← Beranda
Cegah Belanja Impulsih, Cegah Gaji Habis untuk Beli Barang yang Tak Penting
Juliana ChristyRabu, 17 September 2025 | 21.55 WIB
Ilustrasi seorang perempuan menghitung pengeluarannya. (Freepik)

JawaPos.com - Fenomena belanja impulsif makin marak, terutama di era digital. Hanya dengan sekali klik di aplikasi belanja online atau sekilas melihat etalase di pusat perbelanjaan, banyak orang langsung tergoda membeli barang tanpa pikir panjang. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa menggerogoti keuangan pribadi, tak peduli sebesar apa pun penghasilan seseorang.

Menurut perencana keuangan senior Safir Senduk, belanja impulsif adalah perilaku membeli barang secara mendadak, emosional, dan tanpa perencanaan. “Misalnya kita ke mal tanpa niat belanja baju, tapi karena lihat kaos yang menarik, akhirnya masuk toko, coba-coba, lalu beli. Sama juga saat bosan, buka marketplace, lalu beli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan,” jelasnya.

 

Faktor Ego Bikin Boros

Safir mengungkap ada dua penyebab utama orang sulit mengendalikan belanja impulsif: faktor emosional dan faktor ego. “Ada orang yang merasa kalau sudah suka sesuatu, harus dibeli. Kalau tidak, dia merasa lemah, seolah tidak punya uang. Dengan membeli, dia membuktikan dirinya mampu,” ujarnya.

Kelompok usia paling rentan adalah mereka yang sudah bekerja, punya penghasilan tetap, dan berada di rentang umur 25–45 tahun. “Semakin besar penghasilan, semakin besar pula peluang orang terjebak belanja impulsif,” tambah Safir.

 

Gaji Besar pun Bisa Terkuras

Risiko utama belanja impulsif jelas pada kondisi finansial. “Penghasilan sebesar apa pun, kalau terus terbiasa belanja impulsif, akan habis juga,” tegas Safir. Dampak psikologis pun bisa muncul, seperti rasa menyesal, cemas, hingga stres keuangan karena uang terlanjur dipakai membeli barang yang tidak diperlukan.

 

Tips Mengendalikan Belanja Impulsif

Safir memberikan beberapa trik agar dompet tetap aman dari godaan belanja impulsif:

Batasi transaksi dan nominal. Misalnya, hanya boleh belanja barang non-kebutuhan maksimal 5 kali per bulan atau dengan batas Rp2 juta.

Gunakan metode budgeting. Alokasikan 5–10 persen dari gaji bulanan untuk belanja impulsif. Bisa dengan sistem amplop atau sub-rekening di mobile banking.

Tunda pembelian 24 jam. Emosi biasanya menurun setelah ditahan sejenak. Seringkali, barang yang tadinya terlihat menarik justru terasa biasa saja setelah dipikir ulang.

Bedakan kebutuhan dan keinginan. Caranya, bayangkan jika barang tidak dibeli, apakah hidup tetap berjalan normal? Jika iya, berarti itu hanya keinginan.

 

Waspadai Diskon dan Promo

Safir mengingatkan agar tidak mudah terjebak promo online, diskon, atau flash sale. “Kalau barang seharga Rp1 juta didiskon jadi Rp600 ribu, kita merasa hemat Rp400 ribu. Tapi kalau barang itu tidak dibutuhkan, artinya kita justru lebih boros Rp600 ribu,” ujarnya.

Ia menutup dengan pesan sederhana: tidak semua yang diinginkan harus dibeli. “Hanya karena kita punya uang, bukan berarti semua hal harus dibeli. Sadari bahwa barang di rumah sudah terlalu banyak, dan suatu saat akan jadi rongsokan. Batasi belanja tiap bulan, baik jumlah transaksi maupun nominalnya. Dengan begitu, kita bisa mengontrol belanja, bukan sebaliknya,” tutur Safir. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan