← Beranda
5 Alasan Emosional yang Membuat Seseorang Sulit Melangkah Setelah Perceraian
Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 7 April 2026 | 14.00 WIB
Ilustrasi orang yang merenung. (Freepik)

JawaPos.Com - Perpisahan dalam sebuah pernikahan bukan hanya tentang berakhirnya sebuah ikatan, tetapi juga tentang runtuhnya harapan yang pernah dibangun bersama. 

Keputusan untuk berpisah mungkin telah diambil dengan berbagai pertimbangan, namun dampak emosional yang ditinggalkan tidak selalu mudah untuk dihadapi.

Setelah perceraian, kehidupan tidak langsung kembali berjalan seperti biasa. 

Perasaan kehilangan, kebingungan, hingga keraguan sering muncul silih berganti. 

Proses untuk bangkit dan melangkah ke depan membutuhkan waktu, bahkan bagi mereka yang terlihat kuat sekalipun.

Tidak sedikit orang yang merasa terjebak dalam fase ini. Bukan karena tidak ingin maju, tetapi karena berbagai faktor emosional yang masih mengikat. 

Dilansir dari Yourtango, inilah lima alasan yang sering menjadi penyebab seseorang sulit melangkah setelah perceraian.

1. Kenangan yang Masih Terasa Dekat

Hubungan yang pernah dijalani meninggalkan banyak kenangan, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Kenangan tersebut tidak hilang begitu saja ketika hubungan berakhir.

Hal-hal sederhana seperti tempat, lagu, atau kebiasaan sehari-hari bisa memicu ingatan yang kuat. 

Setiap kenangan yang muncul membawa kembali perasaan yang pernah dirasakan, membuat proses untuk melepaskan menjadi lebih sulit.

Ketika kenangan masih terasa dekat, pikiran cenderung kembali ke masa lalu. 

Hal ini membuat seseorang sulit fokus pada langkah ke depan, karena sebagian dirinya masih tertinggal di belakang.

2. Rasa Kehilangan yang Mendalam

Perceraian tidak hanya berarti kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan rutinitas, peran, dan kehidupan yang sudah terbiasa dijalani. Perubahan ini menciptakan ruang kosong yang tidak mudah diisi.

Rasa kehilangan sering kali datang dalam bentuk yang tidak terduga. Perasaan sepi, kesendirian, atau bahkan kebingungan dalam menjalani hari menjadi bagian dari proses tersebut.

Kehilangan yang mendalam membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri. 

Proses ini tidak bisa dipaksakan, karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapinya.

3. Rasa Bersalah yang Sulit Dilepaskan

Dalam banyak kasus, perceraian meninggalkan perasaan bersalah, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. 

Pertanyaan seperti “apa yang bisa dilakukan lebih baik” sering muncul tanpa henti.

Rasa bersalah ini bisa menjadi beban yang berat. Alih-alih fokus pada masa depan, pikiran terus berputar pada kesalahan yang dianggap pernah terjadi.

Perasaan ini juga dapat menghambat kepercayaan diri. Seseorang mungkin merasa tidak layak untuk memulai kembali, karena masih terjebak dalam penilaian terhadap diri sendiri.

4. Ketakutan untuk Memulai Kembali

Setelah mengalami kegagalan dalam hubungan, ketakutan untuk mengulangi hal yang sama menjadi sesuatu yang wajar. 

Ketidakpastian terhadap masa depan membuat langkah ke depan terasa lebih berat.

Ketakutan ini tidak selalu disadari. Bisa muncul dalam bentuk keraguan, keengganan untuk membuka diri, atau keinginan untuk menghindari hubungan baru.

Perasaan ini menjadi penghalang yang membuat seseorang tetap berada di zona aman, meskipun sebenarnya ingin melangkah. Proses untuk kembali percaya membutuhkan waktu dan keberanian.

5. Identitas Diri yang Perlu Dibangun Ulang

Dalam pernikahan, identitas sering kali terbentuk sebagai bagian dari hubungan. 

Ketika hubungan tersebut berakhir, seseorang perlu menemukan kembali dirinya sebagai individu yang utuh.

Proses ini tidak selalu mudah. Perubahan peran dan status dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri. Pertanyaan tentang siapa diri sebenarnya bisa muncul dalam fase ini.

 

Membangun kembali identitas membutuhkan waktu dan refleksi yang mendalam. 

Proses ini menjadi penting agar seseorang dapat melangkah dengan lebih percaya diri di masa depan.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti