JawaPos.com - Mengonsumsi obat tidak hanya membutuhkan perhatian terhadap dosis dan jadwal minum. Makanan serta minuman yang dikonsumsi sehari-hari juga perlu diperhatikan karena beberapa di antaranya dapat memengaruhi cara kerja obat di dalam tubuh.
Interaksi antara makanan dan obat dapat membuat kadar obat dalam darah meningkat atau menurun. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut bisa menyebabkan obat bekerja terlalu kuat, kurang efektif, atau meningkatkan kemungkinan munculnya efek samping.
Namun, bukan berarti semua makanan dalam daftar berikut harus dihindari oleh setiap orang yang sedang menjalani pengobatan. Risiko interaksi sangat bergantung pada jenis obat, jumlah konsumsi, serta kondisi masing-masing orang.
Karena itu, penting membaca petunjuk penggunaan obat dan menanyakan kepada dokter atau apoteker apabila Anda tidak yakin dengan makanan atau minuman yang aman dikonsumsi selama pengobatan.
Baca Juga: Ingin Rambut Tetap Hitam Lebih Lama? Konsumsi 7 Makanan Bernutrisi Ini
Dilansir englinsh jagran, berikut lima makanan dan minuman yang perlu mendapat perhatian.
1. Grapefruit dan Jus Buah Tertentu
Grapefruit atau jeruk bali merah menjadi salah satu buah yang cukup dikenal memiliki interaksi dengan obat tertentu.
Senyawa yang terdapat dalam grapefruit dapat memengaruhi enzim dan protein pengangkut obat di saluran pencernaan. Akibatnya, jumlah obat yang masuk ke dalam aliran darah dapat berubah.
FDA menyebut grapefruit dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, termasuk beberapa jenis statin, obat tekanan darah, obat untuk gangguan irama jantung, serta beberapa obat lainnya. Efek interaksinya juga tidak sama pada setiap obat.
Misalnya, grapefruit perlu dihindari pada penggunaan obat tertentu seperti simvastatin dan beberapa calcium channel blocker. Pada jenis obat lain, jumlah grapefruit yang masih diperbolehkan bisa berbeda.
Selain grapefruit, jenis jus buah tertentu juga dapat memengaruhi penyerapan obat. Karena itu, jangan langsung menganggap semua jus aman digunakan sebagai pengganti air putih ketika minum obat.
2. Jus Cranberry
Jus cranberry juga perlu diperhatikan, khususnya bagi orang yang menggunakan obat pengencer darah tertentu seperti warfarin.
Interaksi makanan dan obat pada pengguna warfarin perlu mendapat perhatian karena efektivitas terapi berkaitan erat dengan proses pembekuan darah.
Selain memperhatikan jenis minuman, perubahan besar pada pola makan juga sebaiknya tidak dilakukan secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Hal ini termasuk perubahan konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin K pada orang yang menjalani terapi warfarin.
Jika Anda menggunakan warfarin, sebaiknya tanyakan kepada dokter atau apoteker mengenai makanan dan minuman yang perlu dibatasi serta pola konsumsi yang perlu dipertahankan secara konsisten.
3. Keju dan Makanan Tinggi Tiramin
Keju tertentu, terutama yang sudah mengalami proses pematangan, dapat mengandung tiramin dalam jumlah cukup tinggi. Zat ini juga dapat ditemukan pada sejumlah makanan fermentasi dan daging olahan.
Masalah dapat muncul pada orang yang menggunakan obat antidepresan golongan monoamine oxidase inhibitors atau MAOI.
Konsumsi makanan tinggi tiramin dalam kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan darah secara drastis. Karena risikonya dapat serius, pasien yang menggunakan MAOI biasanya mendapatkan petunjuk khusus mengenai makanan yang perlu dihindari.
Oleh sebab itu, jangan mengubah pola makan secara sembarangan apabila sedang menggunakan obat golongan tersebut.
4. Sayuran Berdaun Hijau dan Sayuran Kaya Vitamin K
Sayuran hijau sebenarnya merupakan bagian penting dari pola makan sehat. Namun, bagi seseorang yang menggunakan warfarin, jumlah vitamin K dalam makanan perlu diperhatikan.
Vitamin K berperan dalam proses pembekuan darah sehingga perubahan besar pada asupan vitamin K dapat memengaruhi terapi warfarin.
Bukan berarti pengguna warfarin harus menghilangkan sayuran hijau dari menu sehari-hari. Yang lebih penting adalah menjaga pola konsumsi tetap konsisten dan mengikuti arahan dokter.
Perubahan pola makan secara mendadak, terutama jika asupan makanan kaya vitamin K berubah drastis, sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
5. Kopi
Kopi juga dapat berinteraksi dengan obat tertentu, salah satunya teofilin yang digunakan pada kondisi saluran pernapasan tertentu.
Kafein dan teofilin sama-sama memiliki efek stimulasi sehingga konsumsi kafein dalam jumlah tinggi ketika menggunakan teofilin dapat meningkatkan risiko munculnya efek yang tidak diinginkan.
Keluhan yang mungkin muncul antara lain gelisah, sakit kepala, mual, atau sulit tidur. Karena itu, orang yang menggunakan teofilin perlu memperhatikan konsumsi kopi dan sumber kafein lainnya.
Jumlah yang aman dapat berbeda pada setiap orang. Jika Anda rutin mengonsumsi kopi dan sedang mendapatkan terapi teofilin, sebaiknya tanyakan kepada dokter atau apoteker mengenai batas konsumsi yang sesuai