudah tidak lagi diminati oleh para pencari kerja.
Pola pikir hidup untuk bekerja tanpa henti terbukti tidak berkelanjutan dan memicu kelelahan berlebihan.
Banyak karyawan melaporkan merasa terkuras secara emosional akibat budaya kerja yang terlalu menuntut.
Perusahaan seharusnya lebih mengutamakan keseimbangan hidup demi menciptakan karyawan yang produktif dan sehat.
3. Menggunakan frasa kerja keras bersenang-senang
Frasa ini sering menandakan lingkungan kerja yang menuntut tanpa memberi ruang untuk beristirahat.
Banyak pencari kerja kini semakin selektif memilih perusahaan yang menawarkan keseimbangan hidup dan pekerjaan.
Sebagian besar karyawan bahkan menolak pekerjaan yang tidak menawarkan fleksibilitas jam kerja yang wajar.
Keseimbangan hidup menjadi faktor penting yang dipertimbangkan banyak orang sebelum menerima tawaran pekerjaan.
4. Meminta kandidat bersedia mengenakan banyak topi
Pencari kerja tidak ingin melamar posisi tanpa kejelasan tanggung jawab dan ekspektasi yang jelas.
Istilah ini sering menyembunyikan tanggung jawab tambahan yang sebenarnya tidak dibayar sesuai porsinya.
Banyak pekerja menginginkan transparansi lebih besar terkait cara pengambilan keputusan di tempat kerja mereka.
Transparansi ini menjadi salah satu hal yang paling dicari calon karyawan saat memilih perusahaan.
5. Menyebut lingkungan kerja serba cepat
Istilah ini sering menjadi tanda bahaya besar bagi pencari kerja yang teliti membaca lowongan.
Biasanya ini berarti karyawan dituntut bekerja lembur dalam tekanan tinggi demi hasil akhir semata.
Banyak pekerja di Amerika melaporkan mengalami stres akibat pekerjaan yang mereka jalani sehari-hari.
Pencari kerja kini semakin berhati-hati memastikan pekerjaan tidak merusak kesehatan mental mereka sendiri.
6. Mengangkat istilah jiwa kewirausahaan
Istilah ini sering menjadi kode bahwa karyawan akan bekerja tanpa arahan yang jelas.
Sama seperti mengenakan banyak topi, karyawan mungkin mendapat tugas di luar deskripsi pekerjaan mereka.
Mereka pun harus menyelesaikan tugas tersebut tanpa mendapat kompensasi yang sesuai dengan usahanya.
Gaji tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan banyak orang menerima tawaran pekerjaan baru.
7. Mencari kandidat dengan inisiatif tinggi tanpa pengawasan
Istilah ini sering berarti minimnya pelatihan begitu karyawan mulai bekerja di posisi tersebut.
Beberapa perusahaan bahkan menggunakan istilah ini untuk menutupi lemahnya kualitas manajemen di dalamnya.
Manajer yang baik terbukti sangat memengaruhi tingkat keterlibatan karyawan di berbagai unit bisnis.
Manajer yang kompeten mampu mendorong karyawan bertindak sekaligus menciptakan budaya tanggung jawab yang jelas.
8. Menekankan pentingnya menjadi pemain tim
Kemampuan bekerja sama memang penting, namun istilah ini kadang disalahgunakan oleh perusahaan tertentu.
Karyawan terkadang dipaksa menerima kondisi tertentu demi menjaga keharmonisan meski merugikan diri sendiri.
Perusahaan seharusnya menciptakan ruang aman bagi karyawan untuk menyuarakan pendapat tanpa rasa takut berlebihan.
Tekanan untuk selalu setuju justru membuat karyawan merasa berada dalam lingkungan kerja yang otoriter.
9. Mencari kandidat yang proaktif tanpa bimbingan
Beberapa posisi memang membutuhkan inisiatif, namun istilah ini bisa menjadi tanda yang mencurigakan.
Istilah proaktif terkadang menandakan budaya kerja tanpa dukungan yang memadai bagi karyawan baru.
Karyawan mungkin diharapkan menyelesaikan masalah sendiri tanpa panduan yang jelas dari atasan mereka.
Ekspektasi ini sering menjadi alasan utama pencari kerja menolak lowongan yang menggunakan istilah tersebut.
***