← Beranda
10 Alasan Generasi Muda Gen Z Lebih Benci AI Dibanding Generasi Boomer dan Gen X
Mohammad Maulana IqbalKamis, 18 Juni 2026 | 14.29 WIB
Alasan generasi muda gen Z lebih benci AI dibanding generasi boomer dan gen X / foto : Magnific/ jcomp

JawaPos.com – Gen Z dan generasi muda lainnya memiliki alasan-alasan valid yang sangat nyata untuk membenci AI jauh lebih dalam dibandingkan boomer dan Gen X.

Survei terbaru menunjukkan bahwa rasa harapan awal Gen Z terhadap AI dengan cepat berubah menjadi kecemasan dan kemarahan setelah menyaksikan dampak nyatanya.

Generasi muda yang sering diejek karena menentang AI sebenarnya menyuarakan kekhawatiran yang sangat mendasar tentang masa depan kreativitas, pekerjaan, dan planet ini.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (18/6), berikut sepuluh alasan valid mengapa Gen Z sebagai generasi muda membenci AI jauh lebih dalam dari boomer maupun Gen X yang lebih tua.

Baca Juga: 10 Tren Self Care 2026 ala Gen Z untuk Cegah Burn Out, Dari Digital Detox hingga Healing Sederhana

1. Sudah sangat khawatir tentang dampak AI terhadap perubahan iklim

Studi tahun 2021 menemukan bahwa lebih dari 60 persen Gen Z menyebut diri mereka sangat khawatir tentang perubahan iklim dan mengalami peningkatan kecemasan karenanya.

Meningkatnya permintaan AI secara langsung berdampak pada emisi gas rumah kaca, konsumsi energi, dan penggunaan air dalam jumlah yang sangat mengkhawatirkan.

Ketika orang menggunakan AI untuk pertanyaan sepele yang sebenarnya bisa dijawab sendiri, generasi muda semakin frustrasi karena menyadari betapa tidak perlu dan boros dampaknya.

2. AI mematikan kreativitas mereka

Banyak anak muda yang sangat digerakkan oleh gagasan tentang tujuan dan makna dalam pekerjaan merasa tersinggung oleh penggunaan AI yang terus-menerus.

Mereka khawatir bahwa alat berbasis kemudahan ini menghilangkan pemikiran orisinal dan kreativitas dari kehidupan sehari-hari, dan sebuah studi dari University of Pennsylvania membenarkan kekhawatiran itu.

Di internet, anak muda terinspirasi oleh kreativitas sesama mereka, namun AI justru mengikis inspirasi tersebut dengan menawarkan kemudahan yang menurunkan standar berpikir.

3. Berisiko menerima informasi yang menyesatkan

Semakin banyak misinformasi yang dihasilkan AI yang ditemui anak muda, semakin besar kekhawatiran mereka tentang kualitas informasi yang tersedia di internet.

Mereka telah menyaksikan bagaimana berita palsu dan konten bertenaga AI merusak kepercayaan terhadap informasi medis dan memperparah polarisasi di berbagai kelompok.

Alat AI secara bersamaan mengurangi kemampuan berpikir kritis masyarakat sambil meningkatkan jumlah informasi palsu yang tersebar dengan sangat cepat tanpa batas.

4. Khawatir tentang masa depan pendidikan dan kemampuan berpikir mandiri

Banyak anak muda sangat mengkhawatirkan masa depan pendidikan karena mereka sendiri sudah merasakan godaan kemudahan AI sejak terjun ke dunia kerja.

Mereka juga mencemaskan generasi yang lebih muda lagi yang mungkin akan mengabaikan tantangan sehat yang merangsang pertumbuhan demi kemudahan instan yang ditawarkan teknologi.

Pertanyaannya adalah apakah anak-anak yang tumbuh dengan AI akan memilih kemudahan atau memilih tantangan yang benar-benar membentuk kemampuan berpikir mereka secara mendalam.

5. Khawatir tentang kekuatan keuntungan finansial yang mendorong pengembangan AI

Meskipun berbagi banyak kekhawatiran yang sama dengan generasi lain, anak muda lebih takut bahwa daya tarik keuntungan dan uang akan mengabaikan dampaknya pada masa depan manusia.

Banyak sistem AI dirancang untuk menghilangkan kebutuhan akan sentuhan manusia, yang juga menciptakan ketiadaan tanggung jawab ketika sesuatu berjalan sangat salah.

Bagi generasi seperti Gen Z yang sangat terobsesi dengan akuntabilitas, mengejar keuntungan tanpa memahami konsekuensi hanya memperparah kemarahan mereka terhadap AI.

6. Sudah frustrasi dengan pasar kerja yang semakin sempit

Banyak janji yang diberikan kepada anak muda saat tumbuh besar, seperti bahwa gelar sarjana cukup untuk sukses profesional, ternyata tidak terbukti dalam realitas mereka.

Banyak dari mereka berjuang menemukan pekerjaan sambil terbelit pinjaman mahasiswa yang mereka ambil karena tekanan sosial tanpa penghasilan stabil untuk melunasinya.

Dengan pemutusan hubungan kerja besar-besaran yang didorong AI di berbagai industri, kebencian Gen Z terhadap perubahan yang disebabkan AI semakin kuat dan mendalam.

7. Sudah sangat cemas dan AI memperburuk kondisi tersebut

Laporan APA tentang Stres di Amerika menggambarkan betapa Gen Z dan anak muda lainnya sangat kewalahan oleh stres dan kecemasan dalam kehidupan dewasa mereka.

Ketidakamanan pekerjaan, krisis kesehatan mental yang diperparah media sosial, dan berbagai tantangan spesifik generasi sudah membuat mereka beroperasi dari tempat ketakutan.

Ketidakpastian yang dibawa AI ke dalam kehidupan mereka hanya menambah lapisan kecemasan di atas beban yang sudah sangat berat untuk ditanggung.

8. Ingin tetap berharap tentang masa depan namun AI menghalanginya

Sebuah studi dari Elon University menemukan bahwa Gen Z sebenarnya menyimpan harapan lebih besar tentang masa depan dibandingkan generasi lainnya saat ini.

Namun AI secara langsung mendorong balik harapan itu, mulai dari masa depan pendidikan hingga pekerjaan berbasis kreativitas dan stabilitas ekonomi yang mereka impikan.

Frustrasi mereka juga berasal dari kenyataan bahwa merekalah generasi yang harus menghabiskan hidup mengadvokasi melawan hambatan teknologi yang didorong keuntungan ini.

9. Lelah tidak didengarkan padahal kekhawatiran mereka sangat nyata

Gen Z merasa relatif sendirian dalam perjuangan dan kekhawatiran mereka, meski sebenarnya keprihatinan tentang AI yang mereka suarakan sangat logis dan berdasar.

Berbeda dengan generasi yang lebih tua yang bisa mematikan ponsel dan menghindari AI, anak muda hampir tidak bisa berpaling tanpa harus berhadapan dengan teknologi ini.

Di tempat kerja maupun kehidupan pribadi, mereka terus-menerus dipaksa mendiskusikan AI atau bahkan menggunakannya, sesuatu yang tidak dialami generasi sebelumnya dalam skala yang sama.

10. Lebih banyak mengonsumsi berita online dan lebih terpapar dampak AI

Dengan budaya informasi palsu, judul clickbait yang sarat emosi, dan rutinitas yang hampir sepenuhnya berkisar pada media sosial, wajar sekali Gen Z lebih marah tentang AI.

Mereka lebih banyak terpapar AI sebagai alat maupun sebagai diskursus yang mengitarinya, baik yang positif maupun yang sangat negatif setiap kali membuka ponsel.

Sementara orang tua dan kakek nenek mereka bisa menghindari stres ini dengan tetap tidak terhubung, Gen Z selalu dihadapkan pada kisah-kisah mengerikan tentang AI setiap hari.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho