JawaPos.com - Hubungan keluarga tidak selalu indah dan menyenangkan. Terkadang, hubungan tersebut bisa sangat toxic, dan berurusan dengan keluarga toxic ini bukan berarti Anda harus memutuskan hubungan dengan mereka.
Dalam artikel ini, JawaPos.com telah melansir dari laman Ideapod, Selasa (27/8), tujuh strategi bertahan hidup yang dapat membantu Anda mengatasi dinamika keluarga yang penuh tantangan dengan lebih baik, serta didukung oleh psikologi.
1. Tetapkan batasan yang jelas
Kita sering mendengar pentingnya batasan dalam hubungan, namun jika menyangkut keluarga, ini mungkin terasa sedikit rumit.
Menurut psikologi, menetapkan batasan dapat secara signifikan mengurangi dampak dinamika keluarga toxic pada kesehatan mental.
Mulailah dengan mengidentifikasi apa yang dapat Anda terima dan apa yang tidak, kemudian komunikasikan hal ini dengan jelas dan tegas kepada anggota keluarga Anda. Mungkin terasa canggung pada awalnya, namun seiring waktu, hal ini akan terasa lebih alami.
2. Lakukan perawatan diri
Bila Anda terjebak dalam lingkungan keluarga yang toxic, mudah bagi Anda untuk melupakan kebutuhan diri Anda sendiri. Anda bahkan mungkin merasa bersalah karena meluangkan waktu untuk diri sendiri.
Menurut psikologi, saat kita melakukan perawatan diri, kita lebih siap untuk mengatasi stres dan juga dapat mencegah kejenuhan. Merawat diri sendiri bukanlah hal yang egois, ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghadapi lingkungan keluarga yang toxic.
3. Cari bantuan profesional
Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, ini adalah tanda kekuatan, dan ini berarti Anda cukup berani untuk mengakui bahwa Anda membutuhkan dukungan.
Anda bersedia mengambil langkah-langkah menuju kesejahteraan diri Anda sendiri.
Beban berat menyangkut keluarga ini dapat mengaburkan penilaian kita, sehingga sulit melihat segala sesuatunya secara objektif, dan di sinilah peran seorang profesional. Seorang terapis atau konselor dapat menyediakan ruang aman bagi Anda untuk mengekspresikan perasaan Anda tanpa menghakimi.
4. Batasi interaksi Anda
Jika berinteraksi dengan keluarga sering membuat Anda cemas, tertekan, atau marah, mungkin sudah saatnya untuk membatasi interaksi tersebut.
Ini bisa berarti melewatkan beberapa makan malam keluarga atau mengurangi frekuensi kunjungan Anda.
Anda mungkin merasa bersalah pada awalnya, namun ingatlah bahwa kesehatan mental Anda adalah yang utama.
Penelitian menunjukkan bahwa mengurangi paparan terhadap orang-orang yang toxic dapat meningkatkan kesehatan mental kita secara signifikan.
5. Berlatih memaafkan
Memendam amarah dan kebencian sebenarnya dapat membahayakan kesehatan Anda, ini dapat meningkatkan stres, tekanan darah, dan bahkan risiko penyakit jantung.
Di sisi lain, pengampunan dikaitkan dengan lebih rendahnya tingkat kecemasan dan depresi.
Selain itu, pengampunan juga berperan besar dalam peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan.
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu baik-baik saja, ini berarti melepaskan kendali mereka atas emosi Anda.
6. Ingat, itu bukan salahmu
Bila Anda terus-menerus terpapar perilaku negatif, mudah bagi Anda untuk menghayati hal-hal negatif tersebut.
Anda mungkin mulai berpikir bahwa ada yang salah dengan diri Anda, dan merasa bahwa Anda adalah masalahnya.
Tetapi ketahuilah bahwa Anda bukanlah masalahnya, Anda tidak bertanggung jawab atas perilaku buruk mereka, dan itu bukan salah Anda.
Keluarga memang penting, namun Anda juga penting, perasaan Anda valid, pengalaman Anda nyata, dan Anda berhak diperlakukan dengan rasa hormat dan kebaikan.
7. Bangun jaringan dukungan Anda
Saat berhadapan dengan keluarga yang toxic, sangat penting untuk memiliki jaringan pendukung yang kuat. Mereka bisa berupa teman, mentor, atau bahkan kelompok pendukung.
Memiliki jaringan individu yang mendukung dapat membuat perbedaan besar dalam cara Anda menangani racun dalam keluarga Anda. Mereka menyediakan tempat berlindung yang aman di tengah badai dinamika keluarga.