JawaPos.com – Cinta sering digambarkan sebagai perasaan indah yang mampu membuat hidup lebih berwarna.
Namun di sisi lain, cinta juga bisa membuat kita melakukan hal-hal yang terlihat tidak masuk akal.
Ada yang rela menunggu pesan balasan berjam-jam sambil gelisah, ada pula yang sampai merubah gaya hidup hanya demi menarik perhatian seseorang.
Tidak jarang, orang yang jatuh cinta dianggap ‘bodoh’ karena perilakunya kerap di luar logika.
Tapi, benarkah cinta bisa membuat kita kehilangan akal sehat? Jawabannya ya. Dan semua itu ada kaitannya dengan cara kerja otak kita.
Otak Bisa Mematikan Fungsi Logika
Verywell Health menjelaskan sebuah penelitian pemindaian otak menunjukkan bahwa saat seseorang melihat orang yang dicintai, area otak yang bertugas menilai dan mengambil keputusan justru mengalami penurunan aktivitas.
Bagian tersebut adalah korteks frontal, yang biasanya berperan besar dalam menimbang risiko dan konsekuensi.
Akibatnya, orang yang jatuh cinta cenderung mengabaikan hal-hal yang biasanya dianggap penting.
Misalnya, mengabaikan tanda-tanda pasangan bersikap dingin, atau tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Dalam bahasa sederhana, cinta bisa membutakan logika.
Dopamin Membuat Candu yang Bikin Ketagihan
Glamour menjelaskan saat jatuh cinta, otak membanjiri tubuh dengan dopamin, zat kimia yang menimbulkan rasa bahagia, euforia, dan ketagihan.
Bagian otak yang terlibat dalam proses ini adalah ventral tegmental area (VTA) dan nucleus accumbens atau pusat penghargaan yang juga aktif ketika seseorang menggunakan narkoba.
Itulah mengapa orang yang jatuh cinta sering kali bertindak impulsif, nekat, atau berlebihan.
Cinta terasa seperti candu yang membuat kita terus mencari kebahagiaan dari orang yang kita sukai.
Rasa ketagihan inilah yang membuat seseorang tidak bisa berhenti memikirkan pasangannya, bahkan hingga mengabaikan hal lain.
Anda mungkin juga pernah mendengar istilah ‘love is blind’. Ternyata hal itu bukan sekadar pepatah, melainkan ada penjelasan ilmiahnya.
Saat jatuh cinta, otak menciptakan ilusi positif. Kita menjadi lebih mudah menyoroti kelebihan pasangan dan menutup mata terhadap kekurangannya.
Inilah mengapa banyak orang tetap bertahan meski tahu pasangannya sering membuat kecewa.
Efek ini membuat kita merasa pasangan adalah sosok sempurna, padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Verywell Mind menyebutkan selain dopamin, ada beberapa zat kimia lain yang terlibat dalam proses jatuh cinta, seperti oksitosin, serotonin, norepinefrin, dan vasopresin.
Oksitosin dikenal sebagai ‘hormon cinta’ karena memperkuat ikatan emosional sekaligus menurunkan rasa takut.
Sementara norepinefrin membuat detak jantung meningkat, telapak tangan berkeringat, dan perasaan jadi lebih bersemangat.
Efek gabungan dari semua zat ini membuat orang yang jatuh cinta kerap merasakan campuran antara bahagia, gugup, dan tak terkendali.
Perilaku Memalukan Saat Naksir
Situs Glamour pernah menulis bahwa perasaan naksir atau jatuh cinta bisa membuat seseorang melakukan hal-hal memalukan yang sebenarnya tidak perlu.
Misalnya, mengubah gaya berpakaian agar terlihat menarik, berpura-pura menyukai hobi pasangan, atau mengirim pesan berulang kali meski belum dibalas.
Fenomena ini terjadi karena otak benar-benar dikuasai oleh dopamin dan norepinefrin.
Kedua zat tersebut menciptakan sensasi mirip mabuk seperti perasaan euforia bercampur gugup.
Jadi, jika Anda merasa pernah bertindak ‘konyol’ saat jatuh cinta, itu sebenarnya hal wajar secara biologis.
Sebuah ulasan dari Mind of Steel juga menyebutkan bahwa cinta memang secara alami membuat kita bertindak bodoh.
Menurut mereka, bertindak hanya berdasarkan cinta tanpa mempertimbangkan logika sama buruknya dengan membuat keputusan saat dilanda rasa takut atau cemburu.
Artinya, cinta memang memiliki kekuatan besar yang mampu menyingkirkan rasionalitas.
Inilah alasan mengapa banyak orang membuat pilihan yang sulit dimengerti, seperti meninggalkan pekerjaan bagus demi pasangan, atau terus mengejar cinta yang jelas-jelas tidak sehat.
Selain rasa cinta yang sehat, ada juga kondisi yang disebut limerence. Situs Verywell Health menjelaskan istilah ini sebagai keadaan ketika seseorang begitu tergila-gila pada orang yang disukainya sampai terobsesi.
Pikiran hampir sepenuhnya dipenuhi bayangan tentang sosok tersebut, bahkan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Medical Daily menjelaskan Limerence bisa membuat seseorang sulit fokus, kehilangan konsentrasi, dan berperilaku obsesif.
Inilah salah satu bentuk ekstrem bagaimana cinta bisa mengendalikan logika kita sepenuhnya.
Cinta memang indah, tetapi juga bisa membuat kita kehilangan kendali.
Menyadari fakta ilmiah ini bisa membantu kita lebih waspada, agar tidak sepenuhnya larut dalam euforia yang menutup mata terhadap realitas.
Jika Anda pernah bertindak ‘bodoh’ karena cinta, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Itu hanya bagian dari cara kerja otak yang sedang dibanjiri hormon bahagia.
Yang terpenting adalah belajar menjaga keseimbangan antara perasaan dan logika, sehingga cinta tetap menjadi energi positif, bukan jebakan yang menyesatkan.