JawaPos.com - Akhir-akhir ini, kasus perselingkuhan kembali menyita perhatian masyarakat, hingga menghangat di berbagai kanal media sosial. Seperti halnya, kisah perselingkuhan pilot dan pramugari.
Tak lama dari itu, juga terdapat kasus istri sah bongkar perselingkuhan suami, dengan sesama dokter koas melalui media Line.
Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Psikologi UNAIR Prof Dr Nurul Hartini S Psi Mkes mengatakan jika belum ke jenjang pernikahan dalam konteks cinta romantis.
Lalu belum mengikat komitmen satu sama lain, Maka sangat diwajarkan untuk mencintai dua hati.
"Apalagi individunya juga tidak melakukan apa-apa, cuma berbagi perhatian aja. Apa yang harus disalahkan dalam kondisi yang tidak ada aturan atau norma yang dilanggar,” ucapnya.
Ya sah-sah aja, sambungnya, kecuali sudah proses menuju pernikahan atau telah berstatus dalam ikatan pernikahan.
"Kemudian mencintai dua hati bersamaan (red: dalam konteks pasangan romantis), yah...saya yakin akan ada yang tersakiti," kata mantan dekan fakultas psikologi UNAIR ini.
Berkaitan dengan hal itu, menurut Prof Nurul komunikasi terbuka dan adjustment itu menjadi salah satu kunci menjaga keutuhan rumah tangga.
“Meskipun terdapat perbedaan umur, cara pandang, dan kebiasaan pasangan dalam berumah tangga. Tetapi, hanya ada dua cara untuk menumbuhkan hubungan yang sehat, yakni komunikasi dan adjustment (penyesuaian),” paparnya.
Salah satu pihak tidak hanya menuntut, tapi juga bisa menyesuaikan diri dengan pasangan. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pasangan, baik secara fisik, emosi, sosial, bahkan spiritual.
“Dalam hal spiritual, istri ingin suami menjadi imam di keluarga. Tetapi kalau suami belum menjadi imam yang baik, bukan menjadi alasan kan kita mengambil imam yang lain,” ujar pakar konseling dan psikologi keluarga itu.
“Sama kemudian jika suaminya melihat istrinya bukan makmum yang baik bukan berarti dia langsung mengambil makmum yang lain. Karena itu, perlunya komunikasi,” imbuhnya.
Prof Nurul menegaskan bahwa setiap pasangan tidak ada yang ketemu pas atau klik banget.
Akan tetapi, melalui proses kehidupan itu meyakinkan setiap pasangan sehingga bisa saling adjustment.
Apalagi untuk keluarga yang episode honeymoon-nya sudah selesai, yang ketemu hanyalah episode-episode berikutnya.
“Maka hal-hal atau konflik kecil, kalau semua dikomunikasikan akan selalu ada jalan keluar. Artinya bukan selingkuh yang menjadi jalan keluar,” tegasnya.
Dalam dunia nyata banyak hal yang bersinggungan dan tidak sama dengan hal-hal ideal yang diharapkan.
Misal, ketika suami atau istri jatuh cinta dengan yang bukan pasangannya, suami impoten, atau fase-fase krisis lainnya.
Selingkuh tidak dapat dibenarkan. Sebab, menjaga keutuhan keluarga adalah menjadi komitmen bersama.
Dengan demikian, Prof Nurul berpesan agar tidak mencintai pasangan satu gelas penuh. Namun, sisakan bagian yang kosong.
Artinya cintai yang sewajarnya, sebab kalau penuh atau berlebihan itu cinta buta yang mengakibatkan kognitif tidak jalan dan emosinya tidak ter-asah.
“Maka mencintailah secara wajar, agar realitas kita akan mendominasi kapasitas berpikir," tuturnya.