← Beranda
Orang dengan Psikologi Percaya Diri Tinggi Ternyata Punya 8 Kebiasaan Khas Ini
Mohammad Maulana IqbalKamis, 13 Agustus 2026 | 00.35 WIB
Kebiasaan orang percaya diri tinggi menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Psikologi percaya diri tinggi menjadi ciri khas orang yang mampu bersikap tenang tanpa kehilangan rasa hormat dari orang lain.

Sosok yang benar-benar percaya diri jarang ditemukan karena mereka mampu bersikap tegas tanpa rasa takut berlebihan.

Kebiasaan tertentu yang mereka lakukan justru membentuk rasa percaya diri yang kokoh dan sulit digoyahkan orang lain.

Dilansir dari laman YourTango pada  Rabu (12/8), berikut delapan kebiasaan psikologi percaya diri tinggi yang biasa dimiliki orang yang sulit dijatuhkan secara mental.

1. Memilih diam saat menghadapi penghinaan

Ketika seseorang menyerang karakter pribadi, dorongan pertama biasanya adalah membalas dengan komentar yang sama menyakitkan.

Namun sikap membalas semacam itu justru menunjukkan rasa tidak aman, bukan kekuatan yang sesungguhnya.

Orang dengan kepercayaan diri tinggi memilih diam karena memahami bahwa sikap ini justru melemahkan kekuatan lawan bicara.

2. Tidak pernah meminta maaf karena menolak sesuatu

Kata penolakan sering dianggap negatif, padahal sebenarnya merupakan cara sehat menjaga batasan pribadi.

Terus-menerus mengutamakan kebutuhan orang lain tanpa henti dapat memicu kelelahan emosional yang berkepanjangan.

Orang yang percaya diri menyampaikan penolakan dengan jelas tanpa rasa bersalah yang berlebihan.

3. Selalu menjaga kontak mata saat berbicara

Bahasa tubuh, terutama kontak mata, menjadi hal penting yang dijaga oleh orang dengan kepercayaan diri tinggi.

Kebanyakan orang kesulitan mempertahankan kontak mata karena kurangnya rasa percaya diri yang stabil.

Sebaliknya, mereka yang percaya diri mampu menghadapi percakapan sulit tanpa perlu menghindari tatapan lawan bicara.

4. Tidak meninggikan suara saat sedang marah

Rasa marah tetap wajar dirasakan meski seseorang memiliki kepercayaan diri yang tinggi sekalipun.

Namun mereka tetap menjaga nada bicara yang stabil demi menciptakan komunikasi yang lebih efektif.

Sikap ini menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap nilai diri tanpa perlu menegaskannya lewat suara keras.

5. Tidak terlalu memedulikan pendapat orang lain

Di tengah dorongan mencari pengakuan dari sekitar, orang percaya diri lebih memilih validasi dari dalam diri sendiri.

Kebutuhan validasi eksternal sering muncul akibat rasa kurang percaya diri yang belum terselesaikan.

Mereka yang benar-benar percaya diri menerima kekurangan diri tanpa harus bergantung pada pujian dari orang lain.

6. Berani meninggalkan orang yang bersikap tidak sopan

Ketika percakapan mulai memburuk, mereka memilih tidak melanjutkan diskusi yang tidak produktif lagi.

Waktu dan energi dianggap terbatas, sehingga tidak layak dihabiskan untuk orang yang tidak menghargai.

Sikap tegas ini menunjukkan kepercayaan diri yang kuat tanpa perlu membuktikan diri secara berlebihan.

7. Berani memutus hubungan dengan orang yang toksik

Begitu menyadari kebiasaan buruk seseorang, termasuk anggota keluarga, mereka berani menjauh demi kesehatan mental.

Karena tidak bergantung pada validasi eksternal, mereka tidak membutuhkan lingkaran pertemanan yang luas.

Mereka lebih memilih menjaga hubungan dengan orang yang benar-benar mendukung dan menghormati keberadaannya.

8. Tidak sungkan mengakui kesalahan sendiri

Kesediaan mengakui kesalahan menunjukkan kepercayaan diri yang jauh lebih besar dibanding sikap defensif berlebihan.

Percaya diri bukan berarti bersikap sombong, melainkan tetap rendah hati saat menghadapi kekeliruan.

Kemampuan mengakui kesalahan mencerminkan kedewasaan berpikir yang membuat seseorang semakin kokoh secara mental.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti