← Beranda
10 Kebiasaan Anak yang Terbawa hingga Dewasa karena Diasuh Orang Tua yang Kurang Secara Finansial
Vindi Rayinda AyudyaJumat, 28 Agustus 2026 | 22.05 WIB
Ilustrasi anak dan orang tua (magnific)

 

JawaPos.com - Kenali sepuluh kebiasaan yang mungkin terbawa hingga dewasa ketika seseorang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan finansial.

Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya dapat dilihat mulai dari sulit mengeluarkan uang hingga takut mengambil risiko.

Kondisi ekonomi keluarga saat masa kanak-kanak dapat memengaruhi cara seseorang memandang uang ketika sudah dewasa. 

Anak yang tumbuh dengan keterbatasan finansial mungkin belajar berhemat, hidup sederhana, dan menghargai setiap sumber daya yang dimiliki.

Namun, pengalaman tersebut juga dapat membentuk kebiasaan dan pola pikir tentang uang yang bertahan hingga bertahun-tahun kemudian. 

Dalam situasi tertentu, kebiasaan yang dahulu membantu seorang anak beradaptasi justru dapat menjadi kurang fleksibel ketika kondisi kehidupannya sudah berubah.

Dirangkum dari laman YourTango, inilah sepuluh kebiasaan yang mungkin terbawa hingga dewasa ketika seseorang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan finansial.

Namun perlu dipahami bahwa, tidak semua orang yang tumbuh dalam keluarga dengan kondisi finansial terbatas akan memiliki pola perilaku yang sama. 

Pengalaman keluarga, kepribadian, lingkungan, dan kondisi kehidupan saat dewasa juga berperan. 

Namun pada umumnya inilah beberapa kebiasaan yang mungkin cukup dominan dialami banyak orang.

1. Selalu Membandingkan Harga Sebelum Membeli

Kebiasaan melihat harga secara teliti sebenarnya dapat menjadi keterampilan finansial yang positif. 

Seseorang belajar membedakan kebutuhan dan keinginan serta tidak sembarangan mengeluarkan uang.

Namun, pada sebagian orang, kebiasaan tersebut dapat menjadi terlalu kuat hingga setiap pembelian menimbulkan kecemasan.

Meskipun memiliki kemampuan finansial yang cukup, mereka masih merasa bersalah ketika membeli sesuatu untuk diri sendiri.

Pengalaman masa kecil dapat membuat seseorang terbiasa berpikir bahwa uang harus disimpan karena sewaktu-waktu mungkin dibutuhkan untuk keadaan darurat.

Kebiasaan membandingkan harga tidak perlu dihilangkan. Yang penting adalah memastikan keputusan tersebut berasal dari pertimbangan yang sehat, bukan semata-mata ketakutan bahwa uang akan selalu habis.

2. Sulit Mengeluarkan Uang untuk Diri Sendiri

Orang yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi mungkin terbiasa mendengar bahwa uang harus digunakan untuk kebutuhan penting.

Ketika dewasa dan kondisi finansial membaik, pola pikir tersebut terkadang masih bertahan.

Membeli pakaian baru, menikmati makanan di restoran, melakukan perjalanan, atau membeli sesuatu yang sebenarnya mampu dibayar dapat terasa seperti pemborosan.

Mereka mungkin lebih mudah mengeluarkan uang untuk orang lain dibandingkan untuk dirinya sendiri.

Padahal, menikmati hasil kerja tidak selalu berarti boros. Selama kebutuhan utama, tabungan, dan kewajiban finansial tetap terkelola, memberikan ruang untuk kesenangan juga dapat menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang.

3. Terbiasa Menyimpan Barang karena Takut Membutuhkannya Lagi

Ketika tumbuh dengan sumber daya terbatas, seseorang mungkin belajar bahwa barang tidak boleh dibuang sembarangan.

Pakaian lama, wadah, peralatan, atau benda lain mungkin disimpan karena muncul pemikiran, “Siapa tahu nanti diperlukan.”

Kebiasaan tersebut pada awalnya dapat membantu keluarga menghemat pengeluaran. Namun, ketika terbawa hingga dewasa, rumah dapat dipenuhi barang yang sebenarnya sudah jarang digunakan.

Penting untuk membedakan antara hidup hemat dan mempertahankan barang karena rasa takut kekurangan.

Menyimpan sesuatu karena memang masih bermanfaat merupakan keputusan rasional. Sebaliknya, mempertahankan segala sesuatu hanya karena takut suatu hari tidak mampu membelinya kembali dapat menjadi pola yang perlu dievaluasi.

4. Selalu Takut Kehabisan Uang

Seseorang dapat memiliki pekerjaan stabil dan tabungan yang cukup, tetapi tetap merasa cemas ketika melihat saldo rekening berkurang.

Ketakutan tersebut terkadang tidak sepenuhnya berkaitan dengan kondisi finansial saat ini. Pengalaman masa lalu dapat membuat seseorang terbiasa mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Memiliki dana darurat memang penting. Namun, jika kecemasan membuat seseorang tidak mampu menikmati kehidupan atau mengambil keputusan finansial yang sebenarnya masuk akal, pola tersebut perlu diperhatikan.

Literasi keuangan dapat membantu seseorang membedakan antara kewaspadaan yang sehat dan ketakutan yang berlebihan.

Dengan mengetahui jumlah kebutuhan bulanan, dana darurat, utang, serta tujuan keuangan, seseorang dapat memiliki dasar yang lebih objektif untuk mengambil keputusan.

5. Merasa Harus Selalu Mandiri

Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan sumber daya terbatas mungkin terbiasa tidak meminta terlalu banyak.

Mereka belajar menyelesaikan masalah sendiri karena memahami bahwa orangtua juga memiliki banyak kebutuhan.

Ketika dewasa, kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi kesulitan meminta bantuan, bahkan ketika bantuan tersebut sebenarnya dibutuhkan.

Kemandirian memang merupakan kualitas positif. Namun, menjadi mandiri bukan berarti harus selalu melakukan semuanya seorang diri.

Dalam hubungan sosial maupun keluarga, menerima bantuan sesekali bukan tanda kelemahan. Justru, kemampuan mengetahui kapan harus meminta dukungan merupakan bagian dari kedewasaan.

6. Sangat Berhati-hati Mengambil Risiko

Keterbatasan finansial dapat membuat seseorang belajar bahwa kesalahan ekonomi memiliki konsekuensi besar.

Akibatnya, ketika dewasa, ia mungkin menjadi sangat berhati-hati terhadap peluang baru.

Memulai bisnis, pindah pekerjaan, mengikuti pelatihan, atau melakukan investasi dapat terasa menakutkan karena ada kekhawatiran kehilangan apa yang sudah dimiliki.

Kehati-hatian tentu diperlukan, terutama dalam mengambil keputusan finansial. Namun, terlalu takut mengambil risiko juga dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Solusinya bukan mengambil risiko secara sembarangan, melainkan memahami risiko, menghitung kemungkinan kerugian, dan membuat batas yang jelas sebelum mengambil keputusan.

7. Merasa Bersalah Ketika Menolak Permintaan Finansial

Orang yang tumbuh dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi terkadang memahami betapa beratnya ketika seseorang membutuhkan bantuan.

Ketika dewasa dan memiliki kondisi finansial lebih baik, mereka mungkin merasa sulit mengatakan tidak ketika keluarga atau orang terdekat meminta bantuan uang.

Keinginan membantu merupakan hal positif. Namun, memberikan bantuan yang melebihi kemampuan dapat membuat kondisi finansial pribadi ikut terganggu.

Menetapkan batas bukan berarti tidak menyayangi keluarga.

Seseorang dapat membantu sesuai kemampuan tanpa mengorbankan kebutuhan dasar, tabungan, atau tujuan keuangan jangka panjang.

8. Terobsesi Menjadi “Aman” Secara Finansial

Pengalaman kekurangan dapat membuat seseorang memiliki dorongan kuat untuk mencapai keamanan finansial.

Mereka bekerja keras, menabung, menghindari utang, dan berusaha memiliki cadangan uang sebanyak mungkin.

Sikap tersebut dapat menjadi kekuatan jika dilakukan secara seimbang. Masalah muncul ketika pencapaian finansial tidak pernah terasa cukup.

Target tabungan sudah tercapai, tetapi tetap merasa kurang. Penghasilan meningkat, tetapi kecemasan tidak ikut berkurang.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin perlu mendefinisikan ulang arti “aman” secara lebih konkret.

Keamanan finansial seharusnya memberikan rasa tenang, bukan menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

9. Sulit Menikmati Kemewahan Kecil

Kebiasaan lain yang dapat terbawa hingga dewasa adalah merasa bahwa hal-hal yang nyaman atau sedikit lebih mahal selalu tidak perlu.

Misalnya, seseorang terus memilih pilihan paling murah meskipun kualitasnya jauh lebih rendah atau membeli sesuatu berkali-kali karena enggan membeli produk yang lebih tahan lama.

Hemat memang baik, tetapi murah tidak selalu berarti paling ekonomis dalam jangka panjang.

Belajar mempertimbangkan kualitas, manfaat, usia penggunaan, dan kemampuan finansial dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih rasional.

Mengeluarkan uang untuk sesuatu yang memang memberikan nilai bukan berarti meninggalkan prinsip hidup sederhana.

10. Selalu Memikirkan Kemungkinan Terburuk

Pengalaman masa kecil dapat membuat seseorang terbiasa mempersiapkan diri terhadap skenario terburuk.

Jika dahulu kondisi finansial keluarga mudah berubah, kewaspadaan tersebut mungkin menjadi mekanisme untuk merasa aman.

Saat dewasa, kebiasaan mempersiapkan dana darurat, memiliki rencana cadangan, dan mempertimbangkan risiko dapat menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat.

Namun, jika setiap keputusan selalu didominasi ketakutan terhadap kemungkinan buruk, kehidupan dapat terasa penuh kecemasan.

Tujuan dari perencanaan finansial bukan membuat seseorang takut menggunakan uang, melainkan memberikan struktur agar uang dapat digunakan dengan lebih tenang dan terarah.

Masa Kecil Membentuk Kebiasaan, tetapi Tidak Harus Menentukan Masa Depan

Tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan finansial dapat meninggalkan berbagai pelajaran mengenai uang. 

Sebagian di antaranya sangat bermanfaat, seperti kemampuan berhemat, menghargai barang, menghindari pemborosan, dan memahami pentingnya dana cadangan.

Namun, beberapa kebiasaan juga dapat menjadi terlalu ekstrem ketika kondisi kehidupan sudah berubah.

Seseorang tidak perlu merasa malu dengan latar belakang ekonominya. Pengalaman masa kecil merupakan bagian dari perjalanan hidup, tetapi tidak harus menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupan finansialnya ketika dewasa.

Hal yang paling penting adalah mengenali pola tersebut dan bertanya kepada diri sendiri: “Apakah kebiasaan ini masih membantu saya, atau justru membuat saya takut menggunakan dan menikmati hasil kerja saya?”

Dengan pemahaman finansial yang lebih baik, seseorang dapat mempertahankan kebiasaan hemat yang sehat sekaligus melepaskan ketakutan yang tidak lagi diperlukan.

Pada akhirnya, kaya secara finansial bukan hanya tentang memiliki banyak uang, tetapi juga memiliki hubungan yang sehat dengan uang—mampu menabung ketika diperlukan, membelanjakannya dengan bijak, membantu orang lain sesuai kemampuan, dan menikmati hasil kerja tanpa dihantui rasa bersalah.

***

 
EDITOR: Novia Tri Astuti