← Beranda

8 Perilaku Orang yang Sangat Narsistik dan Hanya Peduli pada Citra dan Penampilan

Silvia SulistiaraRabu, 29 Januari 2025 | 01.19 WIB
Ilustrasi seorang dengan sifat narsistik. (Freepik/lifeforstock)

JawaPos.com - Orang yang sangat narsistik cenderung lebih mementingkan penampilan, reputasi, dan status sosial mereka dibandingkan dengan kualitas seperti karakter atau koneksi emosional.

Perilaku mereka mencerminkan kebutuhan yang terus-menerus akan validasi dan pujian dari orang lain. Hal ini membuat mereka terlihat dangkal dan egois, sering kali mengorbankan hubungan yang bermakna demi citra diri mereka.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (28/1), berikut ini adalah delapan perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang yang sangat narsistik dan hanya peduli pada citra serta penampilan mereka. 

1. Selalu Mengecek Penampilan

Bayangkan situasi ini: kamu sedang berbicara dengan seseorang, tetapi mereka terus-menerus membenahi rambut, merapikan pakaian, atau diam-diam memeriksa bayangan mereka di setiap permukaan yang memantulkan cahaya.

Terdengar familiar? Ini adalah salah satu tanda utama seseorang yang terlalu terobsesi dengan penampilan. Mereka selalu butuh memastikan bahwa mereka terlihat sempurna, bahkan jika itu berarti mengganggu percakapan atau membuka cermin kecil di tengah kencan.

2. Terobsesi dengan Selfie dan Media Sosial

Pernah punya teman yang tidak bisa berhenti mengambil selfie? Tidak hanya saat acara penting atau pemandangan indah, tetapi di setiap kesempatan yang ada.

Baca Juga: 3 Zodiak Paling Beruntung di Bulan Cinta Februari 2025: Aquarius Diprediksi Tumbuh Pesat Secara Mental dan Spiritual

Baik saat ngopi santai atau di tengah obrolan serius, mereka selalu menyempatkan waktu untuk berfoto. Bagi mereka, momen tidak terasa nyata atau berharga kecuali diabadikan dan dibagikan ke media sosial untuk mendapatkan pujian dan validasi.

3. Sering Belanja Baju dan Aksesori Baru

Orang yang sangat narsistik cenderung terus mengikuti tren mode terbaru dan menghabiskan banyak uang untuk pakaian dan aksesori.

Lemari pakaian mereka selalu bertambah, dan mereka jarang terlihat mengenakan pakaian yang sama dua kali. Bagi mereka, citra diri sangat bergantung pada apa yang mereka kenakan.

4. Reaksi Berlebihan terhadap Kekurangan Kecil

Pernah melihat seseorang panik hanya karena jerawat kecil atau noda di pakaiannya? Ini bisa menjadi tanda mereka terlalu fokus pada penampilan.

Bagi mereka, bad hair day bukan sekadar gangguan kecil, melainkan bencana besar. Mereka memperbesar kekurangan sekecil apa pun, karena begitu pedulinya dengan bagaimana mereka terlihat di mata orang lain.

5. Jarang Memberi Pujian kepada Orang Lain

Orang yang terlalu narsistik sering kali sulit memberikan pujian tulus kepada orang lain. Bukan karena mereka tidak menyadari keindahan atau kehebatan orang lain, tetapi karena mereka terlalu sibuk dengan diri sendiri.

Mereka merasa seperti sedang berkompetisi, dan memuji orang lain seolah-olah membuat mereka kehilangan sorotan.

6. Bersikap Rendah Hati Tetapi Bermaksud Mendapat Pujian

Menariknya, orang yang narsistik terkadang pura-pura merendahkan diri atau berbicara negatif tentang diri sendiri. Namun, ini bukan sikap rendah hati yang sebenarnya. Justru, mereka melakukannya agar orang lain membantahnya dan memberikan pujian.

Misalnya, mereka mengatakan bahwa mereka merasa kurang menarik, dengan harapan orang lain akan menyangkal dan mengatakan sebaliknya.

7. Selalu Ingin Menjadi Pusat Perhatian

Di setiap acara atau perkumpulan, ada orang yang selalu ingin menjadi sorotan. Mereka akan mendominasi percakapan, mengenakan pakaian mencolok, melakukan aksi berlebihan, atau bahkan menciptakan drama demi menarik perhatian.

Bagi mereka, eksistensi diakui hanya jika mereka mendapatkan perhatian maksimal dari orang-orang di sekitar.

8. Harga Diri Bergantung pada Penampilan

Inilah inti dari segalanya: mereka menilai diri sendiri berdasarkan seberapa menarik mereka di mata orang lain. Mereka rela melakukan apa saja demi menjaga penampilan mereka, bahkan jika itu berdampak buruk bagi kesehatan atau hubungan mereka.

Mereka mengukur nilai diri bukan dari karakter atau prestasi, tetapi dari standar kecantikan dan citra yang dipersepsikan oleh orang lain.

Jika kamu pernah bertemu dengan orang seperti ini, kamu mungkin sadar bahwa narsisme bukan sekadar tentang obsesi pada penampilan. Di balik itu semua, ada ketidakseimbangan dalam rasa percaya diri dan kebutuhan tinggi akan validasi.

Seperti yang dikatakan filsuf Romawi, Cicero, "Dalam pikiran yang tidak teratur, sebagaimana tubuh yang tidak sehat, tidak mungkin ada keseimbangan." Jadi, lain kali jika kamu menemui seseorang yang terobsesi dengan citra diri mereka, cobalah memahami alasan di baliknya.

Daripada merasa terganggu atau menilai mereka secara negatif, kita bisa menggunakan pemahaman ini untuk bersikap lebih empati dan menyadari bahwa setiap orang memiliki pergulatan batin masing-masing.

EDITOR: Hanny Suwindari