← Beranda
Misteri Ghost Month Bulan Ketujuh Tionghoa: Asal Usul, Tradisi, Mitos, dan Makna Budaya yang Bertahan Ribuan Tahun
Aulia RahmiSabtu, 25 Juli 2026 | 04.57 WIB
Ilustrasi Tionghoa (TravelScape/magnific)

JawaPos.com - Setiap memasuki bulan ketujuh dalam kalender lunar Tionghoa, berbagai komunitas Tionghoa di Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, hingga Indonesia kembali menjalankan sebuah tradisi yang telah diwariskan selama ribuan tahun.

Tradisi tersebut dikenal sebagai Ghost Month atau Bulan Hantu, sebuah periode yang identik dengan penghormatan kepada leluhur dan berbagai ritual budaya yang masih dipertahankan hingga kini.

Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa, Ghost Month dipercaya sebagai masa ketika gerbang antara dunia manusia dan alam arwah terbuka sehingga roh-roh dapat kembali mengunjungi dunia.

Keyakinan tersebut kemudian melahirkan berbagai ritual penghormatan kepada leluhur, persembahan bagi arwah yang tidak memiliki keluarga, hingga sejumlah pantangan yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat.

Meski demikian, penting dipahami bahwa kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya dan kepercayaan rakyat yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Di balik kisah-kisah mistis yang sering dikaitkan dengan Ghost Month, terdapat sejarah panjang yang dipengaruhi oleh berbagai ajaran dan nilai budaya.

Tradisi ini bukan hanya berbicara mengenai dunia spiritual, tetapi juga mencerminkan penghormatan kepada leluhur, kepedulian terhadap sesama, serta upaya melestarikan warisan budaya yang telah bertahan lintas generasi.

Mari kita bahas secara lengkap seperti yang dirangkum dari kanal YouTube growth energy pada Jumat (24/07).

1. Apa Itu Ghost Month?

Ghost Month merupakan sebutan untuk bulan ketujuh dalam kalender lunar Tionghoa.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, bulan ini dipercaya sebagai masa ketika gerbang alam arwah terbuka sehingga roh-roh memperoleh kesempatan untuk kembali ke dunia manusia.

Oleh karena itu, berbagai ritual penghormatan kepada leluhur dilakukan sebagai bentuk doa, penghormatan, dan ungkapan rasa syukur kepada para pendahulu.

Tradisi Ghost Month dikenal dengan berbagai nama di sejumlah negara Asia Timur dan Asia Tenggara.

Meskipun penyebutannya berbeda-beda, makna yang terkandung di dalamnya tetap sama, yaitu menjaga hubungan spiritual dengan leluhur serta mengenang anggota keluarga yang telah meninggal dunia melalui berbagai ritual budaya.

Saat ini, Ghost Month tidak hanya dipahami sebagai tradisi keagamaan atau spiritual.

Bagi banyak masyarakat Tionghoa modern, perayaan ini juga menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dipelihara sebagai warisan sejarah dan penghormatan terhadap nilai-nilai keluarga.

2. Asal Usul Ghost Month yang Berusia Ribuan Tahun

Sejarah Ghost Month merupakan hasil perpaduan berbagai tradisi yang berkembang di Tiongkok selama ribuan tahun.

Salah satu akar terkuatnya berasal dari kebiasaan menghormati leluhur yang telah dikenal sejak masa Dinasti Zhou.

Pada masa itu, masyarakat percaya bahwa hubungan antara keluarga yang masih hidup dan leluhur harus tetap dijaga melalui doa serta persembahan sebagai bentuk penghormatan.

Tradisi tersebut kemudian berkembang seiring masuknya pengaruh Taoisme.

Dalam ajaran Taoisme, hari ke-15 bulan ketujuh dipercaya sebagai waktu ketika pejabat surgawi yang mengatur bumi memberikan pengampunan kepada roh-roh tertentu.

Kepercayaan tersebut mendorong masyarakat untuk mengadakan ritual doa, pembakaran dupa, dan persembahan sebagai simbol penghormatan.

Pengaruh lainnya berasal dari ajaran Buddha melalui kisah Mulian yang menyelamatkan ibunya dari penderitaan sebagai roh kelaparan.

Menurut cerita tersebut, Mulian mempersembahkan makanan kepada para biksu sehingga jasa kebajikan yang diperoleh mampu membebaskan sang ibu.

Kisah inilah yang kemudian melahirkan Festival Yulan atau Ulambana yang masih diperingati oleh banyak komunitas Buddha hingga sekarang.

3. Mengapa Ghost Month Disebut Bulan Hantu?

Sebutan Bulan Hantu berasal dari kepercayaan rakyat Tionghoa yang meyakini bahwa gerbang alam arwah terbuka selama bulan ketujuh kalender lunar.

Dalam masa tersebut, roh-roh dipercaya dapat kembali ke dunia manusia untuk menerima doa, penghormatan, maupun persembahan dari keluarga mereka.

Kepercayaan ini kemudian melahirkan berbagai ritual yang bertujuan menghormati leluhur sekaligus memberikan persembahan kepada arwah yang diyakini tidak memiliki keturunan.

Oleh sebab itu, masyarakat biasanya menyiapkan makanan, buah-buahan, teh, dupa, hingga membakar uang kertas simbolis sebagai bagian dari tradisi.

Walaupun kisah mengenai Ghost Month telah berkembang luas selama berabad-abad, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang membuktikan bahwa gerbang alam arwah benar-benar terbuka.

Oleh karena itu, Ghost Month lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi budaya dan kepercayaan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

4. Tradisi yang Dilakukan Selama Ghost Month

Salah satu tradisi paling dikenal selama Ghost Month adalah membakar uang kertas simbolis atau joss paper.

Uang tersebut bukan merupakan alat pembayaran sungguhan, melainkan lambang penghormatan yang dipercaya dapat menjadi simbol pengiriman kebutuhan bagi leluhur menurut kepercayaan tradisional.

Selain itu, banyak keluarga menyiapkan persembahan berupa buah-buahan, kue, teh, nasi, maupun makanan favorit anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Persembahan tersebut menjadi simbol kasih sayang, penghormatan, serta doa bagi para leluhur.

Di sejumlah daerah, Ghost Month juga diramaikan dengan pertunjukan opera tradisional maupun wayang.

Hal yang unik, kursi pada barisan paling depan biasanya sengaja dikosongkan karena dipercaya diperuntukkan bagi roh-roh sebagai tamu kehormatan.

Sementara itu, beberapa wilayah juga mengadakan festival pelepasan lentera di sungai atau laut sebagai simbol penerangan jalan bagi arwah.

5. Berbagai Mitos yang Berkembang Selama Ghost Month

Ghost Month identik dengan berbagai mitos yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat.

Salah satunya adalah anjuran untuk tidak menyelenggarakan pesta pernikahan selama bulan ketujuh kalender lunar karena dianggap kurang membawa keberuntungan menurut kepercayaan tradisional.

Selain itu, ada pula kepercayaan yang menyarankan agar seseorang menunda pembelian rumah, pindah tempat tinggal, atau memulai usaha baru hingga Ghost Month berakhir.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa waktu tersebut kurang baik untuk mengambil keputusan besar dalam kehidupan.

Mitos lain yang cukup populer adalah menghindari berenang pada malam hari karena dipercaya terdapat roh penasaran yang berada di sekitar perairan.

Dari sudut pandang keselamatan, anjuran tersebut juga memiliki nilai praktis karena berenang pada malam hari memang berisiko lebih tinggi akibat keterbatasan jarak pandang dan kondisi lingkungan.

6. Apakah Semua Orang Masih Mempercayai Ghost Month?

Perkembangan zaman membuat pandangan masyarakat terhadap Ghost Month semakin beragam.

Sebagian keluarga masih menjalankan seluruh ritual secara lengkap karena menganggapnya sebagai bagian dari keyakinan dan tradisi keluarga yang harus dilestarikan.

Sebagian masyarakat lainnya tetap mengikuti tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya tanpa mempercayai unsur supranatural yang menyertainya.

Bagi kelompok ini, Ghost Month menjadi momen untuk mengenang leluhur sekaligus menjaga hubungan kekeluargaan.

Sementara itu, tidak sedikit pula yang memandang Ghost Month sebagai warisan sejarah dan budaya semata.

Perbedaan sudut pandang tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai historisnya.

7. Nilai Budaya di Balik Ghost Month

Di balik berbagai cerita mistis yang sering dikaitkan dengan Ghost Month, tradisi ini menyimpan nilai budaya yang sangat kuat.

Salah satunya adalah penghormatan kepada leluhur sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa generasi terdahulu yang telah membangun keluarga dan mewariskan berbagai nilai kehidupan.

Ghost Month juga mengajarkan pentingnya berbagi kepada sesama.

Dalam sejumlah tradisi, masyarakat tidak hanya memberikan persembahan kepada leluhur, tetapi juga melakukan kegiatan amal sebagai bentuk kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Selain itu, perayaan ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan keluarga.

Momen berkumpul bersama, mengenang anggota keluarga yang telah meninggal dunia, dan melestarikan tradisi turun-temurun menjadi bagian penting yang membuat Ghost Month tetap bertahan hingga sekarang.

8. Ghost Month, Antara Kepercayaan, Sejarah, dan Budaya

Ghost Month telah menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat Tionghoa selama ribuan tahun.

Berbagai ritual, cerita rakyat, dan mitos yang berkembang merupakan cerminan cara masyarakat pada masa lalu memahami hubungan antara manusia, leluhur, dan kehidupan setelah kematian.

Hingga saat ini, belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa gerbang dunia arwah benar-benar terbuka selama bulan ketujuh kalender lunar.

Berbagai kisah mengenai peristiwa mistis lebih banyak berasal dari kepercayaan tradisional, cerita rakyat, dan pengalaman pribadi yang tidak dapat diverifikasi secara ilmiah.

Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan, Ghost Month tetap memiliki makna budaya yang mendalam.

Tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati leluhur, mempererat hubungan keluarga, menjaga kepedulian sosial, serta melestarikan warisan budaya yang telah bertahan selama ribuan tahun.

Nilai-nilai tersebut menjadi alasan mengapa Ghost Month masih diperingati oleh banyak komunitas Tionghoa di berbagai belahan dunia hingga saat ini.

EDITOR: Hanny Suwindari