JawaPos.com – Psikologi burnout kerja menjadi penyebab utama mengapa generasi milenial semakin sulit bertahan sepanjang hari di kantor.
Banyak pekerja muda menghadapi tekanan beban kerja berlebihan sekaligus penghasilan yang tidak sebanding dengan biaya hidup.
Kondisi ini membuat semangat kerja perlahan menurun, bukan karena malas, melainkan kurangnya dukungan dari lingkungan kerja.
Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (11/8), berikut sebelas alasan psikologi burnout kerja yang membuat generasi milenial kesulitan menjalani hari kerja secara penuh.
1. Diawasi secara berlebihan oleh atasan
Pengawasan berlebihan dari atasan tidak hanya menghambat produktivitas, tetapi juga mematikan kreativitas karyawan.
Sikap ini memicu rasa kesal yang membuat karyawan semakin kurang inovatif dalam menjalankan tugasnya.
Rasa mendesak yang terus dipaksakan atasan juga mengikis kepercayaan karyawan terhadap manajemen tempat bekerja.
2. Menerima penghasilan yang tidak memadai
Generasi muda cenderung tidak termotivasi melakukan lebih banyak karena penghasilan yang mereka terima masih terbatas.
Sebagian besar dari mereka menghabiskan lebih dari sepertiga penghasilan hanya untuk biaya tempat tinggal.
Kondisi keuangan yang terbatas membuat mereka lebih mengutamakan kesejahteraan pribadi dibanding memaksakan diri bekerja berlebihan.
3. Berada di lingkungan kerja yang tidak sehat
Lingkungan kerja yang toksik membuat karyawan mudah mengalami kelelahan fisik maupun mental secara berkepanjangan.
Kondisi ini membuat mereka lebih sibuk menghadapi tekanan batin dibanding menyelesaikan pekerjaan secara maksimal.
Ketika kesehatan mental diabaikan oleh perusahaan, karyawan pun merasa terasing dari lingkungan kerjanya sendiri.
4. Dibebani ekspektasi yang tidak realistis
Banyak atasan menetapkan standar kerja berdasarkan pengalaman lama tanpa mempertimbangkan kebutuhan karyawan saat ini.
Standar yang terlalu tinggi tanpa dukungan memadai membuat karyawan terjebak dalam siklus kekecewaan berulang.
Kegagalan memenuhi ekspektasi tersebut sering kali berujung pada tekanan tambahan dari perusahaan tempat mereka bekerja.
5. Lebih memilih fokus pada urusan pribadi
Sebagian besar generasi milenial menjadikan keseimbangan hidup dan kerja sebagai prioritas utama dalam berkarier.
Ketika keseimbangan ini sulit dicapai akibat tekanan kerja berlebihan, semangat bekerja pun ikut menurun drastis.
Mereka lebih memilih mengutamakan kehidupan pribadi dibanding memaksakan diri untuk terus produktif di kantor.
6. Menolak menjadikan pekerjaan sebagai identitas utama
Banyak karyawan mengorbankan waktu pribadi hingga menyatukan identitas dirinya sepenuhnya dengan pekerjaan yang dijalani.
Kebiasaan ini justru berdampak buruk bagi kesejahteraan mental, terutama bagi mereka yang tidak menikmati pekerjaannya.
Generasi milenial yang kelelahan biasanya sudah terjebak dalam siklus tekanan akibat pola kerja semacam ini.
7. Merasa tidak didengar atau dihargai perusahaan
Perasaan dihargai menjadi kebutuhan penting dalam hubungan kerja antara karyawan dan perusahaan tempatnya bekerja.
Ketika kebutuhan ini terabaikan, karyawan cenderung hanya menyelesaikan tugas dasar tanpa motivasi lebih jauh.
Generasi milenial merasa tidak ada insentif untuk mengorbankan waktu pribadi demi perusahaan yang kurang menghargai usahanya.
8. Dituntut menyelesaikan semua hal secara mendesak
Karyawan yang menghadapi tekanan mendesak secara terus-menerus cenderung mengalami stres dan kecemasan kronis.
Ketika semua tugas dianggap prioritas utama, beban psikologis karyawan pun semakin bertambah setiap harinya.
Sebagian karyawan justru menunda pekerjaan sebagai cara menenangkan diri dari tekanan yang berlebihan tersebut.
9. Mengalami kelelahan kerja yang mendalam
Generasi milenial cenderung lebih sadar terhadap kondisi kelelahan kerja dibanding generasi sebelumnya.
Mereka memilih meluangkan waktu untuk beristirahat meski harus mengorbankan sedikit produktivitas kerja.
Sikap ini muncul karena pengalaman panjang menghadapi beban kerja berlebihan dengan penghasilan yang minim.
10. Menghadapi stres dan kecemasan berkepanjangan
Tekanan emosional yang terus-menerus membuat karyawan sulit mempertahankan produktivitas kerja secara maksimal.
Mereka lebih fokus menghadapi gejolak batin dibanding memaksakan diri untuk bekerja lebih keras.
Kondisi ini semakin berat ketika lingkungan kerja tidak memberikan dukungan maupun apresiasi yang memadai.
11. Menginginkan fleksibilitas bekerja dari rumah
Pengalaman bekerja dari rumah selama masa pandemi membuat banyak karyawan merindukan fleksibilitas tersebut kembali.
Ketika dipaksa kembali bekerja di kantor, muncul rasa kesal karena merasa mampu tetap produktif dari rumah.
Perasaan ini membuat karyawan semakin sulit menjalani hari kerja akibat kekecewaan terhadap kebijakan perusahaan.
***