← Beranda
Psikologi Mengatakan: Menghindari 6 Kebiasaan “Sehat” Ini Akan Membuat Anda Lebih Bahagia
Vindi Rayinda Ayudya• Sabtu, 27 September 2025 | 03.15 WIB
Ilustrasi kebiasaan sehat yang dihindari. (Freepik)
JawaPos.Com - Banyak orang mengejar kebiasaan hidup sehat demi hidup yang lebih baik. 

Padahal faktanya, tidak semua kebiasaan yang terlihat sehat benar-benar membawa kebahagiaan dan kebaikan.

Beberapa di antaranya, justru bisa membuat beberapa orang terjebak dalam tekanan, rasa bersalah, atau bahkan stres yang tidak perlu.

Seperti dilansir dari Geediting.com, sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa menghindari kebiasaan “sehat” tertentu dapat membantu seseorang merasakan hidup yang lebih ringan, santai, dan bahagia. 

Meski kebiasaan ini sering dipuji dalam gaya hidup modern, tetapi bila dijalani secara berlebihan, justru berpotensi merugikan kesejahteraan mental.

Lantas, apa saja kebiasaan yang sebaiknya tidak dipaksakan? Mari kita ulas satu per satu.

1. Bangun Jam 5 Pagi Tidak Peduli Apa pun

Bangun pagi memang memiliki banyak manfaat, seperti meningkatkan produktivitas dan memberi waktu lebih panjang untuk beraktivitas. 

Namun, tidak semua orang cocok dengan rutinitas bangun jam 5 pagi setiap hari.

Memaksa diri bangun terlalu awal bisa menyebabkan kurang tidur, gangguan suasana hati, hingga berkurangnya konsentrasi. 

Psikologi modern menekankan pentingnya kualitas tidur dibanding sekadar jumlah jam bangun pagi.

Alih-alih memaksakan diri mengikuti tren “5 AM Club”, lebih baik memahami ritme tubuh masing-masing. 

Jika tubuh membutuhkan istirahat lebih lama, biarkan saja tidur hingga cukup, karena tidur berkualitas adalah kunci kebahagiaan dan kesehatan mental.

2. Melacak Setiap Langkah, Menit, dan Makro

Teknologi kesehatan seperti smartwatch dan aplikasi pelacak kalori memang bermanfaat. 

Namun, melacak setiap detail aktivitas tubuh secara obsesif justru dapat menimbulkan tekanan berlebih.

Alih-alih merasa sehat, banyak orang justru merasa bersalah saat tidak mencapai target langkah harian atau ketika makan sedikit lebih banyak dari rencana makro. 

Akibatnya, kebiasaan ini malah merusak hubungan seseorang dengan tubuhnya sendiri.

Menurut psikologi, terlalu fokus pada angka dapat membuat kita kehilangan kebahagiaan dalam proses. 

Kesehatan seharusnya tentang keseimbangan dan kesadaran, bukan keterikatan pada statistik.

3. Memaksakan Rasa Syukur

Rasa syukur memang penting, tetapi jika dipaksakan, dampaknya bisa berbalik arah. 

Studi psikologi menemukan bahwa orang yang terlalu berusaha merasa bahagia justru bisa merasa kurang bahagia, terutama dalam situasi yang sebenarnya tidak terlalu menekan.

Mengucap syukur memang baik, tetapi tidak semua momen membutuhkan perasaan positif.

Kadang, mengakui rasa kecewa, marah, atau sedih adalah langkah sehat agar emosi bisa diproses dengan jujur.

Psikologi menyebut ini sebagai toxic positivity, yaitu kondisi ketika seseorang memaksakan diri selalu positif hingga mengabaikan perasaan asli. 

Menghindari kebiasaan ini dapat membuat kita lebih bahagia karena kita lebih jujur terhadap diri sendiri.

4. Makan “Bersih Sempurna” Sepanjang Waktu

Konsep clean eating memang menyehatkan, tetapi jika dijalani dengan aturan kaku tanpa ruang fleksibilitas, hal ini bisa menimbulkan stres dan bahkan gangguan pola makan.

