← Beranda
Sulit Konsentrasi di Tengah Banjir Informasi: Ini Penjelasan Psikologi soal Brain Rot dan Dampaknya
Lavinia Tiara Malika• Sabtu, 23 Agustus 2025 | 02.29 WIB
Fenomena brain rot di era digital membuat otak sulit fokus karena terlalu banyak paparan informasi instan

JawaPos.com – Pernah nggak sih kamu niatnya cuma buka media sosial sebentar, tapi akhirnya malah keasyikan pindah dari satu konten ke konten lain tanpa henti?

Di satu sisi terasa menyenangkan karena banyak informasi baru, tapi di sisi lain, otak justru jadi cepat lelah dan sulit konsentrasi.

Fenomena ini kini dikenal dengan istilah digital overload atau banjir informasi, yang berdampak pada menurunnya kemampuan fokus.

Baca Juga: Orang dengan Empati Tinggi Lebih Disukai, Ini Alasan Ilmiahnya Menurut Psikologi Sosial dan Neurosains

Menurut American Psychological Association (APA), rentang perhatian manusia di era digital makin menurun.

Notifikasi yang terus berdatangan dari gawai membuat otak kita terbiasa dengan stimulasi cepat, sehingga sulit bertahan pada satu aktivitas dalam jangka waktu lama.

Akibatnya, banyak orang merasa gampang terdistraksi, cepat bosan, bahkan kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi mendalam.

Baca Juga: Sering Bertemu Orang yang Paling Berisik dan Sok Tahu? Ini Fakta Psikologi yang Menyertai Mereka

Fenomena ini makin diperparah dengan istilah yang belakangan populer di kalangan anak muda, yaitu brain rot.

Dilansir dari Inspira Health Network, brain rot menggambarkan kondisi ketika otak terasa “mati rasa” akibat terlalu banyak terpapar konten singkat yang serba cepat, seperti video reels, TikTok, atau shorts.

Konten ini memang dirancang untuk memberikan kepuasan instan, tapi efek jangka panjangnya membuat otak kehilangan kemampuan untuk menikmati proses belajar atau membaca yang lebih panjang.

Hal yang sama juga dibahas dalam laporan Columbia Magazine. Penelitian menunjukkan bahwa multitasking digital—seperti membuka banyak tab browser sekaligus atau mengecek media sosial sambil bekerja—membuat otak bekerja lebih keras dari biasanya.

Sayangnya, alih-alih lebih produktif, kebiasaan ini justru mengurangi efisiensi otak hingga 40 persen karena energi mental terkuras untuk berpindah fokus.

Dari sisi kesehatan mental, RSMM Bogor menjelaskan bahwa digital overload juga bisa memicu stres, kecemasan, hingga insomnia. Otak yang terlalu sering dipaksa berpindah fokus akan mengalami kelelahan kognitif. Itu sebabnya, banyak orang merasa gelisah saat jauh dari ponsel, bahkan sulit tidur karena otak masih terus aktif memproses informasi yang menumpuk.

Lantas, kenapa otak kita gampang terdistraksi? Menurut Psikologi Universitas Airlangga, otak manusia punya mekanisme alami untuk mencari hal-hal baru (novelty seeking). Media sosial dan internet mengeksploitasi kecenderungan ini lewat algoritma yang selalu menampilkan konten segar. Setiap kali kita menemukan informasi baru, otak melepaskan dopamin yang memberi rasa puas. Lama-kelamaan, otak terbiasa dengan “reward instan” dan jadi sulit bertahan pada aktivitas yang butuh kesabaran.

Fenomena ini tentu bukan tanpa dampak serius. Jika dibiarkan, kemampuan belajar menurun, produktivitas kerja terganggu, hingga kualitas hubungan sosial ikut terdampak. Penelitian di BMC Public Health (2024) menemukan bahwa individu dengan tingkat paparan media sosial tinggi cenderung memiliki tingkat konsentrasi lebih rendah dan lebih rentan mengalami gangguan emosional.

Apakah kondisi ini bisa diatasi? Tentu bisa. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, mulai dengan membatasi waktu layar. Fitur screen time bisa membantu kita sadar berapa banyak waktu yang dihabiskan di depan gawai. Kedua, latih otak untuk kembali fokus lewat aktivitas yang butuh konsentrasi penuh, seperti membaca buku fisik, menulis jurnal, atau meditasi.

Ketiga, biasakan melakukan digital detox meski hanya beberapa jam sehari. Menurut Columbia Magazine, jeda singkat dari perangkat digital bisa membantu otak “bernapas” dan mengembalikan kejernihan pikiran. Selain itu, menjaga pola tidur yang sehat juga penting, karena kualitas istirahat memengaruhi kemampuan otak untuk fokus.

Pada akhirnya, sulit fokus di era informasi cepat adalah masalah yang hampir semua orang alami. Namun, dengan kesadaran dan manajemen diri yang tepat, kita bisa kembali melatih otak agar lebih tenang dan produktif. Ingat, informasi memang penting, tapi otak yang sehat jauh lebih berharga.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho