JawaPos.com - Jika sebagian orang terus memperbarui status, mengunggah foto makan siang, dan update di setiap lokasi yang dikunjungi, ada juga orang-orang yang tampaknya tidak terlihat di dunia maya. Tipe pendiam yang jarang sekali mengunggah postingan di media sosial tentu akan menarik perhatian.
Mereka memilih untuk merahasiakan kehidupannya dan itu menjadi pilihan yang patut dihormati oleh orang lain. Meskipun begitu, nggak menutup kemungkinan banyak orang juga yang penasaran dengan sifat apa yang dimiliki oleh para introvert media sosial ini.
Dilansir dari BaselineMag, terdapat 10 ciri kepribadian dari orang yang tidak pernah memposting di media sosial dan lebih suka menjaga privasinya.
1. Menghargai koneksi nyata
Bila berbicara tentang orang-orang yang menjauhkan kehidupan mereka dari media sosial, sifat pertama yang biasanya menonjol adalah preferensi mereka terhadap interaksi tatap muka yang tulus.
Meskipun mereka mungkin tidak mengunggah setiap pemikiran dan tindakannya secara daring, orang-orang ini seringkali memiliki kehidupan sosial yang kaya dan memuaskan di dunia nyata. Mereka percaya pada pembentukan hubungan yang mendalam dan bermakna.
Para 'introvert media sosial ini' memahami indahnya tertawa bersama, percakapan nyata, atau pelukan yang menenangkan. Hal-hal ini tentu tidak dapat ditiru oleh emoji atau like. Namun, bukan berarti mereka menghindari teknologi, mereka hanya memilih untuk menggunakan kontak langsung.
2. Menyukai kesendirian
Sebagai seseorang yang jarang mengunggah postingan di media sosial, mereka cenderung menghargai saat-saat yang dilalui sendirian. Mereka yang lebih suka menjaga privasi di media sosial tidak selalu dianggap introvert dalam pengertian konvensional.
Hal ini karena banyak dari mereka yang suka menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Namun, mereka juga memahami pentingnya kesendirian dan refleksi diri. Bagi mereka kesendirian bukanlah kesepian.
Itu adalah kesempatan untuk berhubungan kembali dengan pikiran, perasaan, dan dirinya sendiri. Saat introspeksi yang tenang ini sering kali mengarah pada pertumbuhan pribadi dan penemuan jati diri.
3. Tingkat stres yang lebih rendah
Bukanlah rahasia kalau media sosial juga dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Berbagai update terbaru, berita, dan gambar yang terus menerus membuat kewalahan yang menyebabkan perasaan yang tidak mampu atau FOMO (takut ketinggalan).
Mereka yang memilih untuk tidak menggunakan sosial media sering melaporkan tingkat stres yang lebih rendah. Sebuah studi oleh University of Pennsylvania menemukan bahwa mengurangi penggunaan media sosial hingga 30 menit sehari menghasilkan penurunan kecemasan dan kesepian yang signifikan.
Bagi orang-orang ini, menjauh dari arus informasi memungkinkan mereka untuk dapat fokus pada masa kini, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Mereka punya waktu untuk terlibat dalam aktivitas yang mereka suka tanpa perlu mendokumentasikan atau membagikannya secara daring.
4. Rasa percaya diri yang kuat
Orang yang lebih suka menjaga privasi dan tidak main sosial media seringkali memiliki rasa percaya diri yang kuat. Mereka tahu siapa dirinya dan mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri.
Mereka tidak perlu merasa perlu mencari validasi dari orang lain secara daring dan juga tidak membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan di media sosial. Mereka puas dengan pencapaian, gaya hidup, dan kecepatan hidup mereka sendiri.
Ciri ini juga tercermin dalam rasa percaya diri dan keyakinan diri mereka. Hal ini karena mereka tidak bergantung pada like atau share untuk merasa senang dengan diri sendiri, dan harga diri mereka tidak berfluktuasi pada tren media sosial.
5. Mengutamakan kualitas dan kualitas
Orang-orang yang lebih memilih untuk menjaga privasi di media sosial seringkali adalah mereka yang lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas terutama dalam hal hubungan. Alih-alih memiliki banyak teman atau pengikut daring, mereka berfokus pada mempertahankan lingkaran kecil.
Mereka adalah orang-orang yang benar-benar mereka pedulikan dan akan menginvestasikan waktu dan energi untuk mereka. Orang ini lebih suka percakapan yang mendalam dan menarik daripada interaksi singkat dan dangkal.
Mereka menghargai keintiman dan kepercayaan yang terjalin dalam persahabatan dekat, daripada sekedar validasi sesaat berupa like dan komentar dari banyak orang di dunia maya. Mereka juga mungkin memilih untuk berinvestasi pada pengalaman, harta benda, atau hobi.
6. Menghargai privasinya
Privasi adalah nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh mereka yang lebih memilih untuk menjauhi sosial media. Mereka memahami pentingnya menciptakan dan menjaga batasan pribadi di dunia yang semakin saling terhubung.
Bagi mereka, tidak semua momen perlu dibagikan, dan tidak semua pikiran perlu dipublikasikan. Ada keindahan tersendiri dalam menyimpan beberapa hal hanya untuk diri sendiri atau untuk orang-orang yang mereka cintai.
Mereka juga menciptakan tempat perlindungan dalam kehidupan pribadinya, tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa penghakiman atau pengawasan. Ruang ini memungkinkan mereka untuk bersantai, menyegarkan diri, dan mengekspresikan diri dengan bebas.
7. Menghargai hal-hal sederhana
Orang yang lebih suka merahasiakan diri dari sosial media merasa tidak perlu menyiarkan momen-momen sederhana untuk merasakan nilainya. Menyimpan untuk diri sendiri seringkali membuatnya lebih istimewa.
Seolah-olah dengan tidak membagikannya, kita dapat menyimpan sedikit lebih lama untuk menikmatinya sedikit lebih banyak. Apresiasi terhadap kesederhanaan ini juga berlaku untuk gaya hidupnya.
Mereka cenderung tidak mengejar tren terbaru atau mendambakan pengalaman paling mewah. Sebaliknya, mereka akan merasa puas dengan apa yang mereka miliki dan mencari kegembiraan dalam hal-hal yang biasa tersebut.
8. Seringkali lebih terinformasi
Mudah sekali untuk berasumsi bahwa mereka yang tidak menggunakan sosial media mungkin kurang mengetahui kejadian terkini atau tren populer. Namun, dalam banyak kasus, yang terjadi justru sebaliknya.
Orang yang lebih suka merahasiakan kehidupan pribadinya, seringkali menghabiskan waktu mereka untuk membaca, meneliti, dan mendapatkan informasi melalui sumber-sumber terpercaya. Mereka tidak bergantung pada unggahan viral atau tagar yang sedang tren.
Alih-alih terjebak dalam pusaran misinformasi yang terkadang banjir di media sosial, mereka meluangkan waktu untuk menggali lebih dalam, memahami berbagai perspektif, dan membentuk opini mereka sendiri yang terinformasi.
9. Mandiri
Kemandirian merupakan sifat umum di antara orang-orang yang lebih suka menjaga privasi di media sosial. Mereka merasa nyaman dalam kesendirian dan tidak membutuhkan interaksi atau validasi terus menerus untuk merasa puas.
Orang-orang ini seringkali memiliki hobi dan minat yang mereka tekuni secara mandiri. Mereka tidak bergantung pada orang lain untuk merasakan hiburan atau kebahagiaan mereka.
Baik itu membaca buku, menjelajahi alam, atau mengerjakan proyek pribadi, mereka sangat puas menghabiskan waktu dengan diri mereka sendiri. Kemandirian ini juga meluas pada keterampilan mereka dalam memecahkan masalah.
Alih-alih mencari nasihat atau simpati langsung secara daring, mereka cenderung akan merenungkan masalah, meneliti solusi potensial, dan membuat keputusan berdasarkan penilaian mereka sendiri.
10. Hidup di masa sekarang
Mungkin ciri paling penting dari orang-orang yang menjaga privasi di media sosial adalah kemampuan mereka untuk benar-benar menikmati momen saat ini. Tanpa terganggu untuk membuat dokumentasi setiap peristiwa atau memeriksa pembaruan, mereka dapat terlibat sepenuhnya dengan pengalaman sendiri.
Baik saat menyaksikan matahari terbenam, menikmati hidangan, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih, fokus mereka adalah pada momen saat ini, bukan pada bagaimana momen tersebut akan dipersepsikan secara daring.
Mereka memahami bahwa momen-momen terindah dalam hidup sering kali tidak dapat diabadikan dalam foto atau pembaruan status – momen-momen tersebut dimaksudkan untuk dialami.