Memaksakan diri hanya makan makanan tertentu dapat membuat seseorang kehilangan kebahagiaan dari pengalaman kuliner.

Padahal, makanan tidak hanya soal nutrisi, tetapi juga soal sosial, budaya, dan kenikmatan hidup.

Psikologi menyarankan untuk memiliki pola makan seimbang, cukup sehat, tetapi tetap fleksibel. 

Sesekali menikmati makanan favorit seperti kue atau gorengan bukanlah masalah besar, selama tidak berlebihan. Justru, fleksibilitas ini dapat meningkatkan kebahagiaan.

5. Berhenti Total di Media Sosial

Media sosial sering dianggap sumber stres, perbandingan sosial, dan informasi negatif. 

Namun, berhenti total dari media sosial tidak selalu membawa dampak positif.

Bagi sebagian orang, media sosial juga merupakan sarana untuk terhubung dengan teman, keluarga, atau bahkan komunitas yang memberi dukungan emosional. 

Menghilangkan akses sepenuhnya justru bisa membuat seseorang merasa terisolasi.

Yang lebih sehat adalah mengatur batasan penggunaan media sosial, misalnya dengan mengurangi durasi harian atau memilih konten yang benar-benar bermanfaat. 

Dengan cara ini, kita tetap bisa merasakan manfaat sosialnya tanpa harus terbebani oleh sisi negatif.

6. Mengatakan “Ya” pada Setiap Kesempatan “Baik”

Salah satu kebiasaan yang sering dipuji adalah kemampuan untuk selalu membuka diri pada peluang. 

Namun, mengatakan “ya” pada setiap kesempatan bisa membuat kita kehabisan waktu untuk diri sendiri.

Terlalu sibuk mengejar kesempatan, bahkan yang dianggap positif, bisa mengorbankan kesehatan mental, waktu istirahat, dan hubungan pribadi. 

Akhirnya, alih-alih bahagia, seseorang justru merasa kelelahan dan kehilangan kendali atas hidupnya.

Psikologi menekankan pentingnya batasan pribadi. Belajar mengatakan “tidak” bukan berarti menolak hal baik, tetapi memberikan ruang untuk fokus pada prioritas hidup. 

Dengan begitu, kebahagiaan lebih mudah diraih karena energi kita digunakan dengan tepat.

Mengapa Menghindari Kebiasaan “Sehat” Ini Bisa Membuat Lebih Bahagia?

Enam kebiasaan di atas sebenarnya tidak buruk jika dilakukan dengan bijak. 

Namun, masalah muncul ketika dijalani secara kaku, obsesif, atau tanpa mempertimbangkan kebutuhan diri sendiri.

Psikologi menekankan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari mengikuti aturan tertentu, melainkan keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan emosional. Menghindari kebiasaan sehat yang berlebihan membuat kita:

  • Lebih fleksibel dalam menjalani hidup.

  • Lebih jujur terhadap perasaan sendiri.

  • Lebih bisa menikmati momen tanpa tekanan.

  • Lebih fokus pada kualitas, bukan kuantitas.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati datang dari keselarasan antara kebutuhan tubuh, pikiran, dan jiwa.

Selain itu, tidak semua kebiasaan yang terlihat sehat benar-benar membawa kebahagiaan. 

Terkadang, justru dengan menghindari rutinitas yang terlalu kaku dan membatasi diri, kita bisa hidup lebih tenang dan bahagia.

Mulai dari tidak memaksakan bangun jam 5 pagi, berhenti menghitung setiap langkah, hingga berani berkata “tidak” pada hal-hal yang menguras energi, semuanya bisa membuka ruang baru untuk menikmati hidup.

Seperti yang dirangkum dar Geediting.com, enam kebiasaan di atas sebaiknya dipandang lebih kritis. 

Kuncinya bukanlah meniru kebiasaan orang lain, tetapi menemukan pola hidup yang paling sesuai dengan kebutuhan pribadi.

Dengan begitu, masa depan tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga penuh kebahagiaan sejati.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti