Menariknya, meskipun menyadari bahwa hubungan tersebut menyakitkan, banyak orang tetap memilih untuk terhubung dengan orang tua mereka. Mereka tetap menelepon, mengunjungi rumah, membantu secara finansial, atau berusaha mempertahankan hubungan—bahkan ketika interaksi tersebut sering membuat mereka lelah secara emosional.
Dari sudut pandang psikologi, kondisi ini sebenarnya cukup masuk akal. Memutus hubungan dengan orang tua bukanlah keputusan sederhana. Ada ikatan emosional, pengalaman masa kecil, kebutuhan akan penerimaan, norma keluarga, hingga harapan bahwa suatu hari orang tua akan berubah.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (25/8), terdapat tujuh alasan mengapa seseorang bisa tetap terhubung dengan orang tua yang toxic.
1. Ikatan emosional sejak masa kanak-kanak sangat kuat
Salah satu alasan paling mendasar adalah adanya ikatan yang terbentuk sejak seseorang masih kecil.
Orang tua biasanya merupakan figur yang pertama kali memberikan perhatian, perlindungan, makanan, tempat tinggal, dan rasa aman. Karena itu, hubungan anak dengan orang tua tidak hanya terbentuk berdasarkan bagaimana orang tua memperlakukan anak saat dewasa, tetapi juga berdasarkan pengalaman emosional yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Dalam psikologi perkembangan, hubungan awal dengan pengasuh dapat memengaruhi cara seseorang memahami kedekatan, kepercayaan, dan hubungan interpersonal.
Itulah sebabnya seseorang mungkin berpikir, "Aku tahu dia sering menyakitiku, tetapi dia tetap orang tuaku."
Ada konflik antara dua hal: pengalaman buruk yang dialami sekarang dan ikatan emosional yang terbentuk selama puluhan tahun.
Seseorang bisa merasa marah kepada orang tuanya sekaligus tetap menyayangi mereka. Ia bisa merasa kecewa tetapi masih berharap mendapatkan perhatian. Ia bahkan bisa ingin menjauh tetapi merasa bersalah ketika benar-benar mengambil jarak.
Perasaan yang tampaknya bertentangan tersebut bukan sesuatu yang aneh.
Hubungan dengan orang tua biasanya bukan sekadar hubungan antara dua orang dewasa. Di dalamnya terdapat sejarah panjang yang dimulai ketika seseorang masih menjadi anak yang sangat bergantung kepada orang tuanya.
Karena itu, keputusan untuk menjauh sering kali terasa jauh lebih berat dibandingkan menjauh dari teman, pasangan, atau rekan kerja yang toxic.
2. Masih ada harapan bahwa orang tua akan berubah
Alasan kedua adalah harapan.
Banyak orang yang memiliki orang tua toxic tetap mempertahankan hubungan karena mereka masih berharap suatu hari orang tuanya akan berubah.
Harapan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk.
"Semoga nanti dia sadar."
"Mungkin setelah aku menjelaskan semuanya, dia akan mengerti."
"Dia sebenarnya tidak seburuk itu."
"Mungkin ketika usianya semakin tua, dia akan lebih lembut."
"Barangkali suatu saat kami bisa memiliki hubungan yang normal."
Harapan seperti ini dapat membuat seseorang terus mencoba memperbaiki hubungan meskipun berkali-kali mengalami kekecewaan.
Dalam banyak kasus, yang dipertahankan bukan hanya hubungan dengan orang tua yang ada sekarang, tetapi juga harapan terhadap sosok orang tua yang diinginkan.
Seseorang mungkin membayangkan memiliki orang tua yang bisa diajak berbicara tanpa takut dihakimi, memberikan dukungan ketika sedang kesulitan, atau mengatakan bahwa mereka bangga terhadap dirinya.
Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, harapan bahwa suatu hari kebutuhan itu akan terpenuhi dapat membuat seseorang sulit melepaskan hubungan.
Ini juga menjelaskan mengapa seseorang bisa berulang kali memberikan kesempatan kepada orang tua yang sama.
Bukan selalu karena ia tidak menyadari perilaku toxic tersebut, melainkan karena ia masih berharap hubungan itu akhirnya menjadi seperti yang selama ini ia inginkan.
3. Rasa bersalah membuat seseorang sulit menjauh
Rasa bersalah adalah salah satu faktor yang sangat kuat dalam hubungan keluarga.
Sejak kecil, banyak anak mendapatkan pesan bahwa mereka harus menghormati orang tua, berbakti kepada orang tua, dan tidak boleh membantah.
Nilai-nilai tersebut pada dasarnya dapat menjadi bagian penting dalam keluarga. Namun, dalam hubungan yang tidak sehat, konsep tersebut terkadang digunakan untuk membuat seseorang merasa bersalah ketika mulai menetapkan batasan.
Misalnya, ketika seorang anak dewasa mencoba mengurangi komunikasi, orang tua mungkin mengatakan:
"Kamu sudah tidak peduli dengan orang tua."
"Setelah semua yang kami lakukan untukmu, begini balasanmu?"
"Kamu anak durhaka."
"Kalau nanti kami tidak ada, kamu akan menyesal."
Ucapan seperti itu dapat membuat seseorang mempertanyakan keputusannya sendiri.
Padahal, menetapkan batasan tidak selalu berarti membenci atau meninggalkan orang tua.
Seseorang bisa mencintai orang tuanya sekaligus membatasi interaksi yang membuatnya terluka.
Masalahnya, bagi orang yang sejak kecil terbiasa memenuhi kebutuhan emosional orang tua atau menjaga suasana keluarga tetap tenang, mengatakan "tidak" dapat terasa sangat menakutkan.
Ia mungkin merasa bertanggung jawab terhadap emosi orang tuanya.
Ketika orang tua marah, ia merasa harus memperbaikinya.
Ketika orang tua kecewa, ia merasa dirinya bersalah.
Ketika orang tua sedih, ia merasa wajib mengorbankan dirinya.
Pola semacam ini dapat membuat seseorang tetap terhubung bukan karena hubungan tersebut sehat, melainkan karena rasa bersalah membuatnya sulit mengambil jarak.
4. Norma budaya dan tekanan keluarga ikut berperan
Keputusan seseorang untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua juga tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial dan budaya.
Dalam banyak keluarga, hubungan dengan orang tua dianggap sebagai sesuatu yang harus dipertahankan apa pun kondisinya.
Ada tekanan untuk tetap mengunjungi orang tua, menghadiri acara keluarga, membantu mereka secara finansial, atau tetap terlihat sebagai keluarga yang harmonis.
Akibatnya, seseorang mungkin merasa bahwa memutus atau mengurangi hubungan akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Ia tidak hanya harus berhadapan dengan orang tuanya, tetapi juga dengan saudara, pasangan, keluarga besar, atau lingkungan sosial.
Misalnya, seseorang mungkin sudah merasa bahwa hubungannya dengan orang tua sangat melelahkan. Namun, ketika keluarga besar mengatakan, "Bagaimanapun dia tetap ibumu," orang tersebut kembali meragukan keputusannya.
Tekanan semacam ini dapat membuat seseorang memilih hubungan dengan tingkat kontak yang lebih rendah daripada benar-benar memutus hubungan.
Dalam psikologi sosial, perilaku manusia memang sangat dipengaruhi oleh norma dan ekspektasi kelompok.
Karena itu, mempertahankan hubungan dengan orang tua tidak selalu berarti seseorang menganggap perilaku orang tuanya dapat diterima. Bisa saja ia sedang berusaha menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan ekspektasi keluarga dan masyarakat.
5. Ketergantungan emosional atau finansial masih ada
Tidak semua orang memiliki kebebasan penuh untuk menjauh dari orang tua.
Ada orang yang masih bergantung secara finansial.
Ada yang masih tinggal serumah.
Ada yang membutuhkan bantuan untuk mengurus anak.
Ada pula yang secara emosional masih sangat membutuhkan penerimaan dari orang tua.
Ketergantungan seperti ini dapat membuat pilihan seseorang menjadi jauh lebih kompleks.
Secara teori, seseorang mungkin tahu bahwa menjaga jarak akan membuat hidupnya lebih tenang. Namun secara praktis, ia mungkin belum memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukannya.
Contohnya, seorang anak dewasa yang belum memiliki pekerjaan stabil mungkin tetap berhubungan dengan orang tua karena masih membutuhkan tempat tinggal atau bantuan finansial.
Begitu pula seseorang yang secara emosional masih sangat menginginkan pengakuan dari orang tua mungkin terus mencari persetujuan mereka meskipun berkali-kali merasa kecewa.
Dalam kondisi seperti ini, mengatakan "tinggalkan saja orang tuamu" terlalu sederhana.
Hubungan keluarga sering kali melibatkan kebutuhan nyata, bukan hanya perasaan.
Karena itu, bagi sebagian orang, membangun kemandirian secara bertahap mungkin menjadi langkah yang lebih realistis daripada memutus hubungan secara tiba-tiba.
6. Pola hubungan yang tidak sehat sudah terasa "normal"
Ini merupakan salah satu alasan yang sering tidak disadari.
Seseorang yang sejak kecil tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik, manipulasi, konflik, atau ketidakstabilan emosional dapat terbiasa dengan pola tersebut.
Bukan berarti ia menyukai perlakuan buruk.
Masalahnya adalah sesuatu yang sudah dikenal sering kali terasa lebih mudah dipahami daripada sesuatu yang benar-benar baru.
Jika sejak kecil seseorang terbiasa mendengar bentakan, ia mungkin menganggap konflik sebagai bagian normal dari hubungan.
