JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa perasaan tertinggal secara finansial sering muncul dari perbandingan yang didasarkan pada asumsi semata.
Uang memiliki cara aneh membuat seseorang merasa gagal meski sebenarnya telah melakukan semua hal dengan benar.
Bahkan dengan pekerjaan stabil dan tabungan yang cukup, perasaan tertinggal tetap dapat muncul tanpa alasan jelas.
Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (14/8), berikut enam keyakinan keliru yang biasa dipercaya orang yang selalu merasa tertinggal secara finansial dalam hidupnya.
1. Meyakini semua orang telah menguasai keuangannya
Media sosial membuat perbandingan finansial menjadi hal yang hampir mustahil untuk dihindari sepenuhnya.
Banyak orang menyimpulkan bahwa semua orang di sekitarnya menjalani hidup mewah dengan penuh kepastian.
Padahal foto liburan yang diunggah bisa jadi hasil tabungan panjang atau bantuan dari keluarga terdekat.
Orang yang tampak mapan secara finansial sebenarnya sering menghadapi ketidakpastian yang tidak terlihat oleh orang lain.
Membandingkan kehidupan nyata dengan momen terbaik orang lain hampir selalu berujung pada frustrasi yang tidak perlu.
Kenyataannya, perbandingan tersebut hanya melihat sebagian kecil cerita yang jarang menggambarkan keseluruhan situasi seseorang.
2. Meyakini harus mencapai pencapaian tertentu di usia tertentu
Banyak orang membawa daftar pencapaian tak tertulis yang dianggap wajib dicapai pada usia tertentu.
Anggapan ini membuat seseorang merasa harus memiliki rumah dan rencana pensiun pada usia tertentu.
Padahal setiap orang menjalani jalur hidup berbeda yang dibentuk oleh pengalaman dan kondisi masing-masing.
Generasi yang berbeda memasuki masa dewasa dengan kondisi ekonomi yang juga berbeda satu sama lain.
Perasaan tertinggal muncul karena membandingkan diri dengan standar ideal yang sebenarnya tidak nyata bagi semua orang.
Pencapaian yang diraih orang lain dalam lima tahun bisa saja membutuhkan waktu lebih lama bagi orang lain.
3. Meyakini satu kesalahan telah merusak masa depannya secara permanen
Kesalahan finansial sering kali terasa sangat besar dan sulit dilupakan oleh orang yang mengalaminya.
Hampir semua orang pernah membuat keputusan keuangan yang kurang tepat di suatu titik dalam hidupnya.
Kesalahan tersebut tidak serta-merta menentukan keberhasilan seseorang di masa depan secara keseluruhan.
Bahkan sejumlah orang paling kaya di dunia pernah membuat keputusan finansial yang kurang bijak sebelumnya.
Perbedaannya terletak pada cara mereka memandang kesalahan tersebut sebagai hambatan sementara, bukan identitas permanen.
Kesalahan finansial yang pernah terjadi tidak secara otomatis menghapus peluang keberhasilan di masa mendatang.
4. Meyakini penghasilan lebih besar akan menyelesaikan semua masalah
Penghasilan yang lebih besar memang dapat membantu mengatasi ketidakstabilan finansial yang sedang dihadapi seseorang.
Namun ekspektasi seseorang biasanya turut meningkat seiring bertambahnya penghasilan yang diterimanya setiap bulan.
Gaji yang lebih besar dapat membuat pengeluaran ikut meningkat sehingga kondisi keuangan tetap sama saja.
Meski demikian, penghasilan yang lebih besar tetap dapat memperbaiki kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.
Yang dibutuhkan sebenarnya bukan sekadar penghasilan tambahan, melainkan pemahaman cara mengelola kelebihan uang tersebut.
Tanpa pengelolaan yang tepat, penghasilan tambahan hanya akan habis untuk pengeluaran yang terus bertambah.
5. Meyakini meminta bantuan berarti telah gagal
Banyak orang merasa malu ketika harus meminta bantuan terkait masalah keuangan yang dihadapinya.
Mereka merasa tidak nyaman bertanya soal uang atau menerima dukungan sementara dari keluarga terdekat.
Anggapan ini muncul karena mengira orang sukses secara finansial berhasil sepenuhnya tanpa bantuan siapa pun.
Padahal kenyataannya sangat berbeda dari anggapan yang selama ini dipercaya banyak orang tersebut.
Banyak orang dengan keunggulan finansial sebenarnya mendapat bantuan besar dari kekayaan keluarga atau sekadar keberuntungan.
Belajar mengelola keuangan tidak dapat dilakukan tanpa keberanian untuk meminta bantuan saat dibutuhkan.
6. Meyakini ada angka tertentu yang menandakan seseorang telah berhasil
Banyak orang membayangkan angka ajaib tertentu dalam penghasilan atau tabungan yang menandakan akhir dari kekhawatiran.
Padahal setelah mencapai angka tersebut, kekhawatiran baru biasanya muncul terkait cara berinvestasi dengan tepat.
Orang yang terus merasa tertinggal cenderung menunda rasa tenang karena terbiasa hidup dalam tekanan.
Belajar mengenali kemajuan yang telah dicapai dapat memberikan ketenangan lebih dibanding terus mengejar pencapaian berikutnya.
Merayakan pencapaian kecil membantu seseorang menghargai perjalanan yang telah dilalui sejauh ini.
Memiliki anggaran yang jelas serta memahami pola pengeluaran menjadi langkah awal yang penting untuk dilakukan.
***