← Beranda
7 Cara Tetap Tenang Saat Menghadapi Orang yang Memaksa Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Irfan FerdiansyahSelasa, 25 Agustus 2026 | 23.30 WIB
seseorang yang tetap tenang saat menghadapi orang yang memaksa. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah berhadapan dengan orang yang sulit menerima kata “tidak”. Mereka terus mendesak, mengulang permintaan, memaksa kita mengikuti keinginannya, atau bahkan membuat kita merasa bersalah ketika menolak.


Menghadapi orang seperti ini tidak selalu mudah. Semakin mereka menekan, semakin besar kemungkinan kita ikut terbawa emosi. Kita bisa menjadi marah, cemas, merasa bersalah, atau justru menyerah hanya agar situasi cepat selesai.

Padahal, tetap tenang bukan berarti kita lemah atau membiarkan orang lain mengendalikan kita. Dalam perspektif psikologi, ketenangan justru dapat membantu seseorang mempertahankan kendali atas responsnya, berpikir lebih jernih, dan menetapkan batasan secara lebih efektif.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (25/8), terdapat 7 cara tetap tenang saat menghadapi orang yang memaksa menurut prinsip-prinsip psikologi.

1. Jangan langsung bereaksi

Ketika seseorang memaksa, respons pertama yang muncul biasanya bersifat spontan. Kita mungkin langsung ingin membantah, meninggikan suara, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita katakan.

Psikologi mengenal respons terhadap tekanan sebagai bagian dari reaksi stres. Ketika merasa terancam atau ditekan, tubuh dapat menjadi lebih waspada dan emosi lebih mudah meningkat. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan mengambil keputusan secara rasional dapat ikut terganggu.

Karena itu, langkah pertama adalah memberi jeda sebelum merespons.

Tidak perlu langsung menjawab setiap tuntutan. Anda bisa menarik napas perlahan, diam beberapa detik, lalu mengatakan:

“Saya perlu memikirkannya dulu.”

Atau:

“Saya belum bisa memberikan jawaban sekarang.”

Jeda sederhana tersebut memberi kesempatan kepada pikiran untuk kembali lebih tenang. Anda tidak harus memenangkan percakapan. Anda hanya perlu memastikan bahwa respons yang diberikan merupakan pilihan sadar, bukan reaksi emosional.

2. Bedakan antara tekanan dan tanggung jawab

Orang yang memaksa terkadang menggunakan berbagai cara agar kita merasa bertanggung jawab atas keinginan mereka.

Misalnya:

“Kalau kamu peduli, kamu pasti mau.”
“Masa begitu saja tidak bisa?”
“Saya sudah meminta berkali-kali.”
“Kalau kamu menolak, saya akan kecewa.”
“Semua orang juga melakukannya.”

Kalimat seperti ini dapat membuat seseorang merasa bersalah. Akibatnya, kita mulai berpikir bahwa menolak berarti menjadi orang jahat atau tidak peduli.

Padahal, perasaan orang lain bukan selalu tanggung jawab kita.

Anda boleh memahami bahwa seseorang kecewa tanpa harus memenuhi keinginannya. Anda juga boleh berempati tanpa mengorbankan batas pribadi.

Cobalah membedakan dua hal:

“Saya memahami perasaannya” tidak sama dengan “Saya harus mengikuti keinginannya.”

Pemahaman ini penting karena rasa bersalah sering kali membuat seseorang menyerah pada tekanan, meskipun sebenarnya ia tidak menginginkannya.

3. Gunakan komunikasi asertif

Salah satu cara paling efektif menghadapi orang yang memaksa adalah komunikasi asertif.

Asertif berbeda dengan agresif maupun pasif.

Orang pasif cenderung mengalah meskipun merasa tidak nyaman. Sebaliknya, orang agresif berusaha memenangkan situasi dengan menekan atau menyerang orang lain. Komunikasi asertif berada di tengah: kita menyampaikan kebutuhan dan batasan dengan tegas tanpa harus merendahkan orang lain.

Contohnya:

“Saya mengerti kamu membutuhkan bantuan, tetapi saya tidak bisa melakukannya sekarang.”

Atau:

“Saya menghargai pendapatmu, tetapi keputusan ini tetap saya buat sendiri.”

Kalimat asertif biasanya singkat, jelas, dan tidak membutuhkan penjelasan berlebihan.

Semakin panjang kita memberikan alasan, semakin banyak pula celah yang mungkin digunakan orang lain untuk berdebat.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Sebenarnya saya mau, tetapi hari ini saya sedang capek, kemudian besok ada pekerjaan, dan mungkin nanti…”

Lebih baik mengatakan:

“Maaf, saya tidak bisa membantu kali ini.”

Ketegasan tidak membutuhkan kemarahan.

4. Jangan terjebak dalam perdebatan tanpa akhir

Orang yang memaksa terkadang tidak benar-benar mencari penjelasan. Mereka mencari celah agar kita mengubah keputusan.

Ketika kita memberikan alasan, mereka memberikan bantahan. Kita menjelaskan lagi, mereka mencari alasan lain. Akhirnya percakapan menjadi lingkaran yang melelahkan.

Dalam situasi seperti ini, Anda tidak selalu perlu memberikan argumen baru.

Gunakan teknik yang sering disebut broken record technique, yaitu mengulangi pesan utama secara konsisten tanpa terpancing untuk terus berdebat.

Contohnya:

“Saya mengerti, tetapi saya tetap tidak bisa.”

Jika dia kembali memaksa:

“Saya sudah memahami permintaanmu. Jawaban saya tetap sama.”

Jika tekanan berlanjut:

“Saya tidak ingin memperdebatkan hal ini. Keputusan saya tetap sama.”

Tujuan teknik ini bukan untuk membuat lawan bicara kalah. Tujuannya adalah menjaga batasan tetap konsisten.

5. Kendalikan respons tubuh dengan pernapasan

Ketika menghadapi tekanan, bukan hanya pikiran yang bereaksi. Tubuh juga dapat menunjukkan tanda-tanda stres: jantung berdebar, otot menegang, napas menjadi cepat, atau tubuh terasa gelisah.

Karena itu, salah satu cara sederhana untuk membantu menjaga ketenangan adalah memperhatikan pernapasan.

Cobalah bernapas secara perlahan. Misalnya, tarik napas dengan nyaman, kemudian hembuskan sedikit lebih panjang. Ulangi beberapa kali sambil melemaskan bahu dan rahang.

Yang terpenting bukan menghitung dengan angka tertentu, melainkan memperlambat respons tubuh dan memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak.

Anda juga dapat mengalihkan perhatian pada hal-hal yang dapat dikontrol: posisi tubuh, suara bicara, kecepatan berbicara, dan kata-kata yang ingin digunakan.

Ketika tubuh lebih tenang, Anda biasanya lebih mudah mempertahankan respons yang rasional.

6. Ingat bahwa mengatakan “tidak” tidak membutuhkan persetujuan semua orang

Salah satu alasan seseorang sulit menghadapi orang yang memaksa adalah keinginan untuk tetap disukai.

Kita ingin orang lain memahami keputusan kita. Kita berharap mereka tidak marah, tidak kecewa, dan tidak menganggap kita egois.

Masalahnya, kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain merespons batasan yang kita buat.

Anda bisa mengatakan “tidak” dengan sopan dan tetap membuat orang lain kecewa.

Keduanya dapat terjadi bersamaan.

Misalnya:

“Saya tahu kamu mungkin kecewa, tetapi saya tetap tidak bisa melakukannya.”

Kalimat tersebut menunjukkan sesuatu yang penting: menghargai perasaan seseorang tidak berarti menyerahkan kendali atas keputusan kita kepadanya.

Batasan yang sehat juga bukan berarti kita tidak peduli. Justru, batasan membantu hubungan menjadi lebih jelas karena setiap orang mengetahui apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan.

7. Jika tekanan terus berlanjut, ambil jarak

Tidak semua situasi harus diselesaikan melalui percakapan panjang.

Jika seseorang terus memaksa meskipun Anda sudah menyampaikan batasan dengan jelas, Anda memiliki pilihan untuk mengakhiri interaksi atau mengambil jarak.

Misalnya:

“Saya rasa pembicaraan ini tidak lagi produktif. Kita bisa membicarakannya nanti ketika sudah lebih tenang.”

Kemudian, jika memungkinkan, tinggalkan situasi tersebut.

Mengambil jarak bukan berarti melarikan diri. Dalam kondisi tertentu, justru itulah cara paling sehat untuk mencegah konflik semakin meningkat.

Terutama jika seseorang mulai berteriak, mengancam, menghina, mengintimidasi, atau mencoba mengontrol Anda secara berlebihan, fokus utama bukan lagi memenangkan argumen, tetapi menjaga keselamatan dan batas pribadi.

Jika situasinya terasa tidak aman, mencari bantuan dari orang yang dipercaya atau pihak yang berwenang dapat menjadi langkah yang lebih tepat.

Mengapa orang yang tenang justru sering lebih sulit ditekan?

Ketenangan memberikan keuntungan psikologis yang sederhana: kita memiliki lebih banyak ruang untuk memilih respons.

Orang yang panik cenderung ingin segera mengakhiri tekanan. Akibatnya, ia mungkin mengatakan “iya” hanya karena ingin situasi berhenti.

Sebaliknya, orang yang mampu menenangkan diri dapat berpikir:

“Apakah saya memang ingin melakukan ini, atau saya hanya takut menghadapi reaksinya?”

Pertanyaan tersebut sangat penting.

Dengan menyadari perbedaan antara keinginan pribadi dan respons terhadap tekanan, kita menjadi lebih mampu membuat keputusan berdasarkan nilai dan kebutuhan sendiri.

Ketenangan juga membantu kita menghindari pola komunikasi yang sama-sama merugikan: satu orang semakin memaksa, sementara yang lain semakin marah. Ketika kita tidak ikut menaikkan intensitas emosi, percakapan memiliki peluang lebih besar untuk berhenti pada batas yang sehat.

Contoh menghadapi orang yang terus memaksa

Bayangkan seorang teman terus meminta Anda meminjamkan uang. Anda sudah menolak, tetapi ia terus berkata:

“Cuma kali ini. Kamu kan teman saya.”

Daripada langsung marah atau merasa bersalah, Anda dapat merespons:

“Saya memahami kamu sedang membutuhkan bantuan, tetapi saya tidak bisa meminjamkan uang.”

Jika ia terus mendesak:

“Saya sudah menjawab. Saya tidak bisa membantu dalam bentuk itu.”

Jika masih dipaksa:

“Saya tidak ingin memperdebatkan keputusan ini. Kita bisa membicarakan hal lain.”

Perhatikan bahwa Anda tidak perlu menghina, membalas dengan kasar, atau membuat alasan yang semakin panjang.

Tenang. Singkat. Tegas. Konsisten.

Itulah inti menghadapi tekanan interpersonal.

Kesimpulan

Menghadapi orang yang memaksa memang dapat menguras energi, terutama ketika kita terbiasa menjaga perasaan orang lain atau merasa tidak enak untuk mengatakan “tidak”.

Namun, tetap tenang bukan berarti membiarkan diri dikendalikan.

Menurut prinsip psikologi, kita dapat menghadapi tekanan dengan lebih sehat melalui beberapa langkah: memberi jeda sebelum bereaksi, membedakan empati dari tanggung jawab, berkomunikasi secara asertif, menghindari perdebatan tanpa akhir, mengatur respons tubuh, menerima bahwa penolakan tidak selalu disukai orang lain, dan mengambil jarak ketika tekanan terus berlanjut.

Pada akhirnya, kita tidak selalu bisa mengendalikan perilaku orang lain. Tetapi kita masih dapat mengendalikan bagaimana kita meresponsnya.

Dan terkadang, kalimat paling kuat bukanlah kalimat yang paling keras.

Melainkan kalimat sederhana yang disampaikan dengan tenang:

“Saya memahami keinginanmu, tetapi keputusan saya tetap sama.
 
***
EDITOR: Novia Tri Astuti