Jika sejak kecil ia harus terus menebak suasana hati orang tua, ia mungkin menjadi sangat terbiasa membaca ekspresi dan perubahan emosi orang lain.
Jika kasih sayang selalu diberikan ketika ia memenuhi ekspektasi orang tua, ia mungkin belajar bahwa cinta harus diperoleh dengan menjadi "anak yang baik."
Pola tersebut dapat terbawa ke masa dewasa.
Akibatnya, seseorang mungkin tetap mempertahankan hubungan dengan orang tua karena pola tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan yang dikenalnya.
Di sisi lain, hubungan yang sehat justru bisa terasa asing.
Ini bukan berarti seseorang ditakdirkan untuk mengulangi pola tersebut selamanya. Kesadaran terhadap pola merupakan langkah penting untuk mulai mengubahnya.
7. Masih ada kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan dari orang tua
Alasan terakhir berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk merasa diterima.
Banyak orang yang tumbuh dengan orang tua yang kritis atau tidak memberikan validasi emosional tetap membawa satu pertanyaan sampai dewasa:
"Apakah aku cukup baik untuk mereka?"
Pertanyaan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk.
Seseorang mungkin mengejar prestasi untuk membuktikan dirinya.
Ia mungkin berusaha mendapatkan pekerjaan yang dianggap membanggakan.
Ia mungkin terus meminta persetujuan orang tua terhadap pilihan hidupnya.
Atau ia mungkin berusaha menjadi anak yang sempurna agar akhirnya mendapatkan kasih sayang yang selama ini dirindukan.
Ironisnya, kebutuhan tersebut justru dapat membuat seseorang semakin sulit melepaskan hubungan.
Ia mungkin berpikir bahwa jika berhasil mendapatkan penerimaan orang tua, semua rasa sakit masa lalu akhirnya akan terasa memiliki makna.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami: penerimaan dari orang tua bukan satu-satunya sumber harga diri seseorang.
Menjadi orang dewasa berarti perlahan belajar membangun penilaian terhadap diri sendiri, bukan terus-menerus menunggu validasi dari orang lain.
Termasuk dari orang tua.
Tetap terhubung bukan berarti membenarkan perilaku toxic
Hal yang penting untuk dipahami adalah bahwa mempertahankan hubungan dengan orang tua tidak otomatis berarti seseorang lemah atau tidak memahami situasinya.
Sebaliknya, memutus hubungan juga bukan satu-satunya tanda bahwa seseorang sudah sembuh.
Setiap situasi keluarga berbeda.
Ada orang yang memilih tetap berhubungan tetapi menetapkan batasan yang tegas. Ada yang mengurangi frekuensi komunikasi. Ada yang hanya bertemu dalam situasi tertentu. Ada pula yang merasa perlu mengambil jarak yang sangat jauh.
Yang terpenting adalah apakah hubungan tersebut masih memungkinkan seseorang menjalani hidup dengan aman dan sehat secara emosional.
Batasan dapat berbentuk sederhana.
Misalnya, seseorang tidak lagi melayani percakapan ketika orang tua mulai menghina. Ia dapat mengakhiri telepon ketika percakapan berubah menjadi manipulatif. Ia dapat memilih informasi pribadi apa yang ingin dibagikan. Ia juga dapat menentukan seberapa sering ingin bertemu.
Batasan bukan hukuman.
Batasan adalah cara seseorang menentukan bagaimana dirinya ingin diperlakukan.
Mengapa memahami alasan ini penting?
Memahami alasan seseorang tetap terhubung dengan orang tua yang toxic dapat membantu kita menghindari penilaian yang terlalu sederhana.
Kalimat seperti "kalau memang toxic, kenapa tidak pergi saja?" mungkin terdengar logis dari luar, tetapi tidak selalu menggambarkan kompleksitas hubungan keluarga.
Di balik hubungan tersebut bisa terdapat puluhan tahun pengalaman, kebutuhan akan kasih sayang, rasa bersalah, ketergantungan finansial, norma keluarga, dan harapan yang belum selesai.
Karena itu, proses membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang tua sering kali bukan tentang mengambil keputusan ekstrem secepat mungkin.
Bagi sebagian orang, prosesnya justru dimulai dengan mengenali pola, memahami kebutuhan diri, membangun kemandirian, menetapkan batasan, dan menerima kenyataan bahwa seseorang mungkin tidak akan pernah mendapatkan orang tua seperti yang selama ini diharapkannya.
Pada akhirnya, tujuan utama bukan selalu memutus hubungan.
Tujuannya adalah memiliki hubungan yang lebih sehat—atau, jika hubungan tersebut memang tidak memungkinkan, memiliki jarak yang membuat seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih aman dan tenang.
Dan satu hal yang penting: mencintai orang tua tidak berarti seseorang harus menerima semua perlakuan dari mereka.
Seseorang tetap dapat menghargai hubungan keluarganya sambil mengatakan, "Perlakuan ini tidak bisa aku terima."