Pikiran-pikiran seperti itu dapat muncul meskipun pasangan sebenarnya tidak memberikan alasan yang jelas untuk meragukan hubungan. Masalahnya bukan selalu pada pasangan, melainkan pada cara seseorang memandang dirinya sendiri dan menafsirkan berbagai situasi dalam hubungan.
Rasa tidak percaya diri dalam hubungan juga bisa membuat seseorang menjadi terlalu banyak berpikir. Pesan yang belum dibalas beberapa jam dapat dianggap sebagai tanda bahwa pasangan mulai berubah. Perubahan kecil dalam cara berbicara bisa ditafsirkan sebagai hilangnya rasa sayang. Bahkan ketika pasangan memberikan perhatian, seseorang yang sedang merasa insecure terkadang tetap mencari-cari tanda bahwa dirinya tidak cukup baik.
Jika dibiarkan, pola seperti ini dapat melelahkan diri sendiri sekaligus memberikan tekanan pada hubungan.
Kabar baiknya, rasa percaya diri dalam hubungan bukan sesuatu yang sepenuhnya bawaan. Dalam psikologi, seseorang dapat belajar mengenali pikiran yang tidak membantu, membangun penghargaan terhadap diri sendiri, serta menciptakan hubungan yang lebih aman secara emosional.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (27/8), terdapat tujuh cara yang dapat membantu jika Anda kerap merasa kurang percaya diri saat bersama pasangan.
1. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain
Salah satu penyebab rasa tidak percaya diri adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Anda mungkin melihat seseorang yang menurut Anda lebih cantik, lebih tampan, lebih sukses, lebih pintar, lebih menarik, atau lebih pandai bergaul. Kemudian muncul pikiran, “Kalau pasangan melihat orang seperti itu, mungkin dia akan menyadari bahwa aku tidak ada apa-apanya.”
Padahal, perbandingan semacam itu sering kali tidak adil.
Anda membandingkan kehidupan nyata Anda—lengkap dengan kekurangan, ketakutan, dan kegagalan—dengan gambaran orang lain yang hanya Anda lihat dari luar. Di media sosial, misalnya, seseorang dapat terlihat sangat bahagia, menarik, dan sempurna, tetapi Anda tidak mengetahui keseluruhan kehidupannya.
Hubungan juga bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang paling sempurna.
Pasangan memilih untuk bersama Anda bukan semata-mata berdasarkan penampilan, pekerjaan, jumlah uang, atau kemampuan Anda dibandingkan orang lain. Hubungan terbentuk dari banyak hal: kecocokan, rasa nyaman, komunikasi, pengalaman bersama, nilai-nilai, perhatian, kepercayaan, dan kedekatan emosional.
Ketika mulai membandingkan diri, cobalah mengubah pertanyaan.
Daripada bertanya, “Apa yang dimiliki orang lain tetapi tidak aku miliki?”, tanyakan:
“Apa yang membuat diriku berharga sebagai pasangan?”
Pertanyaan ini membantu mengarahkan perhatian dari kekurangan menuju kualitas diri yang selama ini mungkin Anda abaikan.
2. Bedakan antara fakta dan asumsi
Orang yang sedang merasa tidak percaya diri sering kali memperlakukan asumsi seolah-olah merupakan fakta.
Contohnya, pasangan terlihat lebih pendiam dari biasanya.
Faktanya hanya satu: pasangan sedang lebih pendiam.
Namun pikiran Anda mungkin langsung membuat cerita:
“Dia pasti sedang bosan denganku.”
Kemudian muncul pikiran lain:
“Mungkin perasaannya sudah berubah.”
Lalu berkembang menjadi:
“Sebentar lagi dia akan meninggalkanku.”
Dalam beberapa menit, sebuah kejadian sederhana dapat berkembang menjadi kesimpulan yang sangat jauh.
Karena itu, ketika merasa cemas dalam hubungan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan:
“Apa yang benar-benar aku ketahui, dan apa yang hanya sedang aku asumsikan?”
Misalnya:
Fakta: pasangan belum membalas pesan selama beberapa jam.
Asumsi: pasangan sengaja mengabaikan saya.
Fakta: pasangan terlihat lelah.
Asumsi: pasangan sudah tidak nyaman bersama saya.
Fakta: pasangan berbicara dengan teman lawan jenis.
Asumsi: pasangan pasti tertarik kepada orang tersebut.
Cara berpikir seperti ini membantu Anda tidak langsung bereaksi berdasarkan ketakutan.
Bukan berarti intuisi harus diabaikan. Jika memang terdapat pola perilaku yang mengkhawatirkan, hal tersebut tetap perlu diperhatikan. Namun, membedakan fakta dari asumsi dapat mencegah Anda mengambil kesimpulan sebelum memiliki informasi yang cukup.
3. Bangun kehidupan yang tidak hanya berpusat pada pasangan
Hubungan yang sehat bukan berarti dua orang harus melakukan segala sesuatu bersama.
Ketika seluruh sumber kebahagiaan seseorang bergantung pada pasangan, rasa takut kehilangan dapat menjadi semakin besar. Anda mungkin merasa gelisah ketika pasangan sedang sibuk, kesepian ketika tidak bertemu, atau merasa hidup kehilangan arah ketika pasangan tidak memberikan perhatian.
Karena itu, penting untuk tetap memiliki kehidupan pribadi.
Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai. Temui teman. Kembangkan keterampilan. Jalankan hobi. Fokus pada pekerjaan atau pendidikan. Berolahraga. Membaca. Bepergian. Atau sekadar menikmati waktu sendirian.
Tujuannya bukan untuk menjadi seseorang yang tidak membutuhkan pasangan.
Tujuannya adalah menyadari bahwa pasangan merupakan bagian penting dari kehidupan Anda, tetapi bukan satu-satunya sumber nilai dan kebahagiaan Anda.
Ketika kehidupan pribadi semakin kuat, Anda cenderung tidak terlalu bergantung pada validasi pasangan untuk merasa berharga.
Anda tetap bisa mencintai pasangan dengan dalam, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki identitas sebagai individu.
4. Jangan mencari kepastian secara terus-menerus
Ketika merasa insecure, seseorang biasanya ingin mendapatkan kepastian.
“Kamu masih sayang aku, kan?”
“Kamu benar-benar bahagia sama aku?”
“Kamu nggak akan ninggalin aku, kan?”
Sesekali membutuhkan reassurance adalah hal yang manusiawi. Masalah muncul ketika kebutuhan tersebut menjadi berulang dan tidak pernah terasa cukup.
Pasangan sudah mengatakan bahwa mereka mencintai Anda, tetapi beberapa jam kemudian kecemasan muncul lagi. Anda kembali bertanya. Setelah mendapatkan jawaban, Anda merasa lega. Namun tidak lama kemudian keraguan kembali muncul.
Ini dapat membentuk sebuah siklus: cemas → mencari kepastian → merasa lega → cemas lagi.
Karena itu, ketika muncul keinginan untuk segera meminta kepastian, cobalah memberikan waktu kepada diri sendiri.
Tarik napas dan tanyakan:
“Apakah aku sedang membutuhkan informasi yang benar-benar penting, atau sedang berusaha menenangkan rasa takutku?”
Jika memang ada sesuatu yang perlu dibicarakan, komunikasikan dengan jelas. Namun jika hanya kecemasan yang berulang, belajar menenangkan diri sendiri dapat menjadi keterampilan yang jauh lebih bermanfaat.
5. Perbaiki cara berbicara kepada diri sendiri
Perhatikan bagaimana Anda berbicara kepada diri sendiri ketika merasa tidak percaya diri.
Mungkin Anda mengatakan:
“Aku memang tidak menarik.”
“Aku terlalu banyak kekurangan.”
“Siapa juga yang mau sama aku?”
“Aku pasti akan ditinggalkan.”
Jika seorang teman dekat mengatakan hal yang sama tentang dirinya, kemungkinan Anda tidak akan menjawab, “Iya, kamu memang seburuk itu.”
Anda mungkin justru mengatakan bahwa dia terlalu keras kepada dirinya sendiri.
Cobalah memberikan standar empati yang sama kepada diri sendiri.
Alih-alih berkata:
“Aku tidak cukup baik.”
ubah menjadi:
“Aku sedang merasa tidak cukup baik, tetapi perasaan itu bukan bukti bahwa aku memang tidak berharga.”
Ini adalah perbedaan yang penting.
Perasaan tidak selalu menggambarkan kenyataan secara akurat. Anda boleh merasa takut, cemburu, atau tidak aman tanpa harus langsung mempercayai semua pikiran yang muncul dari perasaan tersebut.
6. Komunikasikan kebutuhan tanpa menyalahkan pasangan
Membangun kepercayaan diri bukan berarti Anda harus memendam semua perasaan.
Dalam hubungan yang sehat, Anda tetap dapat mengatakan ketika ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman.
Namun, cara menyampaikannya sangat penting.
Bandingkan dua kalimat berikut.
“Kamu memang selalu bikin aku merasa tidak penting.”
dengan:
“Belakangan ini aku merasa kurang aman dan ingin membicarakannya supaya kita bisa saling memahami.”
Kalimat kedua tidak langsung menyerang pasangan. Anda menjelaskan perasaan sekaligus membuka ruang untuk berdiskusi.
Komunikasi seperti ini dapat membantu pasangan memahami apa yang sedang Anda alami tanpa membuat mereka merasa harus terus-menerus membuktikan cintanya.
Namun perlu diingat, komunikasi yang sehat membutuhkan dua orang.
Jika pasangan secara konsisten meremehkan perasaan Anda, memanipulasi, berbohong, mengontrol, atau membuat Anda merasa tidak berharga, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semua masalah berasal dari rasa insecure Anda.
Terkadang rasa tidak aman muncul karena memang ada perilaku dalam hubungan yang perlu dievaluasi.
7. Bangun rasa berharga yang tidak bergantung pada hubungan
Pada akhirnya, kepercayaan diri dalam hubungan akan lebih kuat ketika harga diri Anda tidak sepenuhnya bergantung pada status hubungan.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Siapa saya ketika tidak sedang menjadi pasangan seseorang?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut penting.
Anda memiliki nilai bukan hanya karena seseorang mencintai Anda.
Anda tetap memiliki kemampuan, karakter, pengalaman, impian, prinsip, dan kualitas yang membuat Anda menjadi diri sendiri.
Pasangan dapat mencintai Anda, tetapi pasangan tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan Anda merasa layak dicintai.
Semakin kuat penghargaan Anda terhadap diri sendiri, semakin kecil kemungkinan Anda melihat setiap perubahan kecil dalam hubungan sebagai ancaman terhadap harga diri.
Anda mulai memahami bahwa dicintai memang menyenangkan, tetapi nilai diri Anda tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang memberikan validasi kepada Anda.
Rasa percaya diri bukan berarti tidak pernah merasa takut
Penting untuk memahami bahwa menjadi percaya diri bukan berarti Anda tidak pernah merasa cemburu, takut kehilangan, atau membutuhkan kepastian.
Manusia tetap memiliki kerentanan.
Perbedaannya adalah bagaimana Anda merespons kerentanan tersebut.
Seseorang yang lebih aman secara emosional mungkin tetap merasa takut ketika pasangan terlambat membalas pesan. Namun ia tidak langsung menyimpulkan bahwa hubungan sedang berakhir.
Ia mampu berhenti, mengenali emosinya, mempertimbangkan kemungkinan lain, dan kemudian memilih respons yang lebih sehat.
Itulah keterampilan yang perlu dibangun.
Jadi, jika Anda kerap merasa kurang percaya diri ketika bersama pasangan, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.
Mulailah dari hal-hal sederhana: berhenti membandingkan diri, bedakan fakta dan asumsi, bangun kehidupan pribadi, kurangi kebutuhan akan reassurance yang berulang, ubah cara berbicara kepada diri sendiri, komunikasikan kebutuhan dengan sehat, dan bangun rasa berharga yang tidak sepenuhnya bergantung pada pasangan.
Hubungan yang sehat bukan tentang menjadi manusia yang sempurna dan tidak pernah merasa insecure.
Hubungan yang sehat adalah ketika dua orang dapat merasa dicintai sekaligus tetap memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri.