← Beranda
Cek Apakah Kamu Punya! 7 Hobi Ini Menandakan Kamu Memiliki Mental dan Emosional yang Tangguh
Cicilia MargaretthaJumat, 21 Agustus 2026 | 01.23 WIB
Aktivitas berkebun dan terapi hortikultura. (Pexels)

 

 

JawaPos.com - Ketangguhan mental dan emosional tidak selalu terlihat dari kemampuan seseorang menghadapi masalah besar.

Dalam kehidupan sehari-hari, cara seseorang mengisi waktu luang dan merawat dirinya juga dapat berperan dalam menjaga kesejahteraan psikologis.

Hobi sering dianggap sekadar aktivitas untuk mengusir bosan. Padahal, kegiatan yang dilakukan secara rutin dan menyenangkan dapat memberi ruang untuk beristirahat dari tekanan, mengekspresikan emosi, hingga membangun kebiasaan positif.

Melansir dari laman YourTango pada Kamis (20/08), menyebutkan ada tujuh hobi yang sering diprioritaskan oleh orang dengan mental dan emosional yang kuat.

Meski demikian, memiliki atau tidak memiliki hobi tertentu bukanlah alat diagnosis untuk menilai kesehatan mental seseorang.

Keterlibatan dalam berbagai aktivitas waktu luang berkaitan dengan kesehatan mental, dengan resiliensi menjadi salah satu faktor yang dapat menjelaskan hubungan tersebut.

Peneliti menyebut emosi positif dari aktivitas rekreasi berpotensi membantu membangun sumber daya psikologis untuk menghadapi stres.

Berikut tujuh hobi yang disebut dapat membantu seseorang merasa lebih bahagia dan menjaga ketahanan mental serta emosional:

1. Berjalan Kaki

Berjalan kaki menjadi aktivitas sederhana yang dapat dilakukan hampir di mana saja dan kapanpun.

Selain menggerakkan tubuh, berjalan dapat menjadi waktu untuk menenangkan pikiran, mengatur emosi, dan mengambil jarak sejenak dari tekanan sehari-hari.

Aktivitas berjalan kaki juga dapat memberikan ruang mental untuk berpikir lebih jernih dan kreatif.

2. Berkebun

Tidak harus memiliki halaman luas, merawat tanaman di balkon, teras, bahkan ambang jendela juga dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Aktivitas berkebun dan terapi hortikultura secara umum menunjukkan dampak positif terhadap kesejahteraan dan kualitas hidup.

3. Bernyanyi

Bernyanyi, termasuk saat sendirian, dapat menjadi sarana mengekspresikan berbagai emosi.

Lagu yang dipilih dapat membangkitkan rasa gembira, nostalgia, atau bahkan membantu seseorang meluapkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

4. Membaca

Membaca memberi kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas dan melihat pengalaman dari sudut pandang yang berbeda.

Baik fiksi maupun nonfiksi, buku dapat menjadi sarana belajar sekaligus hiburan. Merangsang pikiran, memperluas perspektif, dan membantu memahami pengalaman orang lain.

5. Menari

Menari tidak harus dilakukan secara profesional. Bergerak mengikuti musik favorit di rumah juga dapat menjadi cara untuk menikmati tubuh dan melepaskan ketegangan.

Intervensi berbasis tari menunjukkan potensi manfaat terhadap gejala depresi, kecemasan, dan stres, meskipun kualitas penelitian yang tersedia masih memiliki sejumlah keterbatasan.

6. Menulis jurnal atau membuat scrapbook

Menulis jurnal dapat membantu seseorang menyediakan ruang untuk merefleksikan pengalaman dan mengekspresikan pikiran.

Sementara itu, membuat scrapbook dapat menjadi aktivitas kreatif untuk menyimpan kenangan.

Menuliskan hal-hal yang disyukuri juga dapat menjadi kebiasaan reflektif untuk melihat pengalaman hidup dari perspektif yang lebih luas.

7. Yoga dan Meditasi

Yoga dan meditasi menjadi aktivitas terakhir yang disarankan untuk memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.

Tidak harus dilakukan dalam durasi panjang, konsistensi dapat menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan.

Secara keseluruhan, ketujuh hobi tersebut menunjukkan bahwa merawat kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari langkah besar.

Berjalan, membaca, merawat tanaman, atau menulis dapat menjadi cara sederhana untuk menciptakan waktu yang lebih bermakna bagi diri sendiri.

Namun, hobi bukan pengganti bantuan profesional. Jika seseorang mengalami tekanan emosional atau masalah kesehatan mental yang berat dan berkepanjangan, mencari bantuan dari tenaga kesehatan atau profesional yang kompeten tetap penting.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti