JawaPos.com – Psikologi mengungkap pola pikir orang yang hidup tanpa akuntabilitas dalam menjalani hubungan sehari-hari.
Mereka biasanya memiliki integritas rendah karena enggan bertanggung jawab atas tindakan dan perasaannya sendiri.
Pola ini muncul lewat kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele namun mencerminkan cara berpikir yang mendalam.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (23/7), berikut lima kebiasaan yang biasa dilakukan orang dengan sikap semacam itu.
1. Percaya bisa mengendalikan hidup lewat kemarahan
Orang tanpa akuntabilitas sering percaya bahwa kemarahan dapat memberi mereka kendali atas orang lain.
Mereka menganggap sikap menyalahkan sebagai cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sebuah penelitian di jurnal Communication Monographs menunjukkan hal ini sering berhasil secara sementara.
Intimidasi maupun rasa bersalah memang bisa memaksa seseorang menuruti keinginan mereka untuk sesaat.
Namun kendali semacam itu tidak pernah benar-benar menjangkau pikiran maupun perasaan orang lain.
Ketika seseorang menuruti karena takut atau merasa bersalah, hubungan itu menjadi rapuh dari dalam.
Cepat atau lambat, cara mengendalikan seperti ini cenderung berbalik dan merugikan diri sendiri.
Kepercayaan bahwa hidup bisa dikendalikan lewat kemarahan pada akhirnya hanya menciptakan ilusi kekuasaan semu.
2. Terhubung dengan orang lain lewat konflik
Sebagian orang tanpa integritas ingin merasa dekat dengan pasangan atau orang di sekitarnya.
Namun mereka enggan membangun kedekatan itu lewat keterbukaan yang jujur dan tulus.
Ketakutan akan ditolak membuat mereka menghindari sisi diri yang rentan dan mudah terluka.
Pertengkaran atau perdebatan justru terasa seperti cara yang lebih aman untuk terhubung.
Jika lawan bicara ikut terlibat dalam konflik, mereka merasa mendapatkan kedekatan yang diinginkan.
Namun jika orang lain memilih menjauh, perasaan itu justru berubah menjadi kesepian mendalam.
Rasa terhubung yang dibangun lewat konflik cenderung tidak stabil dan mudah runtuh.
Pola ini membuat hubungan terasa aman sesaat, tetapi rapuh dalam jangka panjang.
3. Memiliki rasa percaya diri yang rendah
Orang dengan akuntabilitas rendah sering menyimpan ketakutan besar terhadap penolakan dan keterikatan berlebihan.
Mereka juga takut merasa sendirian tanpa dukungan atau perhatian dari orang lain.
Perasaan tidak berdaya dan rasa tidak aman sering bersembunyi di balik sikap tegas mereka.
Kemarahan dan sikap menyalahkan membuat mereka merasa sedikit lebih berkuasa untuk sesaat.
Padahal kekuatan sejati justru datang dari kendali terhadap diri sendiri, bukan orang lain.
Mengendalikan orang lain mungkin terasa memuaskan, tetapi rasa aman itu tidak bertahan lama.
Ketika orang lain menjauh, membenci, melawan, atau bahkan pergi, rasa cemas justru meningkat.
Pola pikir ini pada akhirnya memperkuat rasa tidak aman yang sudah ada sejak awal.
4. Takut menghadapi kerentanan emosi
Orang dengan integritas rendah biasanya sangat takut menghadapi perasaan rentan dalam dirinya.
Perasaan seperti kesepian, ketidakberdayaan, kehampaan, dan kecemasan terasa terlalu berat untuk dihadapi.
Kemarahan dan sikap menyalahkan sering digunakan untuk menutupi perasaan yang sebenarnya itu.
Mereka belum memiliki cara sehat untuk mengelola rasa sakit emosional yang muncul.
Padahal sikap marah dan menyalahkan sebenarnya adalah bentuk pengabaian terhadap diri sendiri.
Mereka sering meyakini bahwa orang lain atau masa lalu adalah penyebab rasa sakitnya.
Namun sumber rasa sakit sesungguhnya adalah penolakan untuk mengambil tanggung jawab atas perasaan sendiri.
Selama pola ini berlanjut, kemarahan akan terus menjadi tameng bagi luka yang tersembunyi.
5. Meyakini rasa sakit selalu disebabkan orang lain
Orang tanpa akuntabilitas hampir selalu meyakini rasa sakitnya berasal dari tindakan orang lain.
Mereka jarang menyadari bahwa pengabaian terhadap diri sendiri turut memicu penderitaan itu.
Keyakinan ini membuat mereka merasa berhak menyalahkan orang lain atas perasaan yang muncul.
Selama emosi seperti amarah, ketakutan, dan rasa bersalah dianggap berasal dari luar diri.
Mereka akan terus memposisikan diri sebagai korban dalam berbagai situasi kehidupan.
Pola pikir ini juga mendorong mereka untuk terus berusaha mengendalikan orang di sekitarnya.
Belajar bertanggung jawab penuh atas perasaan sendiri menjadi kunci keluar dari pola ini.
Proses mengelola emosi dengan jujur adalah langkah nyata menuju integritas yang sesungguhnya.
***