← Beranda
8 Cara Mendidik Anak Zaman Dulu yang Ternyata Masih Dianggap Paling Efektif oleh Para Ahli
Vindi Rayinda AyudyaSenin, 29 Juni 2026 | 19.20 WIB
Ilustrasi orang tua dan anaknya. (Magnific)

 

 

JawaPos.Com - Cara mendidik anak terus berkembang mengikuti perubahan zaman. 

Teknologi, media sosial, hingga gaya hidup modern membuat tantangan yang dihadapi orang tua saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. 

Meski demikian, banyak pakar perkembangan anak berpendapat bahwa sejumlah prinsip pengasuhan dari generasi terdahulu tetap memiliki nilai yang kuat dan masih relevan hingga sekarang.

Bukan berarti semua pola asuh zaman dulu layak diterapkan kembali. Beberapa pendekatan, seperti hukuman fisik atau komunikasi yang terlalu keras, justru tidak lagi direkomendasikan. 

Namun, berbagai kebiasaan sederhana yang menanamkan tanggung jawab, kedisiplinan, empati, dan kemandirian masih didukung oleh banyak penelitian psikologi perkembangan.

Dilansir dari Yourtango, inilah delapan cara mendidik anak yang umum diterapkan pada masa lalu dan hingga kini masih dianggap efektif oleh banyak ahli ketika dilakukan secara seimbang dan penuh kasih sayang.

1. Mengajarkan Tanggung Jawab Sejak Usia Dini

Pada masa lalu, anak-anak sering diajak membantu pekerjaan rumah sesuai usia mereka. 

Mulai dari merapikan tempat tidur, menyapu halaman, menyiram tanaman, hingga membantu menyiapkan meja makan.

Kini, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa memberi tanggung jawab sederhana membantu anak membangun rasa percaya diri, disiplin, dan kemampuan menyelesaikan tugas.

Yang terpenting bukan hasil pekerjaannya sempurna, melainkan proses belajar bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran.

Anak yang terbiasa bertanggung jawab sejak kecil cenderung lebih mandiri ketika tumbuh dewasa.

2. Membiasakan Menghormati Orang Lain

Generasi terdahulu umumnya menanamkan pentingnya mengucapkan salam, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, serta menghormati orang yang lebih tua maupun teman sebaya.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut membantu anak mengembangkan empati, kemampuan berinteraksi, dan rasa hormat terhadap orang lain.

Di era modern, kemampuan sosial seperti ini justru semakin penting karena menjadi dasar hubungan yang sehat di sekolah, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat.

3. Memberikan Contoh, Bukan Hanya Nasihat

Salah satu prinsip pengasuhan yang tetap relevan hingga kini adalah pentingnya keteladanan.

Orang tua zaman dulu sering mengajarkan nilai melalui tindakan sehari-hari, seperti bekerja keras, bersikap jujur, membantu tetangga, atau menghormati anggota keluarga.

Psikologi menyebut proses ini sebagai pembelajaran melalui pengamatan. 

Anak cenderung meniru perilaku yang paling sering mereka lihat dibandingkan hanya mendengarkan nasihat.

Karena itu, contoh nyata sering memiliki pengaruh yang lebih kuat daripada kata-kata.

4. Mengajarkan Kesabaran dalam Mendapatkan Sesuatu

Pada masa lalu, anak tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan saat itu juga. 

Mereka belajar menabung, menunggu hari ulang tahun, atau bekerja lebih dulu untuk memperoleh sesuatu.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan berkaitan dengan pengendalian diri, kemampuan mengambil keputusan, dan ketahanan menghadapi tantangan.

Bukan berarti orang tua harus selalu menolak keinginan anak, tetapi membantu mereka memahami bahwa usaha dan kesabaran merupakan bagian penting dalam mencapai tujuan.

5. Memberikan Kesempatan Bermain Bebas

Anak-anak zaman dulu menghabiskan banyak waktu bermain di luar rumah bersama teman sebaya.

Melalui permainan, mereka belajar bekerja sama, menyelesaikan konflik, bernegosiasi, mengambil keputusan, dan menghadapi kekalahan.

Para ahli perkembangan anak masih menganggap permainan bebas sebagai bagian penting dalam membangun kreativitas, kemampuan sosial, dan kecerdasan emosional.

Di era digital, keseimbangan antara aktivitas layar dan permainan langsung tetap menjadi hal yang sangat dianjurkan.

6. Menjalin Kebersamaan dalam Keluarga

Makan bersama, berbincang di teras rumah, atau berkumpul pada malam hari merupakan kebiasaan yang cukup umum pada masa lalu.

Psikologi keluarga menunjukkan bahwa kebersamaan seperti ini membantu anak merasa aman, diterima, dan memiliki tempat untuk berbagi cerita.

Hubungan yang hangat di dalam keluarga juga berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik serta kemampuan anak menghadapi tekanan di luar rumah.

Yang paling penting bukan lamanya waktu bersama, melainkan kualitas interaksi yang terjalin.

7. Mengajarkan Nilai Kejujuran Sejak Kecil

Orang tua zaman dulu umumnya sangat menekankan pentingnya berkata jujur, meskipun melakukan kesalahan.

Saat anak berani mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan, mereka belajar bahwa kejujuran lebih berharga daripada mencari alasan.

Menurut psikologi, lingkungan yang mendorong komunikasi terbuka membantu anak mengembangkan integritas dan rasa tanggung jawab terhadap tindakannya.

Kejujuran yang ditanamkan sejak dini menjadi bekal penting dalam hubungan sosial maupun dunia kerja ketika dewasa.

8. Memberikan Kasih Sayang Sekaligus Batasan yang Jelas

Salah satu pelajaran paling berharga dari banyak keluarga pada masa lalu adalah keseimbangan antara kasih sayang dan kedisiplinan.

Anak diberikan perhatian, tetapi juga diajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. 

Mereka memahami aturan yang berlaku di rumah sekaligus mengetahui bahwa orang tua tetap mencintai mereka.

Psikologi perkembangan menyebut pendekatan ini sebagai salah satu pola asuh yang paling efektif, yaitu menggabungkan kehangatan emosional dengan batasan yang konsisten.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung memiliki rasa percaya diri yang baik, mampu mengendalikan diri, serta lebih mudah membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti