← Beranda
Standar Kecantikan AI Makin Tidak Realistis? Ini 5 Fakta Dampaknya bagi Citra Tubuh dan Kepercayaan Diri
Niko SulpriyonoSabtu, 4 Juli 2026 | 21.59 WIB
ilustrasi AI (Freepik)

JawaPos.com - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia menciptakan dan menikmati konten visual. 

Dalam hitungan detik, AI mampu menghasilkan gambar manusia dengan wajah simetris, tubuh proporsional, hingga penampilan yang tampak sempurna. Kemudahan tersebut menjadi salah satu inovasi terbesar di era digital.

Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, muncul persoalan yang mulai mendapat perhatian para peneliti. 

Gambar yang dihasilkan AI tidak selalu mencerminkan kondisi nyata masyarakat. Sebaliknya, teknologi ini justru berpotensi memperkuat standar kecantikan yang selama ini dianggap ideal oleh media.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Popular Media mengungkap bahwa AI cenderung menghasilkan representasi tubuh yang sangat ramping, berotot, dan minim keberagaman. 

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, terutama ketika gambar-gambar AI semakin banyak digunakan di media sosial, periklanan, hingga dunia olahraga.

Simak selengkapnya yang dirangkum dari psychology pada Psychologytoday pada Sabtu (04/07).

1. AI Cenderung Menghasilkan Tubuh yang Terlalu Sempurna

Penelitian yang dilakukan oleh Delaney E. Thibodeau bersama tim dari University of Toronto menunjukkan bahwa berbagai platform AI, seperti MidJourney, Stable Diffusion, dan DALL-E, menghasilkan pola visual yang serupa. 

Atlet maupun masyarakat umum sering digambarkan memiliki tubuh yang sangat ramping dengan otot yang terbentuk secara ideal.

Temuan tersebut bukan berarti AI menciptakan standar kecantikan baru. 

Sebaliknya, AI mempelajari jutaan gambar yang telah beredar di internet, kemudian mengulang pola yang paling sering muncul. 

Akibatnya, tubuh dengan karakteristik tertentu menjadi lebih dominan dibandingkan bentuk tubuh lainnya.

Fenomena ini membuat banyak orang tanpa sadar menganggap tubuh tersebut sebagai kondisi yang normal. 

Padahal, bentuk tubuh manusia di dunia nyata memiliki variasi yang jauh lebih luas daripada yang ditampilkan AI.

2. Standar Kecantikan AI Berpotensi Memengaruhi Citra Tubuh

Psikologi telah lama menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan melakukan perbandingan sosial. 

Ketika seseorang terus-menerus melihat gambar tubuh yang dianggap sempurna, muncul dorongan untuk membandingkan dirinya dengan representasi tersebut.

Jika dilakukan secara berulang, perbandingan tersebut dapat memunculkan rasa tidak puas terhadap bentuk tubuh sendiri. 

Dampaknya bukan hanya menurunkan rasa percaya diri, tetapi juga memengaruhi kebiasaan makan, pola olahraga, hingga kesehatan mental.

Keberadaan AI membuat proses ini semakin kompleks. 

Tidak seperti fotografi konvensional yang membutuhkan proses panjang, AI mampu menghasilkan ribuan gambar ideal dalam waktu singkat sehingga paparan terhadap standar tubuh yang tidak realistis menjadi semakin sering.

3. Atlet Menghadapi Tekanan Penampilan yang Lebih Besar

Dalam dunia olahraga, kemampuan fisik seharusnya menjadi ukuran utama keberhasilan seorang atlet. 

Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa AI lebih sering menampilkan atlet sebagai objek visual yang menarik dibandingkan individu yang sedang menunjukkan performa olahraga.

Banyak gambar memperlihatkan atlet dengan pose yang menonjolkan bentuk tubuh, bukan aktivitas olahraga yang sedang dilakukan. 

Hal tersebut secara tidak langsung menggeser fokus dari kemampuan menuju penampilan fisik.

Tekanan tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya ketidakpuasan terhadap tubuh, latihan fisik yang berlebihan, hingga pola makan yang tidak sehat. 

Kondisi ini tidak hanya dialami atlet cabang olahraga tertentu, tetapi juga dapat terjadi pada berbagai jenis olahraga.

4. AI Masih Minim Menampilkan Keberagaman Bentuk Tubuh

Salah satu temuan paling mencolok dalam penelitian adalah minimnya variasi tubuh yang dihasilkan AI. 

Perbedaan usia, ukuran tubuh, tingkat lemak tubuh, kondisi disabilitas, maupun karakteristik fisik lainnya sangat jarang ditampilkan.

Perempuan menjadi kelompok yang mengalami representasi paling sempit. 

Sebagian besar gambar memperlihatkan tubuh dengan ukuran hampir seragam sehingga menciptakan kesan bahwa hanya satu bentuk tubuh yang layak dianggap menarik.

Padahal, keberagaman merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. 

Ketika variasi tersebut jarang muncul di ruang digital, masyarakat dapat kehilangan representasi yang mencerminkan kondisi nyata.

5. AI Seharusnya Menjadi Teknologi yang Lebih Inklusif

Para peneliti menilai AI sebenarnya memiliki potensi besar untuk menghadirkan representasi manusia yang lebih beragam. 

Teknologi ini mampu menghasilkan gambar dari berbagai kelompok usia, etnis, ukuran tubuh, maupun kondisi fisik apabila dilatih menggunakan data yang lebih inklusif.

Oleh karena itu, pengembang AI memiliki peran penting dalam menentukan data yang digunakan selama proses pelatihan sistem. 

Keputusan tersebut akan memengaruhi jenis representasi yang nantinya muncul di berbagai platform digital.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan literasi digital agar mampu memahami bahwa gambar AI bukanlah gambaran mutlak mengenai kondisi manusia. 

Dengan cara tersebut, pengguna dapat lebih kritis dalam menyikapi berbagai standar kecantikan yang muncul di internet.

AI Bukan Sekadar Cermin, tetapi Dapat Membentuk Cara Pandang

Kemajuan AI memberikan manfaat besar dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga industri kreatif. 

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknologi ini juga dapat memperkuat standar kecantikan yang tidak realistis apabila tidak dikembangkan secara bertanggung jawab.

Semakin sering seseorang terpapar gambar tubuh yang tampak sempurna, semakin besar kemungkinan muncul persepsi bahwa bentuk tubuh tersebut merupakan standar yang harus dicapai. Padahal, kondisi tersebut tidak mencerminkan keberagaman manusia yang sesungguhnya.

Karena itu, penting bagi pengembang teknologi, pelaku industri, dan masyarakat untuk mendorong penggunaan AI yang lebih inklusif. 

Dengan representasi yang lebih beragam, AI tidak hanya menjadi teknologi canggih, tetapi juga mampu menciptakan ruang digital yang lebih sehat, adil, dan menghargai setiap bentuk tubuh manusia.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho