← Beranda
5 Tanda Kamu Bermasalah dengan Kepercayaan, dari Hubungan Toxic sampai Overthinking Berlebihan!
Khairunnisa Al-ArafRabu, 12 Februari 2025 | 19.01 WIB
Ilustrasi- Bos toxic

 

JawaPos.com - Kepercayaan adalah fondasi dalam setiap hubungan, baik itu pertemanan, percintaan, maupun hubungan profesional. Namun, tidak semua orang bisa dengan mudah percaya pada orang lain. 

Ada berbagai faktor yang membuat seseorang sulit membangun kepercayaan, mulai dari pengalaman buruk di masa lalu, hubungan toxic, hingga overthinking yang berlebihan. Jika kamu sering merasa sulit mempercayai orang lain, bisa jadi kamu sedang menghadapi masalah dengan kepercayaan.

Dilansir melalui laman Psychology Today, Diane Dreher, Ph.D., seorang positive psychology coach dan associate director dari Applied Spirituality Institute di Santa Clara University, menjelaskan bahwa memiliki masalah dengan kepercayaan bisa sangat merusak dan memengaruhi kesehatan serta kesejahteraan hidup seseorang.

"Kurangnya kepercayaan ini bertepatan dengan meningkatnya tingkat kesepian, kecemasan, dan depresi yang sangat merusak. Menurut Studi Harvard tentang Perkembangan Orang Dewasa, faktor penentu utama dalam kesehatan, umur panjang, dan kesejahteraan bukanlah uang atau kesuksesan karier, tetapi perasaan terhubung dengan orang-orang yang dipercayai dan dipedulikan oleh subjek serta yang peduli terhadap mereka," jelas Diane, Rabu (12/2).

Lalu, apa saja tanda-tanda kamu bermasalah dengan kepercayaan? Menurut Kendra Cherry, MSEd, seorang Psychosocial Rehabilitation Specialist yang dikutip melalui laman Very Well Mind, berikut 5 tanda utama yang bisa menjadi alarm bagi kamu.

1. Pengalaman Masa Kecil yang Tidak Menyenangkan

Kepercayaan mulai terbentuk sejak kecil, terutama saat seseorang masih bayi dan bergantung pada orang tua atau pengasuhnya. Jika sejak dini seseorang mengalami pengabaian atau kurangnya kasih sayang, maka ia cenderung sulit mempercayai orang lain saat dewasa. Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih akan lebih mudah membangun kepercayaan dibandingkan mereka yang mengalami ketidakpastian emosional.

Psychoanalyst Erik Erikson menyebut tahap ini sebagai fase "trust vs. mistrust," yang berperan besar dalam membentuk karakter seseorang di masa depan. Jika kepercayaan ini rusak sejak kecil, maka seseorang bisa tumbuh dengan rasa curiga berlebihan, selalu berpikir negatif, dan sulit membangun hubungan sehat dengan orang lain.

2. Pernah Mengalami Bullying atau Penolakan

Pengalaman sosial seperti bullying atau penolakan dapat meninggalkan luka mendalam yang berpengaruh terhadap kepercayaan seseorang. Jika seseorang sering mengalami perlakuan buruk atau diabaikan, maka ia akan lebih sulit mempercayai orang lain karena takut mengalami hal yang sama dan kerap mengalami perasaan overthinking saat mulai berinteraksi dengan orang lain. Luka batin ini dapat bertahan hingga dewasa dan membuat seseorang enggan membuka diri.

Ketika kepercayaan terhadap lingkungan sosial runtuh, seseorang cenderung menarik diri dan lebih nyaman dalam kesendirian. Hal ini dapat memicu overthinking berlebihan yang semakin memperburuk kondisi mental, membuat seseorang semakin sulit membangun koneksi baru dengan orang lain.

3. Pernah Berada dalam Hubungan Toxic

Hubungan toxic sering kali meninggalkan dampak psikologis yang serius, termasuk hilangnya kepercayaan pada orang lain. Ketika seseorang pernah mengalami hubungan yang penuh kebohongan, manipulasi, atau pengkhianatan, maka kepercayaan menjadi sesuatu yang sulit untuk diberikan kembali. Bahkan setelah keluar dari hubungan toxic, seseorang tetap bisa merasa curiga terhadap orang lain.

Dampak dari hubungan toxic tidak hanya terasa dalam percintaan, tetapi juga dalam pertemanan dan lingkungan kerja. Seseorang yang pernah dikhianati bisa menjadi sangat waspada, sulit percaya, dan sering overthinking dalam setiap interaksi sosial.

4. Trauma atau Gangguan Mental

Trauma, terutama yang berhubungan dengan pengkhianatan atau kehilangan, dapat merusak kemampuan seseorang untuk mempercayai orang lain. Misalnya, seseorang yang mengalami pengkhianatan dari orang terdekat bisa merasa sulit membuka hati kembali karena takut disakiti lagi. Kepercayaan yang sudah rusak akibat trauma membutuhkan waktu lama untuk dipulihkan.

Selain itu, gangguan mental seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) juga bisa membuat seseorang sulit mempercayai orang lain. Ketidakmampuan untuk merasa aman dalam suatu hubungan bisa membuat seseorang cenderung menarik diri dan semakin terjebak dalam overthinking berlebihan.

5. Kepribadian yang Cenderung Penuh Kekhawatiran

Beberapa orang memiliki kepribadian yang lebih rentan terhadap masalah kepercayaan. Mereka yang memiliki sifat neurotik cenderung lebih sulit mempercayai orang lain karena sering diliputi rasa cemas dan kekhawatiran berlebihan. Kepribadian seperti ini sering kali membuat seseorang merasa lebih aman jika menjaga jarak dari orang lain.

Selain itu, konsep "locus of control" juga berperan dalam kepercayaan seseorang. Orang dengan "external locus of control" cenderung merasa bahwa hidup mereka dikendalikan oleh faktor eksternal, sehingga lebih sulit mempercayai orang lain. Sebaliknya, mereka dengan "internal locus of control" lebih percaya diri dalam mengontrol hidupnya dan lebih mudah membangun kepercayaan dengan orang lain.

Kepercayaan Bisa Dipulihkan, Asal Kamu Mau Berusaha

Ketika seseorang mengalami masalah dengan kepercayaan, hal itu bisa berdampak besar pada kehidupannya. Sulit mempercayai orang lain bisa membuat seseorang merasa kesepian, kehilangan dukungan sosial, dan semakin terjebak dalam overthinking berlebihan. Akibatnya, bukan hanya hubungan dengan orang lain yang terganggu, tetapi juga kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Namun, bermasalah dengan kepercayaan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Meskipun butuh waktu dan usaha, membangun kembali kepercayaan adalah langkah penting untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia. Dengan membuka diri secara perlahan, memberikan kesempatan kepada orang lain, dan belajar dari pengalaman masa lalu, kepercayaan bisa kembali tumbuh dan membawa dampak positif dalam kehidupan.

EDITOR: Kuswandi