JawaPos.com - Banyak orang merasa hidupnya stagnan, seolah tidak punya kendali atas arah yang dijalani.
Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari, sebuah kondisi ketika seseorang percaya bahwa usaha apa pun tidak akan mengubah keadaan.
Menurut Farley Ledgerwood, penulis di Global English Editing, kondisi ini sering berkembang secara perlahan dan tanpa disadari.
Ia sendiri pernah mengalaminya saat kehilangan pekerjaan di usia pertengahan. Alih-alih bergerak, ia justru menunggu perubahan datang dengan sendirinya, sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Dari pengalaman tersebut, Farley mengidentifikasi delapan perilaku pasif yang menjadi akar dari ketidakbahagiaan berkepanjangan. Apa saja itu? Berikut penjelasan lengkapnya dilansir dari geediting.com.
1. Terus Menunggu “Waktu yang Tepat”
Banyak orang menunda mimpi mereka dengan alasan klasik: belum waktunya. Mereka menunggu kondisi sempurna, pekerjaan stabil, waktu luang, atau inspirasi datang.
Padahal, menurut Farley, momen sempurna itu tidak pernah benar-benar ada. Menunda hanya memperpanjang stagnasi. Bahkan, langkah kecil yang tidak sempurna jauh lebih berharga daripada diam tanpa aksi.
2. Mengadopsi Batasan Orang Lain
Sejak kecil, seseorang sering mendengar kalimat seperti “kamu tidak berbakat” atau “itu bukan untuk orang seperti kita.” Tanpa disadari, kata-kata ini tertanam menjadi keyakinan.
Farley menyadari bahwa satu kritik dari masa lalu bisa membentuk persepsi diri selama puluhan tahun. Padahal, banyak batasan tersebut bukan fakta, melainkan opini yang diterima mentah-mentah.
3. Memilih Nyaman Daripada Bertumbuh
Zona nyaman memang terasa aman, tetapi di situlah pertumbuhan berhenti. Farley menggambarkannya seperti pasir hisap, semakin lama bertahan, semakin sulit keluar.
Keputusan kecil seperti menolak tantangan, menghindari risiko, atau tidak mencoba hal baru perlahan membentuk pola bahwa perubahan adalah sesuatu yang harus dihindari.
4. Mengeluh Tanpa Tindakan
Mengeluh sering terasa seperti bentuk pelampiasan yang wajar. Namun, jika tidak diikuti tindakan, itu hanya menjadi lingkaran tanpa solusi.
Farley pernah menghabiskan waktu berjam-jam mengeluhkan pekerjaannya tanpa pernah mengambil langkah nyata untuk berubah. Ia menyadari bahwa keluhan hanya memberi ilusi kontrol, bukan solusi.
Solusi sederhana: setiap kali mengeluh, tanyakan satu tindakan kecil yang bisa dilakukan hari itu, lalu lakukan.
5. Membiarkan Kegagalan Mendefinisikan Diri
Satu kegagalan sering kali dianggap sebagai bukti ketidakmampuan. Padahal, kegagalan hanyalah bagian dari proses belajar.
Farley dulu percaya bahwa ia tidak memiliki keunggulan hanya karena jarang mendapatkan pengakuan di tempat kerja. Ia baru menyadari bahwa kegagalan bukanlah identitas, melainkan informasi untuk berkembang.
6. Terlalu Sering Mencari Izin
Banyak orang merasa perlu mendapatkan persetujuan sebelum mengambil keputusan besar. Mereka bertanya, meminta pendapat, dan menunggu validasi.
Namun menurut Farley, kebiasaan ini justru menghambat kemandirian. Tidak semua keputusan membutuhkan persetujuan orang lain, terutama yang berkaitan dengan kebahagiaan pribadi.
7. Menganggap Emosi sebagai Fakta
Perasaan seperti tidak berharga, gagal, atau putus asa sering dianggap sebagai kebenaran mutlak. Padahal, emosi hanyalah respons sementara, bukan fakta objektif.
Farley belajar membedakan antara “merasa tidak mampu” dan “benar-benar tidak mampu.” Kemampuan ini menjadi titik balik dalam hidupnya.
8. Terjebak dalam Perbandingan Sosial
Di era media sosial, membandingkan diri dengan orang lain menjadi semakin mudah. Sayangnya, yang dibandingkan sering kali tidak seimbang—realita pribadi vs versi terbaik orang lain.
Farley menekankan bahwa perbandingan ini tidak adil dan hanya memperkuat rasa tidak cukup. Satu-satunya perbandingan yang sehat adalah dengan diri sendiri di masa lalu.
Cara Keluar dari Ketidakberdayaan yang Dipelajari
Kabar baiknya, ketidakberdayaan yang dipelajari bukanlah kondisi permanen. Ini hanyalah pola pikir yang bisa diubah.
Langkah awalnya adalah kesadaran. Dengan mengenali perilaku-perilaku pasif di atas, seseorang bisa mulai mengambil tindakan kecil untuk memulihkan kendali atas hidupnya.
Farley menyarankan untuk tidak mencoba mengubah semuanya sekaligus. Cukup pilih satu kebiasaan, lalu lakukan satu perubahan kecil setiap hari.
Anda Tidak Pernah Benar-Benar Terjebak
Banyak orang merasa hidupnya seperti terkurung tanpa jalan keluar. Namun menurut Farley Ledgerwood, pintu itu sebenarnya sudah terbuka sejak awal.
Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk melangkah—meski kecil, meski tidak sempurna.
Karena pada akhirnya, kebebasan bukan tentang menunggu kesempatan, tetapi tentang menyadari bahwa Anda selalu punya pilihan untuk bergerak maju.