← Beranda
7 Alasan Mengapa Semakin Banyak Orang Dewasa Memilih untuk Tidak Memiliki Anak Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 16 Agustus 2026 | 23.42 WIB
seseorang yang memilih tidak memiliki anak. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Dulu, menikah lalu memiliki anak sering dianggap sebagai bagian alami dari perjalanan hidup orang dewasa. Namun, pandangan tersebut perlahan berubah. Semakin banyak orang dewasa secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak, baik untuk sementara maupun secara permanen. Keputusan ini sering disebut childfree, yaitu pilihan untuk tidak memiliki anak berdasarkan pertimbangan pribadi, bukan semata-mata karena tidak mampu memiliki anak.


Fenomena ini terkadang menimbulkan pertanyaan: Mengapa seseorang memilih untuk tidak memiliki anak? Apakah mereka egois, takut terhadap tanggung jawab, atau memang memiliki cara berbeda dalam memandang kehidupan?

Dari perspektif psikologi, keputusan untuk tidak memiliki anak tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu alasan. Manusia membuat keputusan berdasarkan kombinasi kepribadian, pengalaman hidup, nilai pribadi, kondisi emosional, lingkungan sosial, tujuan hidup, serta persepsi terhadap masa depan.

Penting juga untuk memahami bahwa tidak semua orang yang memilih tidak memiliki anak memiliki pengalaman psikologis yang sama. Bagi sebagian orang, keputusan tersebut merupakan pilihan yang tenang dan matang. Bagi orang lain, keputusan itu mungkin berkaitan dengan pengalaman masa lalu, kekhawatiran terhadap tanggung jawab, atau prioritas hidup yang berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (16/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa semakin banyak orang dewasa memilih untuk tidak memiliki anak.

1. Mereka Memiliki Definisi Kebahagiaan yang Berbeda

Salah satu alasan paling mendasar adalah perubahan cara seseorang mendefinisikan kehidupan yang bahagia.

Selama bertahun-tahun, masyarakat sering menghubungkan kebahagiaan orang dewasa dengan pernikahan dan anak. Seolah-olah kehidupan memiliki pola tertentu: sekolah, bekerja, menikah, memiliki anak, kemudian membangun keluarga.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan, nilai, dan tujuan hidup yang berbeda. Apa yang dianggap sebagai kehidupan ideal oleh seseorang belum tentu menjadi kehidupan ideal bagi orang lain.

Bagi sebagian orang, kebahagiaan mungkin berasal dari hubungan romantis. Bagi yang lain, kebahagiaan dapat muncul melalui karier, kreativitas, perjalanan, hubungan sosial, kehidupan yang tenang, atau kebebasan mengatur waktu.

Karena itu, seseorang dapat merasa bahwa hidupnya sudah bermakna tanpa memiliki anak.

Dalam psikologi positif, kehidupan yang baik tidak hanya diukur berdasarkan pencapaian sosial, tetapi juga berdasarkan apakah seseorang merasa hidupnya memiliki makna, kepuasan, hubungan yang sehat, serta kesempatan untuk menjalani aktivitas yang sesuai dengan nilai pribadinya.

Orang yang memilih childfree mungkin tidak merasa sedang "kehilangan sesuatu". Sebaliknya, mereka mungkin merasa sedang memilih bentuk kehidupan yang paling sesuai dengan dirinya.

Dengan kata lain, tidak memiliki anak tidak selalu berarti seseorang tidak menyukai anak atau tidak memahami arti keluarga. Bisa saja mereka memiliki definisi keluarga dan kebahagiaan yang berbeda.

2. Kesadaran terhadap Beban dan Tanggung Jawab Pengasuhan Semakin Tinggi

Memiliki anak bukan hanya mengenai keinginan untuk memiliki keturunan. Ada tanggung jawab psikologis, emosional, sosial, dan finansial yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Semakin banyak orang dewasa sekarang menyadari kompleksitas tersebut.

Mereka melihat bahwa menjadi orang tua membutuhkan waktu, energi, kesabaran, kemampuan mengelola emosi, serta kesiapan menghadapi berbagai situasi yang tidak dapat diprediksi.

Kesadaran ini dapat membuat seseorang berpikir:

"Apakah saya benar-benar ingin menjalani peran sebagai orang tua selama puluhan tahun?"

Pertanyaan tersebut sebenarnya dapat menjadi bentuk refleksi diri yang sehat.

Dalam psikologi, pengambilan keputusan yang matang melibatkan kemampuan untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Seseorang mungkin menyadari bahwa dirinya tidak memiliki keinginan untuk menjalani rutinitas pengasuhan, dan memilih untuk tidak memiliki anak daripada menjadi orang tua tanpa kesiapan psikologis.

Menariknya, keputusan seperti ini terkadang justru muncul dari kesadaran terhadap besarnya tanggung jawab.

Seseorang mungkin berpikir bahwa anak berhak mendapatkan orang tua yang benar-benar menginginkan peran tersebut. Jika dirinya tidak memiliki keinginan menjadi orang tua, memilih tidak memiliki anak dapat dianggap sebagai keputusan yang lebih bertanggung jawab daripada memiliki anak hanya karena tekanan sosial.

3. Mereka Lebih Memprioritaskan Otonomi dan Kebebasan Pribadi

Manusia memiliki kebutuhan psikologis terhadap otonomi—perasaan bahwa dirinya memiliki kendali atas keputusan dan arah hidupnya sendiri.

Bagi sebagian orang, kebebasan memiliki nilai yang sangat tinggi.

Memiliki anak secara alami akan mengubah tingkat kebebasan seseorang. Keputusan sehari-hari tidak lagi hanya mempertimbangkan kebutuhan diri sendiri. Waktu, uang, tempat tinggal, pekerjaan, perjalanan, bahkan keputusan mengenai gaya hidup dapat dipengaruhi oleh kebutuhan anak.

Sebagian orang merasa perubahan tersebut sangat bermakna dan justru menjadi bagian yang mereka inginkan dari kehidupan.

Namun, sebagian lainnya merasa bahwa kehidupan dengan tingkat tanggung jawab tersebut tidak sesuai dengan nilai pribadi mereka.

Mereka mungkin sangat menikmati kemampuan untuk mengatur waktu sendiri, mengejar pendidikan, membangun bisnis, bepergian, mengembangkan hobi, atau menjalani hubungan dengan cara tertentu.

Ini bukan berarti mereka "tidak dewasa".

Justru, bagi sebagian orang, mengetahui batasan dan kebutuhan pribadi merupakan bagian dari kematangan psikologis.

Orang yang menyadari bahwa otonomi merupakan nilai penting dalam hidupnya mungkin mempertimbangkan dengan serius apakah menjadi orang tua sesuai dengan sistem nilai tersebut.

4. Pengalaman Masa Kecil Dapat Memengaruhi Pandangan tentang Menjadi Orang Tua

Pengalaman masa kecil merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang hubungan, keluarga, dan pengasuhan ketika dewasa.

Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat mungkin memiliki pengalaman positif mengenai konsep menjadi orang tua. Namun, seseorang yang tumbuh dengan konflik keluarga, pola pengasuhan yang tidak sehat, atau pengalaman emosional yang sulit dapat memiliki pandangan berbeda.

Misalnya, seseorang mungkin berpikir:

"Saya tidak ingin mengulangi pola keluarga yang pernah saya alami."

Pengalaman seperti itu dapat membuat seseorang lebih berhati-hati terhadap keputusan memiliki anak.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan hal ini. Tidak semua orang childfree memiliki masa kecil yang buruk, dan tidak semua orang yang memiliki pengalaman keluarga yang sulit kemudian memilih untuk tidak memiliki anak.

Sebaliknya, pengalaman masa lalu hanya merupakan salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap cara seseorang memandang peran sebagai orang tua.

Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan memilih tidak memiliki anak justru karena sangat sadar mengenai tanggung jawab psikologis pengasuhan. Mereka menyadari bahwa memiliki anak akan menuntut mereka untuk menghadapi luka emosional, pola perilaku, atau ketakutan tertentu yang belum tentu siap mereka hadapi.

5. Kecemasan terhadap Masa Depan Semakin Besar

Generasi dewasa saat ini hidup dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian.

Perubahan ekonomi, biaya hidup, ketidakstabilan pekerjaan, perubahan lingkungan, konflik sosial, serta berbagai masalah global dapat memengaruhi cara seseorang memandang masa depan.

Dalam psikologi, persepsi terhadap masa depan dapat memengaruhi keputusan besar dalam hidup.

Seseorang mungkin tidak hanya bertanya:

"Apakah saya ingin punya anak?"

Tetapi juga:

"Seperti apa dunia yang akan dihadapi anak saya 20 atau 30 tahun mendatang?"

Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut menghasilkan keinginan untuk tetap memiliki anak. Mereka melihat kehidupan sebagai sesuatu yang penuh kemungkinan dan berharap dapat memberikan masa depan yang baik kepada anak.

Namun, bagi sebagian lainnya, ketidakpastian justru memperkuat keputusan untuk tidak memiliki anak.

Perlu ditekankan bahwa kekhawatiran tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan. Kekhawatiran mengenai masa depan dapat menjadi pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan.

Yang membedakan adalah intensitasnya. Jika ketakutan terhadap masa depan menjadi sangat berlebihan dan mengganggu kehidupan sehari-hari, hal tersebut merupakan persoalan psikologis yang berbeda.

6. Norma Sosial Tidak Lagi Sebegitu Mengikat

Dahulu, keputusan untuk tidak memiliki anak sering kali dianggap menyimpang dari norma.

Seseorang mungkin mendapat pertanyaan seperti:

"Kapan punya anak?"

Atau:

"Kalau sudah menikah, memang tidak ingin punya anak?"

Tekanan seperti ini dapat membuat seseorang merasa bahwa memiliki anak merupakan kewajiban sosial.

Namun, perubahan budaya membuat banyak orang dewasa semakin berani memisahkan antara keinginan pribadi dan ekspektasi masyarakat.

Media sosial, pendidikan, akses terhadap berbagai perspektif, serta meningkatnya diskusi mengenai kesehatan mental dan batasan pribadi membuat orang memiliki lebih banyak kesempatan untuk mempertanyakan norma lama.

Mereka mulai bertanya:

"Apakah saya benar-benar menginginkan anak, atau saya hanya mengikuti apa yang dianggap normal?"

Pertanyaan semacam ini berkaitan dengan konsep self-determination, yaitu kecenderungan manusia untuk mengambil keputusan yang terasa autentik dan sesuai dengan nilai internalnya.

Ketika tekanan sosial berkurang, orang yang sebenarnya tidak memiliki keinginan menjadi orang tua mungkin merasa lebih bebas untuk mengakui pilihan tersebut.

Dengan demikian, meningkatnya jumlah orang yang memilih childfree tidak selalu berarti semakin banyak orang "membenci konsep keluarga". Bisa jadi, semakin banyak orang merasa memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri bentuk kehidupan yang mereka inginkan.

7. Mereka Tidak Menganggap Menjadi Orang Tua sebagai Syarat untuk Memiliki Hidup yang Bermakna

Alasan terakhir berkaitan dengan makna hidup.

Selama beberapa generasi, memiliki anak sering dipandang sebagai salah satu sumber utama makna kehidupan. Anak dianggap sebagai penerus keluarga, sumber kebahagiaan, sekaligus bagian dari identitas orang dewasa.

Tetapi makna hidup sebenarnya dapat berasal dari banyak hal.

Seseorang dapat menemukan makna melalui pekerjaan, hubungan dengan pasangan, persahabatan, karya seni, pendidikan, kontribusi sosial, komunitas, spiritualitas, atau proses mengembangkan dirinya sendiri.

Karena itu, seseorang yang tidak memiliki anak tetap dapat memiliki kehidupan yang sangat bermakna.

Dalam perspektif psikologi eksistensial, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan nilai dan makna kehidupannya sendiri. Tidak ada satu formula universal mengenai kehidupan yang dianggap berhasil.

Bagi seseorang, menjadi orang tua mungkin merupakan salah satu pengalaman paling bermakna dalam hidup.

Bagi orang lain, makna tersebut dapat ditemukan melalui sesuatu yang sama sekali berbeda.

Perbedaan ini penting untuk dihormati.

Apakah Memilih Tidak Memiliki Anak Berarti Egois?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul.

Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak".

Keputusan untuk memiliki anak juga tidak otomatis membuat seseorang lebih altruistik, sama seperti keputusan untuk tidak memiliki anak tidak otomatis membuat seseorang egois.

Dalam psikologi, kita perlu melihat alasan, proses pengambilan keputusan, dan nilai yang mendasarinya.

Seseorang yang tidak memiliki anak karena ingin menggunakan seluruh hidupnya untuk kepentingan pribadi mungkin memiliki motivasi berbeda dari seseorang yang tidak memiliki anak karena sadar bahwa dirinya tidak menginginkan peran sebagai orang tua.

Begitu pula, seseorang yang memiliki anak dapat memiliki berbagai macam motivasi—mulai dari keinginan merawat manusia lain, membangun keluarga, hingga memenuhi ekspektasi sosial.

Karena itu, status seseorang sebagai orang tua atau non-orang tua tidak cukup untuk menentukan kualitas moral maupun kematangan psikologisnya.

Childfree Bukan Berarti Tidak Menyukai Anak

Ada kesalahpahaman lain yang cukup umum: seseorang yang tidak ingin memiliki anak dianggap pasti tidak menyukai anak.

Padahal, keduanya merupakan hal berbeda.

Seseorang dapat menyukai anak-anak, menikmati berinteraksi dengan keponakan atau anak teman, bahkan bekerja di bidang pendidikan, tetapi tetap tidak ingin menjadi orang tua.

Menyukai anak dan menginginkan tanggung jawab sebagai orang tua adalah dua hal yang berbeda.

Analogi sederhananya adalah seseorang dapat menyukai hewan tetapi tidak ingin memelihara hewan sendiri. Bukan karena membenci hewan, melainkan karena memahami bahwa memiliki hewan membutuhkan komitmen tertentu.

Hal yang sama dapat terjadi pada keputusan memiliki anak.

Tidak Ada Satu Alasan yang Berlaku untuk Semua Orang

Penting untuk menghindari generalisasi ketika membahas fenomena childfree.

Ada orang yang memang sejak kecil tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi orang tua.

Ada yang baru menyadari hal tersebut ketika dewasa.

Ada yang memprioritaskan karier dan kebebasan.

Ada yang memiliki pengalaman keluarga tertentu.

Ada yang mempertimbangkan kondisi dunia.

Ada pula yang sekadar merasa bahwa menjadi orang tua bukan jalan hidup yang cocok untuknya.

Semua pengalaman tersebut dapat memiliki dinamika psikologis yang berbeda.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

"Mengapa mereka tidak mau punya anak?"

melainkan:

"Apa yang membuat seseorang merasa kehidupan tanpa anak lebih sesuai dengan nilai dan tujuan hidupnya?"

Pertanyaan kedua membuka ruang untuk memahami, bukan menghakimi.

Penutup

Meningkatnya jumlah orang dewasa yang memilih untuk tidak memiliki anak merupakan fenomena yang kompleks. Dari perspektif psikologi, keputusan tersebut dapat dipengaruhi oleh perubahan definisi kebahagiaan, meningkatnya kesadaran terhadap tanggung jawab pengasuhan, kebutuhan akan otonomi, pengalaman masa kecil, kekhawatiran mengenai masa depan, berkurangnya tekanan norma sosial, serta cara seseorang menemukan makna dalam hidup.

Yang paling penting adalah memahami bahwa memiliki anak maupun tidak memiliki anak merupakan keputusan kehidupan yang sangat personal.

Tidak semua orang menemukan kebahagiaan melalui jalan yang sama.

Bagi sebagian orang, anak adalah sumber cinta, makna, dan kebahagiaan yang luar biasa. Bagi sebagian lainnya, kehidupan yang bermakna justru dibangun tanpa menjadi orang tua.

Dari sudut pandang psikologi, kedewasaan bukan semata-mata tentang mengikuti jalan hidup yang dianggap normal oleh masyarakat. Salah satu bentuk kedewasaan adalah kemampuan mengenali kebutuhan, nilai, kemampuan, serta tujuan hidup sendiri—kemudian mengambil keputusan dengan sadar dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah "Apakah seseorang punya anak?", melainkan "Apakah kehidupan yang ia jalani benar-benar sesuai dengan pilihan dan nilai yang ia yakini?"***
EDITOR: Novia Tri Astuti