← Beranda
11 Perilaku Pasif Agresif Karyawan yang Benci Kerja di Tempat Kerjanya Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalRabu, 1 Juli 2026 | 18.15 WIB
Perilaku pasif agresif karyawan yang benci kerja di tempat kerjanya menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Banyak karyawan yang diam-diam benci kerja namun tidak pernah menunjukkannya secara terbuka kepada rekan atau atasan mereka.

Psikologi menjelaskan bahwa perasaan ini sering tersalurkan melalui perilaku pasif agresif yang halus namun konsisten di tempat kerja.

Perilaku tersebut tidak selalu disadari oleh pelakunya sendiri, namun sangat terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (30/6), berikut  sebelas perilaku pasif agresif yang sering ditunjukkan seseorang yang sebenarnya tidak menyukai pekerjaannya saat ini.

1. Tidak melakukan lebih dari deskripsi pekerjaan

Karyawan yang diam-diam benci kerja cenderung menolak tanggung jawab tambahan di luar tugas resmi mereka.

Mereka memilih bekerja seminimal mungkin agar tidak menarik perhatian berlebihan dan tetap memiliki ruang hidup di luar pekerjaan.

2. Mengumpulkan tugas melewati tenggat waktu

Keterlambatan yang berulang tanpa alasan jelas bisa menjadi tanda ketidakpuasan yang disalurkan secara tidak langsung.

Jika pola ini terjadi terus-menerus dan tidak disebabkan faktor luar, kemungkinan besar itu adalah bentuk pemberontakan diam-diam.

3. Menolak menerima pujian atas pencapaian

Karyawan yang membenci pekerjaannya cenderung menghindari pujian karena tidak ingin diberi tanggung jawab lebih banyak lagi.

Mereka tidak mencari validasi dari rekan kerja karena opini orang lain di tempat kerja tidak lagi berarti bagi mereka.

4. Menghindari pertanyaan personal dari rekan kerja

Percakapan dengan rekan kerja dijaga tetap di permukaan, menghindari topik yang bisa mengungkap perasaan sebenarnya.

Saat ditanya tentang tujuan karier jangka panjang, mereka memberikan jawaban singkat dan kabur untuk menjaga kerahasiaan ketidakpuasan mereka.

5. Enggan terhubung dengan rekan kerja secara personal

Mereka tetap sopan dalam interaksi profesional namun menolak ajakan ngobrol santai atau acara kumpul setelah jam kerja.

Batas yang tegas antara kehidupan kerja dan pribadi ini mencerminkan seberapa jauh mereka menarik diri dari budaya kantor.

6. Hanya berbagi ide saat diminta secara langsung

Mereka cenderung pasif dalam rapat, hanya memberikan jawaban seperlunya ketika ditanya langsung oleh atasan.

Pendekatan ini menjaga mereka tetap aman tanpa harus menunjukkan keterlibatan emosional terhadap arah perusahaan.

7. Tidak menghias ruang kerja sama sekali

Ruang kerja yang dibiarkan kosong tanpa sentuhan personal mencerminkan kurangnya keterikatan emosional terhadap peran mereka.

Tidak adanya dekorasi juga membuat mereka lebih mudah pergi sewaktu-waktu tanpa harus mengemasi banyak barang.

8. Sering mengambil waktu istirahat

Mereka cenderung mengambil jeda lebih sering dibanding rekan kerja lainnya, termasuk waktu makan siang penuh dan kopi sore.

Penelitian menunjukkan bahwa istirahat singkat sebenarnya bermanfaat bagi kesejahteraan fisik dan emosional, meski terkesan kurang produktif.

9. Menghindari acara sosial kantor

Mereka selalu memiliki alasan siap pakai untuk menghindari acara sosialisasi yang diwajibkan oleh perusahaan.

Sosialisasi yang dipaksakan justru sering menimbulkan rasa terkekang karena menghilangkan otonomi pribadi seseorang dalam memilih.

10. Bahasa tubuh yang selalu tegang

Lengan yang terus menyilang dan bahu yang tegang menjadi tanda fisik dari ketidaknyamanan yang tersembunyi.

Gelisah saat rapat, seperti mengetuk jari atau menggoyangkan kaki, menunjukkan seberapa dalam ketidaknyamanan yang mereka rasakan.

11. Sering mengambil cuti sakit

Ketidakpuasan terhadap pekerjaan dapat meningkatkan tingkat stres dan memicu lebih banyak izin sakit dibanding rekan lainnya.

Mengingat banyak pekerja tidak memiliki akses cuti sakit berbayar, kondisi ini juga mencerminkan ketimpangan struktural yang lebih luas.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti