← Beranda
Di Balik Dunia Kerja Modern! 4 Alasan Paling Absurd Karyawan Berprestasi Tinggi Bisa Dipecat, Dari Hal Sepele hingga Kebijakan Tak Masuk Akal
Zulfa Putri Hardiyati• Minggu, 26 April 2026 | 06.14 WIB
Di Balik Dunia Kerja Modern: 4 Alasan Paling Absurd Karyawan Berprestasi Tinggi Bisa Dipecat—Dari Hal Sepele hingga Kebijakan Tak Masuk Akal (CANVA)

JawaPos.com - Dalam dunia kerja modern, banyak orang percaya bahwa kinerja tinggi adalah jaminan keamanan karier. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Bahkan, sejumlah karyawan justru kehilangan pekerjaan mereka karena alasan yang terasa tidak masuk akal.

Dilansir dari YourTango, berbagai cerita dari forum seperti Reddit mengungkap pengalaman nyata para pekerja yang menyaksikan rekan kerja berprestasi dipecat karena hal-hal yang terbilang sepele hingga absurd.

Berikut empat alasan paling tidak masuk akal tersebut, lengkap dengan penjelasannya:

1.  Tuduhan ‘mencuri’ untuk hal yang sangat sepele

Beberapa karyawan diberhentikan karena dianggap mengambil barang milik perusahaan, meski nilainya sangat kecil dan tidak signifikan.
Contohnya, ada pekerja yang dipecat hanya karena menghirup helium dari balon kantor, atau mengambil sedikit krim kocok saat acara bersama.

Dalam kasus seperti ini, hukuman yang diberikan terasa tidak sebanding dengan tindakan yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian manajemen lebih fokus pada aturan kaku dibandingkan mempertimbangkan sisi kemanusiaan.

2. Sakit dan mengambil cuti dianggap pelanggaran
Secara logis, sakit adalah kondisi yang tidak bisa dihindari. Namun, beberapa perusahaan justru menjadikannya alasan pemecatan.

Ada pekerja yang dipecat hanya karena absen beberapa hari dalam setahun, bahkan setelah memberikan surat keterangan dokter.

Situasi ini memperlihatkan ironi dalam budaya kerja, di mana perusahaan sering mengklaim sebagai “keluarga”, tetapi tidak memberikan toleransi terhadap kebutuhan dasar karyawan untuk menjaga kesehatan.

3. Menyalahgunakan fleksibilitas kerja jarak jauh (WFH)
Era kerja remote memang memberi kebebasan, tetapi juga membuka celah bagi penyalahgunaan.
Beberapa kasus menunjukkan karyawan yang tidak benar-benar bekerja saat WFH, seperti tetap liburan saat hari kerja, tidak pernah login, atau memanipulasi jam kerja.

Namun yang menarik, dalam beberapa cerita, pelanggaran besar ini baru ditindak setelah terjadi kesalahan kecil lain—misalnya mengambil makanan milik rekan kerja. Ini menunjukkan inkonsistensi dalam penegakan aturan.

4. Terlambat sedikit, meski tetap bertanggung jawab
Ketepatan waktu memang penting, tetapi beberapa perusahaan menerapkannya secara terlalu kaku.
Ada karyawan yang selalu terlambat sekitar 20 menit karena mengantar anak ke sekolah, namun menggantinya dengan bekerja lebih lama.

Meski dikenal sebagai pekerja andal, ia tetap dipecat hanya karena satu kali keterlambatan. Ironisnya, perusahaan kemudian kesulitan dan harus mempekerjakannya kembali karena tidak ada yang mampu menggantikan perannya.

Pada akhirnya, kisah-kisah ini menggambarkan realitas bahwa keamanan kerja tidak selalu bergantung pada performa. Faktor kebijakan perusahaan, gaya kepemimpinan, hingga keputusan subjektif manajemen sering kali lebih menentukan.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa meskipun bekerja dengan maksimal itu penting, menempatkan seluruh hidup hanya pada pekerjaan bisa menjadi risiko tersendiri. Dunia kerja tidak selalu berjalan secara adil, dan memiliki keseimbangan hidup tetap menjadi hal yang tidak kalah penting.

EDITOR: Hanny Suwindari