← Beranda
5 Momen Titik Terendah yang Menjadi Awal untuk Bangkit dari Keterpurukan Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalJumat, 17 Juli 2026 | 01.49 WIB
Momen titik terendah yang menjadi awal untuk bangkit dari keterpurukan menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Setiap individu dipastikan akan melewati suatu fase kehidupan yang sangat menguji ketahanan mental serta emosional mereka.

Kondisi sulit tersebut sering kali membuat seseorang merasa sedang berada pada titik terendah dalam hidup mereka.

Meskipun demikian situasi menyakitkan ini sebenarnya menjadi momentum terbaik bagi kita untuk segera bangkit dari keterpurukan.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (16/7), berikut lima momen titik terendah yang menjadi awal untuk bangkit dari keterpurukan menurut psikologi.

1. Kegagalan hubungan percintaan

Kematian rasa akibat perpisahan dengan pasangan terkasih sering kali membuat dunia seolah berhenti berputar secara mendadak.

Masa-masa penuh kesedihan mendalam dan air mata ini memang terasa sangat menyiksa bagi siapapun yang mengalaminya.

Namun kamu harus menyadari bahwa kepedihan ini sesungguhnya merupakan sebuah berkah tersembunyi yang menyelamatkan masa depanmu.

Hubungan yang kandas bertugas menyingkirkan orang-orang yang keliru agar ruang hidupmu siap menerima sosok yang tepat.

Pengalaman pahit ini memberikan pelajaran berharga yang akan mendewasakan cara pandangmu dalam menjalin ikatan emosional baru.

Jadikan momentum patah hati ini sebagai lembaran awal untuk membangun kisah hidup yang jauh lebih bahagia.

2. Perubahan arah tujuan hidup

Keinginan untuk mengubah rencana masa depan secara total sering kali mendatangkan rasa cemas yang sangat hebat.

Situasi membingungkan ini merupakan hal yang sepenuhnya wajar karena dinamika pemikiran manusia akan terus berkembang seiring waktu.

Kamu tidak perlu merasa bersalah ketika harus memutar kemudi dan mengambil keputusan untuk memulai segalanya dari awal.

Langkah berani ini jauh lebih baik daripada terjebak dalam rutinitas yang dibenci hanya karena takut menghadapi perubahan.

Mengejar impian baru yang sesuai hati nurani akan memberikan kepuasan batin yang tidak ternilai harganya nanti.

Terimalah proses transisi ini dengan lapang dada demi mewujudkan masa depan yang jauh lebih cerah dan bermakna.

3. Kehilangan ikatan tali pertemanan

Hubungan persahabatan yang telah terjalin lama bisa saja memudar dan berakhir akibat tuntutan situasi serta kondisi tertentu.

Momen-momen sulit dalam kehidupan biasanya akan memperlihatkan sifat asli dan kualitas sesungguhnya dari orang-orang di sekitarmu.

Kamu disarankan untuk merelakan kepergian mereka daripada mempertahankan hubungan beracun yang terus menguras energi serta kebahagiaanmu.

Jangan memaksakan diri untuk membenarkan tindakan orang lain yang jelas-jelas telah mengecewakan dan merugikan ketulusan hatimu.

Siklus pertemanan memang akan selalu datang dan pergi silih berganti sepanjang perjalanan usia manusia di dunia ini.

Percayalah bahwa orang-orang terbaik yang tulus akan tetap bertahan mendampingi langkahmu melewati berbagai badai kehidupan nyata.

4. Penolakan dalam dunia kerja

Mendapati kenyataan bahwa lamaran pekerjaan impianmu ditolak pasti akan menimbulkan rasa kecewa yang sangat mendalam sekali.

Kegagalan tersebut sering kali memicu munculnya perasaan tidak berharga dan keraguan atas kemampuan diri yang kamu miliki.

Sisi positifnya adalah penolakan ini menjadi petunjuk jelas bahwa posisi tersebut memang tidak cocok untuk dirimu.

Alam semesta sedang menjauhkanmu dari lingkungan yang salah demi menyelamatkan potensi besar yang ada di dalam dirimu.

Situasi menyakitkan ini sebenarnya sedang membuka jalan lebar bagi datangnya kesempatan berkarier yang jauh lebih menjanjikan lagi.

Tetaplah optimis karena peluang terbaik dan paling tepat akan menghampirimu pada waktu yang tidak pernah kamu duga.

5. Keterlambatan pencapaian target personal

Melihat teman sebaya sudah mencapai kemapanan finansial dan membangun keluarga sering kali memicu munculnya tekanan batin tersendiri.

Kondisi tersebut bukan berarti kamu mengalami ketertinggalan ataupun kegagalan dalam menjalani proses perkembangan kehidupan yang dinamis.

Setiap pencapaian besar seperti pernikahan maupun kesuksesan karier membutuhkan persiapan matang serta kesabaran yang sangat ekstra.

Kamu harus menghargai keunikan proses pertumbuhan diri sendiri tanpa perlu membandingkannya dengan standar keberhasilan orang lain.

Fokuslah untuk terus memperbaiki kualitas diri dan mempersiapkan mental dengan sebaik mungkin setiap harinya secara konsisten.

Momentum keberhasilan yang kamu impikan pasti akan datang menemui kehidupanmu pada waktu yang paling tepat nanti.

 

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti