← Beranda
Apa Itu Hoarding Disorder? Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Membantu Orang dengan Gangguan Menimbun Barang
Aria Maulana SatriyoSelasa, 23 September 2025 | 19.54 WIB
Ilustrasi gangguan menimbun barang atau hoarding disorder./Freepik.

JawaPos.com – Apa itu hoarding disorder dan bagaimana membedakannya dari sekadar hobi mengoleksi barang? 

Pertanyaan ini sering muncul karena keduanya sama-sama melibatkan aktivitas menyimpan benda. 

Bedanya, jika mengoleksi biasanya lahir dari identitas, nostalgia, atau kepuasan estetika, hoarding justru berkaitan dengan gangguan psikologis yang bisa mengganggu kualitas hidup sehari-hari.

Menurut Psychology Today, hoarding disorder memengaruhi sekitar 2,5% populasi dewasa, atau setara dengan 1 dari setiap 40 orang. 

Data ini berasal dari meta-analisis 11 studi dengan lebih dari 53.000 partisipan. Menariknya, prevalensi tidak berbeda signifikan antara laki-laki dan perempuan, namun cenderung lebih tinggi pada orang lanjut usia serta mereka yang memiliki diagnosis psikiatri lain. 

Beberapa survei bahkan memperkirakan angka prevalensi bisa mencapai 6%, tergantung metode penelitian dan populasi yang dikaji.

Baca Juga: Resep Sayur Bening Bayam Sederhana, Cocok Jadi Menu Harian Bergizi

Dengan kata lain, hoarding bukan sekadar “mengoleksi barang terlalu banyak”, melainkan kondisi psikologis kompleks yang memerlukan pemahaman mendalam. 

Lalu, apa ciri-ciri hoarding disorder, penyebabnya, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari?

Simak penjelasannya berikut ini yang dilansir dari HSE dan Mayo Clinic.

Ciri-Ciri Hoarding Disorder

1. Menyimpan Terlalu Banyak Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan

Salah satu tanda awal hoarding disorder adalah kebiasaan terus-menerus mengambil dan menyimpan barang, meskipun tidak benar-benar diperlukan. 

Barang-barang ini bisa sangat beragam  dari pakaian lama, koran usang, hingga benda-benda gratisan yang nilainya kecil. 

Lama-kelamaan, rumah terasa semakin penuh karena tidak ada filter dalam memilih mana yang penting dan mana yang bisa dilepas.

Baca Juga: 8 Cara Turunkan Demam pada Anak, Panduan Aman Tanpa Obat Berlebihan

Hal ini berbeda dengan koleksi yang biasanya terarah pada tema tertentu. 

Pada hoarding, tidak ada kejelasan fokus, sehingga akumulasi barang lebih mirip penumpukan acak. 

Akibatnya, ruang hidup yang seharusnya nyaman berubah menjadi penuh sesak dan sulit digunakan sebagaimana mestinya.

2. Sulit Melepas atau Membuang Barang, Apa Pun Nilainya

Ciri utama hoarding disorder adalah kesulitan luar biasa untuk membuang barang. 

Bahkan benda yang sudah rusak, tidak terpakai, atau dianggap “sampah” bagi orang lain tetap terasa penting untuk disimpan. 

Perasaan takut kehilangan atau keyakinan bahwa suatu saat benda itu akan berguna membuat penderita merasa terikat.

Lebih jauh lagi, hanya membayangkan barang itu dibuang saja bisa menimbulkan kecemasan mendalam. 

Inilah yang membedakannya dari sekadar sayang membuang barang bahwa ada dorongan emosional kuat yang membuat proses decluttering –atau bersih-bersih– terasa mustahil dilakukan.

3. Perasaan Wajib Menyimpan dan Cemas Jika Harus Melepas

Hoarding bukan hanya masalah kebiasaan, tapi juga berkaitan erat dengan emosi. Banyak penderitanya merasa ada kewajiban moral untuk menyimpan barang. 

Mereka bisa merasa bersalah, cemas, bahkan marah jika dipaksa membuang sesuatu.

Perasaan ini membuat hubungan dengan keluarga atau orang terdekat jadi tegang. 

Misalnya, anggota keluarga yang mencoba membantu membereskan rumah bisa dianggap “mengancam” karena menyarankan untuk membuang barang. 

Akhirnya, lingkaran ini memperkuat isolasi sosial dan memperburuk kondisi.

4. Penumpukan Sampai Mengganggu Fungsi Rumah

Seiring waktu, jumlah barang yang terus bertambah akan menumpuk hingga memenuhi ruangan. 

Lemari, meja, bahkan tempat tidur bisa berubah menjadi tempat penyimpanan, bukan lagi digunakan sesuai fungsinya. 

Pada kasus yang lebih parah, dapur tidak bisa dipakai untuk memasak atau kamar mandi tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Kondisi ini jelas dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan kesehatan mental. 

Tidak hanya membuat rumah berantakan, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran, kecelakaan, dan masalah kebersihan. 

Lingkungan seperti ini juga dapat memperburuk perasaan malu dan membuat penderita semakin enggan menerima tamu.

5. Perfeksionisme dan Kesulitan Membuat Keputusan

Menariknya, hoarding disorder juga sering berkaitan dengan perilaku perfeksionisme. 

Banyak penderita merasa tidak pernah menemukan waktu atau cara “sempurna” untuk membereskan barang-barang mereka. 

Akibatnya, keputusan untuk membuang atau menyimpan sesuatu selalu tertunda.

Perfeksionisme ini juga muncul dalam bentuk kesulitan mengatur dan merencanakan. 

Saking takutnya membuat keputusan yang salah, akhirnya tidak ada keputusan yang diambil sehingga barang pun terus menumpuk tanpa akhir.

6. Masalah dalam Perencanaan dan Organisasi

Di balik semua itu, ada pola kesulitan dalam fungsi eksekutif otak, khususnya terkait perencanaan dan organisasi. 

Penderita hoarding disorder biasanya merasa kewalahan saat mencoba menyortir barang, menentukan kategori, atau membuat sistem penyimpanan.

Akibatnya, rumah mereka tampak kacau bukan hanya karena banyak barang, tapi juga karena tidak ada struktur yang jelas. 

Masalah ini sering membuat upaya penanganan jadi lebih sulit, sebab penderita tidak hanya berhadapan dengan penumpukan benda, tetapi juga dengan pola berpikir yang membuat pengorganisasian terasa mustahil.

Penyebab Hoarding Disorder

Mengapa seseorang mengalami hoarding disorder sering kali sulit dipahami. 

Penyebabnya tidak tunggal, melainkan bisa berbeda-beda pada tiap individu, mulai dari faktor psikologis, kondisi kesehatan, hingga pengalaman hidup yang traumatis.

1. Faktor Psikologis dan Gangguan Mental

Salah satu penyebab utama hoarding disorder berkaitan dengan kondisi kesehatan mental. 

Studi mencatat bahwa orang dengan depresi berat, kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), bahkan skizofrenia, lebih rentan mengembangkan perilaku menimbun barang. 

Hoarding bisa menjadi cara untuk meredakan ketidakpastian atau kecemasan, meski pada akhirnya justru memperburuk kualitas hidup.

2. Kesulitan Mobilitas dan Keterbatasan Kognitif

Tidak semua kasus hoarding berakar dari psikologis saja. 

Ada individu yang mengalami keterbatasan fisik, misalnya kesulitan bergerak atau masalah kesehatan yang membuat mereka tidak mampu membersihkan rumah atau membuang barang-barang lama. 

Dalam jangka panjang, hambatan mobilitas ini menimbulkan penumpukan yang sulit dikendalikan.

Begitu juga dengan mereka yang memiliki hambatan kognitif atau kesulitan belajar. 

Menyortir barang, mengkategorikan, atau membuat keputusan terkait kepemilikan bisa menjadi proses yang sangat menantang. 

Akibatnya, barang-barang dibiarkan menumpuk tanpa pernah benar-benar dipilah.

3. Neurodivergensi: ADHD dan Autisme

Bagi individu yang neurodivergen – seperti ADHD atau berada dalam spektrum autisme – hoarding dapat muncul dari kesulitan mengatur, menyusun prioritas, atau melepaskan keterikatan pada benda.

Misalnya, seseorang dengan ADHD bisa terdistraksi dengan mudah sehingga kehilangan konsistensi dalam membersihkan rumah. 

Sementara seseorang dengan autisme mungkin menyimpan benda-benda karena merasa tenang dengan rutinitas atau keteraturan yang diciptakan.

Dalam banyak kasus, benda-benda yang dikoleksi bukan hanya soal kegunaan, melainkan juga tentang rasa aman. 

Koleksi itu menciptakan “zona nyaman” yang sulit dilepaskan, meski secara praktis sudah tidak lagi diperlukan.

4. Pengalaman Hidup yang Traumatis

Trauma juga menjadi salah satu pemicu kuat hoarding disorder. 

Kehilangan orang terdekat, perceraian, atau pengalaman hidup yang penuh kesulitan bisa membuat seseorang menimbun barang sebagai bentuk pertahanan emosional. 

Setiap benda yang disimpan seakan menjadi pengganti kehadiran orang atau momen yang hilang.

Riset menemukan bahwa orang yang tumbuh di rumah penuh kekacauan atau memiliki orang tua yang juga menimbun cenderung mengulang pola yang sama di masa dewasa. 

Dalam kasus lain, hidup sendirian dan kurangnya dukungan sosial memperkuat kebutuhan untuk bergantung pada benda, karena hanya itu yang terasa stabil dan bisa dikendalikan.

5. Keyakinan dan Emosi yang Kuat terhadap Barang

Banyak penderita hoarding memiliki keyakinan kuat bahwa setiap benda bisa berguna suatu hari nanti. 

Pikiran seperti “sayang kalau dibuang” atau “siapa tahu berguna di masa depan” menjadi alasan utama mereka enggan melepaskan barang. 

Tidak jarang, sekadar memikirkan untuk membuang barang bisa memicu rasa cemas atau marah.

Emosi inilah yang membuat hoarding disorder sulit ditangani tanpa bantuan profesional. 

Setiap keputusan untuk membuang barang terasa begitu berat, seakan ada bagian dari diri yang hilang. 

Akibatnya, mereka lebih memilih menunda keputusan, dan semakin lama, rumah dipenuhi barang hingga kehilangan fungsi aslinya.

Akhir Kata: Dukungan untuk Menghadapi Hoarding Disorder

Melihat ciri dan penyebab hoarding disorder, jelas bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap remeh. 

Namun, penting diingat bahwa menolong seseorang dengan hoarding tidak berarti langsung masuk ke rumah mereka dan membuang barang-barang secara paksa. 

Cara itu justru bisa memperburuk kecemasan dan memperkuat keterikatan pada benda.

Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan mendorong mereka berbicara pada dokter umum atau tenaga profesional kesehatan mental. 

Dengarkan tanpa menghakimi, tunjukkan kepedulian pada kesehatan dan kesejahteraan mereka, serta yakinkan bahwa proses pemulihan tidak berarti kehilangan semua barang sekaligus. 

Dalam banyak kasus, dokter akan merujuk pada terapis atau tim kesehatan jiwa yang memang terbiasa menangani hoarding disorder.

Dengan langkah kecil yang penuh empati, dukungan dari lingkungan bisa menjadi pintu masuk penting menuju pemulihan.

EDITOR: Hanny Suwindari