← Beranda
8 Kesalahan Kecil yang Sering Dilakukan Saat Bepergian, Nomor 4 Bisa Bikin Pedagang Tak Nyaman
Lania MonicaJumat, 28 Agustus 2026 | 03.05 WIB
Ilustrasi orang kelas menengah saat bepergian (freepik)

JawaPos.com - Bepergian ke tempat baru seharusnya menjadi kesempatan untuk menikmati suasana, mengenal budaya, sekaligus mendapatkan pengalaman yang berbeda. Namun, beberapa kebiasaan yang dilakukan selama perjalanan justru dapat membuat liburan terasa kurang nyaman.

Hal tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi seseorang. Kebiasaan traveling lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan mengenai budaya setempat, serta cara seseorang mempersiapkan perjalanan.

Dilansir dari laman Geediting, ada sejumlah kebiasaan yang kerap dilakukan wisatawan ketika bepergian dan tanpa disadari dapat menimbulkan kesan tertentu bagi orang lain. Berikut di antaranya.

Baca Juga: 7 Sifat Ini Dimiliki oleh Orang-orang yang Hobinya Travelling, Psikologi Ungkapkan Hal Tak Terduga

1. Memberikan Tip Terlalu Besar

Memberikan tip merupakan salah satu cara untuk mengapresiasi pelayanan. Namun, nominal yang terlalu besar belum tentu selalu memberikan kesan positif.

Di sejumlah negara atau daerah, aturan mengenai pemberian tip bisa berbeda. Memberikan tip secara berlebihan karena takut dianggap pelit justru berpotensi menunjukkan bahwa seseorang belum memahami kebiasaan lokal.

Karena itu, sebaiknya cari tahu terlebih dahulu mengenai budaya tipping di tempat tujuan agar pemberian tip tetap sesuai dan tidak menimbulkan salah persepsi.

2. Membawa Terlalu Banyak Barang

Kebiasaan membawa barang secara berlebihan atau overpacking cukup sering terjadi, terutama ketika seseorang ingin mengantisipasi berbagai kemungkinan selama perjalanan.

Pakaian untuk berbagai cuaca, perlengkapan tambahan, hingga barang yang sebenarnya jarang digunakan akhirnya memenuhi koper. Selain merepotkan saat berpindah tempat, koper yang terlalu berat juga dapat mengurangi kenyamanan.

Membuat daftar kebutuhan dan menyesuaikannya dengan durasi serta kondisi destinasi bisa menjadi solusi agar barang bawaan lebih efisien.

3. Hanya Mendatangi Destinasi Terkenal

Tempat wisata populer memang memiliki daya tarik tersendiri. Namun, jika seluruh perjalanan hanya dihabiskan di lokasi yang ramai wisatawan, kesempatan untuk mengenal kehidupan lokal bisa menjadi terbatas.

Sesekali, wisatawan dapat mencoba mengeksplorasi kawasan yang lebih tenang, mencicipi kuliner setempat, atau mengunjungi tempat yang biasa didatangi masyarakat lokal.

Dengan begitu, pengalaman perjalanan tidak hanya berkutat pada objek wisata yang sudah banyak dikenal.

4. Terlalu Keras Menawar Harga

Menawar merupakan hal yang lumrah di sejumlah pasar tradisional. Akan tetapi, cara menawar juga perlu memperhatikan kondisi dan budaya setempat.

Menekan harga secara berlebihan demi mendapatkan harga termurah dapat membuat pedagang merasa tidak dihargai, terutama ketika selisih harga yang diperdebatkan sebenarnya tidak terlalu besar.

Menawar dengan sopan dan tetap mempertimbangkan kewajaran harga menjadi pilihan yang lebih baik.

5. Tidak Mau Mencoba Kuliner Lokal

Salah satu pengalaman menarik ketika bepergian adalah mencicipi makanan khas daerah tujuan. Sayangnya, sebagian wisatawan justru memilih makanan yang sudah familiar karena merasa lebih aman.

Padahal, kuliner dapat menjadi bagian penting dari pengalaman budaya. Mencoba hidangan lokal memungkinkan wisatawan mengenal cita rasa, bahan makanan, serta kebiasaan masyarakat di daerah tersebut.

Jika khawatir tidak cocok, wisatawan bisa mencoba dalam porsi kecil terlebih dahulu.

6. Terlalu Sibuk Mengambil Foto dan Video

Mengabadikan perjalanan melalui foto maupun video tentu bukan hal yang salah. Dokumentasi bahkan dapat menjadi kenang-kenangan berharga.

Masalahnya muncul ketika seseorang terlalu fokus pada kamera atau ponsel hingga lupa menikmati suasana secara langsung. Akibatnya, perjalanan justru terasa seperti aktivitas membuat konten.

Sebaiknya, luangkan waktu untuk menyimpan perangkat dan benar-benar menikmati pemandangan, suara, makanan, maupun interaksi yang terjadi di sekitar.

7. Membuat Itinerary Terlalu Padat

Keinginan mengunjungi sebanyak mungkin tempat dalam satu perjalanan dapat membuat jadwal menjadi sangat penuh.

Alih-alih menikmati liburan, wisatawan justru harus terus mengejar waktu dari satu destinasi ke destinasi berikutnya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan dan mengurangi kesempatan untuk menikmati setiap tempat secara maksimal.

Itinerary yang lebih fleksibel biasanya memberikan ruang untuk beristirahat, menghadapi perubahan rencana, atau menemukan tempat menarik secara spontan.

8. Gengsi Meminta Bantuan

Tersesat, tidak memahami transportasi umum, atau kebingungan membaca petunjuk merupakan hal yang bisa dialami siapa saja ketika berada di tempat asing.

Namun, sebagian orang enggan bertanya karena takut dianggap tidak tahu atau tidak mampu. Padahal, meminta bantuan justru dapat menjadi kesempatan untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat.

Selama dilakukan dengan sopan, bertanya kepada orang lain bukanlah tanda kelemahan. Bahkan, interaksi sederhana tersebut terkadang justru menghasilkan pengalaman perjalanan yang paling berkesan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho