← Beranda
Jika Anda Terus-Menerus Membandingkan Hidup dengan Orang Lain Secara Online, 8 Kebiasaan Ini Merusak Anda Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 22 September 2025 | 19.46 WIB
seseorang yang membandingkan hidupnya dengan orang lain secara online. (Freepik/freepik)

 

JawaPos.com - Di era media sosial, perbandingan seakan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kita tidak lagi hanya menilai diri sendiri dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari unggahan orang lain: liburan yang terlihat sempurna, rumah yang megah, karier yang menanjak, hingga hubungan romantis yang tampak tanpa cela.

Meski kadang terlihat sepele, kebiasaan membandingkan diri secara online ternyata bisa menimbulkan pola hidup yang perlahan merusak kesehatan mental.

Menurut psikologi, kebiasaan ini menimbulkan “toxic comparison” atau perbandingan beracun yang memicu kecemasan, rasa rendah diri, hingga kehilangan arah hidup.

Lebih buruk lagi, hal ini tidak hanya berdampak pada emosi, tapi juga pada cara kita mengambil keputusan sehari-hari.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (21/9), terdapat delapan kebiasaan yang sering muncul akibat terlalu sering membandingkan hidup dengan orang lain di dunia maya.

1. Meremehkan Prestasi Diri Sendiri

Saat orang lain membagikan pencapaian besar di media sosial, banyak orang tanpa sadar langsung menganggap pencapaiannya sendiri tidak berarti.

Padahal, psikologi menyebut fenomena ini sebagai diminishing self-worth—kecenderungan mengecilkan diri meski sebenarnya sudah mencapai sesuatu yang berharga.

Lama-lama, Anda tidak lagi bisa merayakan kemenangan kecil karena selalu merasa “kurang dibanding orang lain.”

2. Mengukur Nilai Diri dari Validasi Eksternal

Ketika perbandingan sudah menjadi kebiasaan, nilai diri tidak lagi ditentukan dari usaha atau proses pribadi, melainkan dari seberapa banyak likes, komentar, atau pengakuan yang diterima.

Ini membuat Anda terjebak dalam siklus external validation, yang menurut psikologi berbahaya karena membuat kebahagiaan bergantung sepenuhnya pada orang lain, bukan pada kendali diri sendiri.

3. Selalu Merasa Tertinggal

Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

Melihat orang lain liburan, menikah, atau sukses dalam karier bisa menimbulkan rasa panik karena seolah-olah Anda berjalan lebih lambat dari “garis waktu normal.”

Padahal, setiap orang memiliki fase hidup yang berbeda.

Namun, jika terus dipelihara, rasa tertinggal ini menumbuhkan stres kronis yang berujung pada kelelahan mental.

4. Menjadi Perfeksionis yang Tidak Realistis

Ketika standar hidup selalu diukur dari unggahan orang lain, Anda mulai menuntut diri sendiri untuk tampil sempurna di segala aspek.

Menurut psikologi, perfeksionisme yang tidak realistis bisa melahirkan rasa frustrasi mendalam, karena standar tersebut sebenarnya tidak pernah bisa tercapai.

Media sosial penuh dengan potongan terbaik hidup orang lain, bukan kenyataan lengkapnya.

5. Kehilangan Fokus pada Tujuan Pribadi

Terlalu banyak membandingkan diri membuat Anda kehilangan arah.

Alih-alih mengejar tujuan yang sebenarnya penting, Anda justru sibuk meniru langkah orang lain.

Psikolog menyebut ini sebagai identity diffusion, kondisi di mana identitas diri melebur dan kehilangan pijakan karena terlalu fokus pada pencapaian orang lain.

Akibatnya, Anda hidup berdasarkan ekspektasi eksternal, bukan panggilan batin.

6. Memicu Rasa Iri dan Dengki

Iri hati adalah emosi alami, tetapi jika dipelihara terus-menerus, ia bisa berubah menjadi racun.

Menurut psikologi sosial, iri hati kronis mengikis empati, membuat seseorang sulit berbahagia atas kesuksesan orang lain, bahkan bisa melahirkan pola pikir kompetitif yang tidak sehat.

Alih-alih termotivasi, Anda justru semakin terjebak dalam lingkaran perasaan negatif.

7. Membentuk Citra Palsu di Dunia Maya

Orang yang sering membandingkan diri cenderung membangun “persona” palsu untuk terlihat sejajar dengan orang lain.

Hal ini menciptakan self-discrepancy—kesenjangan antara diri nyata dan diri ideal yang ditampilkan.

Psikologi menyebut ketidakselarasan ini sebagai pemicu utama rasa cemas, karena seseorang hidup dengan beban harus mempertahankan topeng yang tidak sesuai dengan dirinya.

8. Mengorbankan Kesehatan Mental Tanpa Disadari

Semua kebiasaan di atas pada akhirnya bermuara pada satu hal: terkikisnya kesehatan mental.

Stres, insomnia, overthinking, hingga depresi bisa muncul ketika seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain di dunia maya.

Hal ini diperkuat dengan penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan meningkatkan risiko gangguan kecemasan, terutama ketika interaksi diwarnai oleh perbandingan sosial.

Kesimpulan: Belajar Menghargai Jalan Hidup Sendiri

Membandingkan diri adalah sifat alami manusia, tetapi jika dilakukan terus-menerus di media sosial, dampaknya bisa sangat merusak.

Delapan kebiasaan di atas hanyalah sebagian kecil dari lingkaran perbandingan beracun yang perlahan mengikis rasa syukur, merusak identitas diri, dan mengganggu kesehatan mental.

Pesan psikologi sederhana: setiap orang punya garis waktu, proses, dan jalan hidup yang unik.

Dengan berhenti membandingkan, Anda memberi ruang bagi diri untuk tumbuh, merayakan pencapaian pribadi, dan hidup lebih autentik.

Alih-alih melihat ke layar orang lain, cobalah menoleh ke dalam diri—karena kebahagiaan sejati tidak pernah lahir dari perbandingan, melainkan dari penerimaan.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti