← Beranda
6 Gejala Ketidakseimbangan Hormon yang Kerap Dianggap Sepele, Apa Saja?
Rabbany WanadrianiSenin, 20 Juli 2026 | 23.15 WIB
ilustrasi orang yang stres. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Perubahan kecil pada tubuh sering kali dianggap sebagai hal yang wajar, seperti mudah lelah, munculnya jerawat secara tiba-tiba, atau keinginan mengonsumsi makanan manis saat sedang stres. Padahal, dalam beberapa kasus, keluhan tersebut bisa menjadi sinyal bahwa tubuh sedang mengalami ketidakseimbangan hormon.

Hormon berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk metabolisme, suasana hati, energi, hingga kesehatan reproduksi. Ketika kadarnya tidak seimbang, tubuh dapat mengirimkan berbagai tanda yang sering kali luput dari perhatian atau dianggap sebagai masalah ringan.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala-gejala yang muncul sejak dini agar penyebabnya dapat dievaluasi dengan tepat. Mengutip ulasan dari UCLA Health, berikut enam sinyal yang dapat menjadi indikasi adanya ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Baca Juga: Pakar Kimia: Tidak Ada Bukti Klinis BPA pada galon PC Sebabkan Gangguan Hormon, Reproduksi, dan Kanker

1. Rambut rontok dan kulit kering

Ketika rambut terlalu banyak menempel di sisir, Anda hanya mengganti sampo atau melakukan perawatan salon.

Padahal, ini adalah tanda klasik kekurangan zat besi laten, hipotiroidisme, atau kekurangan vitamin D dan seng.

Jika kelenjar tiroid kekurangan hormon atau tubuh mengalami anemia kronis, tubuh mulai menghemat sumber daya, terutama menghentikan nutrisi untuk folikel rambut.

2. Keinginan makan manis dan sulit konsentrasi

Jika setelah makan siang Anda merasa sangat ingin hidangan manis dan tanpa secangkir kopi, sulit fokus pada tugas pekerjaan, ini adalah manifestasi jelas dari resistensi insulin atau fluktuasi gula darah yang tajam.

Ketika sel kehilangan sensitivitas terhadap insulin, glukosa tidak dapat masuk ke jaringan.

Akibatnya, otak, meskipun sudah makan kenyang, terus kelaparan dan membutuhkan energi dengan cepat.

Kondisi ini juga sering kali merupakan akibat dari tingginya kadar hormon stres kortisol, yang melelahkan kelenjar adrenal.

3. Kelelahan kronis setelah bangun tidur

Kondisi di mana Anda baru bangun tidur tetapi sudah merasa lelah meskipun sudah tidur selama delapan jam telah menjadi hal yang biasa bagi banyak orang saat ini.

Selain kekurangan zat besi yang parah, ketika jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen, ini juga merupakan akibat dari ketidakseimbangan hormon.

Paling sering, kelelahan di pagi hari seperti itu menunjukkan ketidakseimbangan antara progesteron dan estrogen, atau mungkin merupakan tanda awal hipotiroidisme subklinis.

4. Perubahan suasana hati

Ketika emosi berubah dari menangis menjadi agresif dalam hitungan menit, sebagian wanita menyalahkan sindrom pramenstruasi.

Namun, PMS yang terlalu parah bukanlah hal yang normal secara fisiologis, karena hal itu secara langsung menandakan dominasi estrogen yang dikombinasikan dengan kekurangan progesteron.

Selain itu, kecemasan kronis dan ketegangan batin sering kali berkaitan erat dengan kekurangan magnesium dan vitamin B, yang sangat penting untuk stabilitas sistem saraf.

5. Jerawat yang muncul tiba-tiba

Ketika masa remaja sudah lama berlalu, tetapi jerawat subkutan yang menyakitkan muncul di wajah terutama di garis rahang, dagu, dan leher, perawatan kosmetik hanya akan memberikan efek sementara.

Ini adalah penanda jelas hiperandrogenisme, peningkatan hormon seks pria atau peningkatan sensitivitas reseptor kulit terhadapnya.

Jerawat pada orang dewasa sangat sering dikaitkan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) dan resistensi insulin, yang menunjukkan bahwa masalahnya terletak jauh di dalam proses metabolisme.

6. Sering terbangun di malam hari

Jika Anda mudah tertidur tetapi selalu terbangun pukul 3-4 pagi karena merasa cemas dan tidak bisa tidur kembali hingga subuh, ini jelas merupakan gangguan biologis pada ritme sirkadian.

Normalnya, kadar kortisol seharusnya paling rendah di malam hari dan mencapai puncaknya di pagi hari.

Namun stres kronis memaksa kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon ini di tengah malam, yang langsung membangunkan otak.

Pada wanita di atas 40 tahun, terbangun di malam hari disertai rasa panas juga dapat mengindikasikan fluktuasi hormonal dini sebelum menopause.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho