JawaPos.com – Psikologi komunikasi menunjukkan bahwa etiket seseorang sering terlihat dari cara ia berbicara sehari-hari.
Sopan santun yang tertanam sejak kecil biasanya muncul secara otomatis dalam percakapan santai.
Beberapa frasa sederhana ternyata menjadi penanda kuat bahwa seseorang tumbuh dengan didikan yang baik.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (13/8), berikut delapan frasa yang mencerminkan psikologi kesopanan dan etiket dalam percakapan sehari-hari.
1. Bagaimana kabarmu?
Menanyakan kabar orang lain bisa dilakukan sekadar basa-basi atau dengan ketulusan yang sesungguhnya.
Orang yang benar-benar beretiket biasanya menanyakan hal ini karena rasa peduli yang tulus, bukan formalitas semata.
Kebiasaan ini kerap dianggap sepele karena banyak orang mengucapkannya secara otomatis tanpa berpikir panjang.
Namun bagi mereka yang dibesarkan dengan nilai kesopanan, pertanyaan ini menjadi cara nyata menunjukkan perhatian dan mempererat hubungan.
2. Permisi
Banyak orang memotong pembicaraan atau melewati orang lain tanpa memedulikan kesopanan.
Sebaliknya, orang dengan etiket baik akan berhenti sejenak dan menggunakan kata permisi sebelum bertindak.
Ucapan ini tidak otomatis menandakan kesopanan karena ada situasi tertentu yang membuatnya kurang tepat digunakan.
Namun ketulusan seseorang saat mengucapkannya biasanya dapat terlihat jelas dari konteks percakapan yang berlangsung.
3. Maaf
Meminta maaf adalah keterampilan penting yang perlu terus diasah sepanjang hidup.
Ucapan sederhana ini mampu memberi makna besar dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
Orang yang sopan tidak hanya mengucapkannya saat menghadapi masalah besar, tetapi juga pada hal-hal kecil sekalipun.
Kebiasaan ini membuat mereka dikenal sebagai pribadi yang menghargai orang lain dalam situasi apa pun.
4. Semoga harimu menyenangkan
Mengucapkan harapan baik di akhir percakapan terdengar sepele, padahal maknanya cukup penting.
Percakapan yang berakhir tanpa ucapan semacam ini sering terasa janggal dan kurang lengkap.
Meski sering diucapkan secara refleks, kebiasaan ini tetap mencerminkan didikan yang baik sejak dini.
Ucapan tersebut menunjukkan bahwa nilai kesopanan benar-benar tertanam dalam diri seseorang.
5. Boleh aku bawa sesuatu?
Pakar etiket Jodi Smith menyebut bahwa tamu sebaiknya membawa sesuatu ketika diundang oleh tuan rumah.
Sayangnya banyak orang menerima undangan tanpa memikirkan cara membalas kebaikan tersebut.
Orang dengan sopan santun yang baik tidak akan melewatkan kesempatan menawarkan bantuan semacam ini.
Meski tawaran itu sering ditolak tuan rumah, mereka tetap akan mengucapkannya sebagai bentuk penghargaan.
6. Kalau tidak merepotkan
Meminta bantuan orang lain terkadang dianggap hal kecil yang tidak butuh usaha berarti.
Namun orang yang sopan tetap ingin menunjukkan bahwa kebaikan orang lain sangat berarti baginya.
Menambahkan frasa ini pada sebuah permintaan membuat permintaan tersebut terasa tidak memaksa.
Bagi mereka, ucapan ini terasa penting untuk selalu disertakan meski terkesan berlebihan bagi sebagian orang.
7. Silakan duluan
Sebagian orang menganggap ucapan ini terlalu kuno dan tidak lagi relevan digunakan.
Orang yang memahami etiket justru merasa wajar mempersilakan orang lain lewat lebih dulu.
Kebiasaan ini sebenarnya bisa ditunjukkan lewat gestur kecil tanpa perlu diucapkan secara langsung.
Meski begitu, tindakan sederhana ini tetap diingat dan dikaitkan dengan kesan sopan dari pelakunya.
8. Terima kasih
Ucapan terima kasih menjadi dasar kesopanan yang diajarkan sejak masa kanak-kanak.
Sayangnya sebagian orang mulai melupakan pentingnya mengucapkan hal ini dalam interaksi sehari-hari.
Situasi terasa canggung ketika kebaikan seseorang tidak mendapat balasan ucapan terima kasih sama sekali.
Orang yang terbiasa mengucapkannya turut melatih pola pikir positif sekaligus menghargai perhatian dari orang lain.
***