← Beranda
Bikin Berat Badan Anjlok Drastis! Apa Itu Diet Air dan Bahayanya Bagi Tubuh?
Cicilia MargaretthaKamis, 3 September 2026 | 21.55 WIB
ilustrasi bahaya penerapan diet air bagi kesehatan / foto: pexels.com

JawaPos.com - Keinginan untuk mendapatkan berat badan ideal dalam waktu singkat seringkali mendorong seseorang mencoba metode diet ekstrem.

Salah satu yang belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial adalah water diet atau diet air, dikenal juga dengan sebutan water fasting.

Metode ini menjanjikan penurunan berat badan secara drastis dalam kurun waktu beberapa hari saja, sehingga memikat banyak orang yang menginginkan hasil instan.

Melansir dari laman Yourtango pada Kamis (03/09), diet air adalah metode puasa ekstrem dimana hanya mengkonsumsi air putih tanpa memasukkan makanan padat maupun kalori sama sekali selama jangka waktu tertentu, mulai dari 24 jam hingga beberapa hari.

Meski angka di timbangan bisa merosot cepat, metode ini menyimpan risiko kesehatan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Penurunan berat badan yang terjadi secara instan selama menjalani puasa air bukanlah hasil dari pembakaran lemak tubuh secara optimal.

Studi nutrisi klinis mengungkapkan bahwa hilangnya massa tubuh saat puasa ekstrem sebagian besar berasal dari penyusutan kadar air jaringan (water weight) dan pemecahan massa otot (lean muscle mass), bukan massa lemak murni.

Selain itu, penghentian asupan kalori secara mendadak memicu peningkatan hormon stres (kortisol), menurunkan laju metabolisme basal, serta memperbesar risiko efek yo yo dimana berat badan naik dengan cepat setelah pola makan normal diperkenalkan kembali.

Berikut adalah beberapa bahaya dan risiko kesehatan nyata dari penerapan diet air bagi tubuh:

1. Kehilangan massa otot dan penurunan metabolisme

Saat tubuh tidak mendapatkan asupan kalori dan protein, sistem metabolisme akan memecah jaringan otot untuk dijadikan sumber energi alternatif.

Kehilangan massa otot ini justru memperlambat kemampuan tubuh dalam membakar kalori di masa mendatang.

2. Ketidakseimbangan elektrolit dan dehidrasi

Minum air tanpa asupan makanan dapat mengencerkan kadar natrium, kalium, dan magnesium dalam darah.

Gangguan elektrolit ini berisiko memicu pusing hebat, aritmia atau gangguan detak jantung, kram otot, hingga kejang.

3. Tekanan darah anjlok (hipotensi ortostatik)

Kurangnya asupan kalori dan perubahan volume cairan tubuh dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara drastis.

Kondisi ini sering kali menimbulkan efek pusing mendadak, pandangan kabur, hingga pingsan saat seseorang bangkit berdiri.

4. Gangguan Fungsi Pencernaan

Berhenti mengkonsumsi makanan padat membuat sistem pencernaan berhenti bekerja secara normal.

Hal ini dapat memicu asam lambung naik (acid reflux), mual, dan risiko refeeding syndrome, kondisi komplikasi berbahaya saat tubuh mendadak diberi makanan kembali secara tidak teratur.

Secara keseluruhan, meskipun diet air dapat memberikan hasil penurunan berat badan yang instan pada timbangan, metode ini sangat tidak direkomendasikan untuk dijalankan tanpa pengawasan medis ketat karena ancaman efek sampingnya bagi organ vital.

Namun, selalu ingat bahwa edukasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai keamanan nutrisi harian.

Jika Anda ingin menurunkan berat badan secara sehat dan bertahan jangka panjang, berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik atau ahli gizi terdaftar adalah langkah terbaik untuk menyusun program diet yang aman dan seimbang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho