JawaPos.com - Investasi aset digital di Indonesia mulai bergerak melampaui perdagangan aset kripto konvensional. Salah satu tren yang berkembang adalah tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA), yang memungkinkan aset seperti saham, indeks, ETF, hingga komoditas direpresentasikan dalam bentuk token di jaringan blockchain.
Perkembangan tersebut turut terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap aset tertokenisasi di Indonesia. PT Pintu Kemana Saja (Pintu) dan Ondo Finance kembali memperkuat kolaborasi untuk memperluas pilihan RWA yang dapat diakses investor Indonesia melalui ekosistem aset digital.
Langkah ini berlangsung ketika tokenisasi aset dunia nyata secara global mengalami pertumbuhan pesat. Data RWA.xyz yang dikutip dalam pemaparan Pintu menunjukkan nilai RWA on-chain di luar stablecoin telah berada di kisaran USD 25 miliar hingga USD 35 miliar, atau tumbuh sekitar empat kali lipat dalam setahun terakhir.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya datang dari pelaku industri kripto. Sejumlah institusi keuangan global, termasuk BlackRock dan Franklin Templeton, juga telah masuk ke sektor tokenisasi aset sehingga mendorong RWA menjadi salah satu segmen yang semakin diperhatikan dalam perkembangan aset digital.
Apa Itu Tokenisasi RWA?
Secara sederhana, tokenisasi RWA adalah proses merepresentasikan aset dunia nyata ke dalam bentuk token berbasis blockchain. Konsep ini mempertemukan infrastruktur blockchain dengan aset yang sebelumnya lebih banyak diperdagangkan melalui sistem keuangan konvensional.
Bagi investor, perkembangan tersebut membuka kemungkinan untuk memperoleh eksposur terhadap berbagai jenis aset melalui mekanisme digital dan kepemilikan secara fraksional. Namun, bentuk digitalisasi aset tersebut tidak menghilangkan risiko investasi yang melekat pada aset dasarnya.
Rania Rahardja, Senior Director Asia Pacific Ondo Finance, mengatakan Indonesia memiliki potensi sebagai salah satu pasar penting untuk perkembangan tokenized RWA di kawasan Asia Pasifik.
“Potensi tokenized real-world assets secara global sangat besar, dan Indonesia semakin menunjukkan potensinya sebagai salah satu pasar yang paling menarik di kawasan Asia Pasifik,” kata Rania di jumpa pers di Jakarta, Jumat (18/9).
Menurut dia, kolaborasi dengan Pintu diarahkan untuk menghadirkan saham dan ETF global secara on-chain dengan aksesibilitas, likuiditas, dan transparansi yang lebih baik.
“Melalui kolaborasi dengan Pintu, kami menghadirkan saham dan ETF global secara onchain dengan aksesibilitas, likuiditas, dan transparansi yang lebih baik, sehingga memberikan investor Indonesia cara yang lebih sederhana untuk mengakses pasar global melalui platform yang tepercaya dan teregulasi,” ujarnya.
Dari Empat Token Menjadi Hampir 50
Perkembangan produk RWA di Indonesia juga terlihat dari bertambahnya jumlah aset tertokenisasi yang tersedia di platform Pintu.
Perusahaan tersebut mulai mencantumkan aset tertokenisasi Ondo sejak Desember 2025 dengan empat token. Jumlahnya kemudian berkembang menjadi hampir 50 token.
Aset yang tersedia mencakup berbagai kategori, mulai dari saham global seperti Apple dan NVIDIA, ETF dan indeks seperti S&P 500 serta NASDAQ, hingga komoditas seperti emas dan perak.
Pintu sendiri menyatakan jumlah aset tertokenisasi Ondo yang tersedia ditargetkan dapat mencapai ratusan aset pada 2026.
“Kami menargetkan dengan kolaborasi bersama Ondo Finance ini akan membuka daftar aset tertokenisasi Ondo hingga ratusan aset di tahun 2026 ini. Komitmen ini adalah bagian dari visi jangka panjang PINTU membangun marketplace saham tertokenisasi dan RWA yang komprehensif bagi investor Indonesia,” ujar Andy Putra, Presiden Direktur Pintu dalam kesempatan yang sama.
Dalam ekosistem tersebut, aset tertokenisasi disebut dapat dibeli secara fraksional dengan denominasi rupiah. Pintu menyebut akses terhadap sejumlah aset tersebut dimulai dari Rp 11.000 dan dapat diperdagangkan selama 24 jam.
Trader Premium juga Makin Aktif
Di sisi lain, perubahan perilaku investor aset digital tidak hanya terlihat dari munculnya instrumen baru. Data internal PINTU sepanjang paruh pertama 2026 menunjukkan pengguna VIP menyumbang lebih dari 40 persen volume perdagangan spot dan lebih dari 30 persen volume perdagangan futures di platform tersebut.
Kontribusi pengguna VIP pada perdagangan futures juga meningkat. Pangsanya tercatat lebih dari 20 persen pada Februari 2026 dan naik menjadi lebih dari 35 persen pada Mei 2026.
Perusahaan mengaitkan perkembangan tersebut dengan meningkatnya aktivitas trader berpengalaman pada instrumen derivatif kripto. Futures sendiri memiliki karakteristik dan risiko berbeda dibandingkan perdagangan aset kripto secara spot, terutama karena penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian.
“Kebutuhan trader premium di Indonesia terus berkembang seiring makin matangnya ekosistem aset crypto di Indonesia. Mereka tidak hanya mencari return, tetapi juga membutuhkan layanan yang personal, respons cepat, serta kepastian bahwa aset yang mereka kelola berada dalam ekosistem yang aman, patuh, dan terlindungi,” kata Andy.
Meski demikian, meningkatnya jumlah aset digital berbasis RWA tidak serta-merta membuat instrumen tersebut bebas dari risiko. Nilai aset tetap dapat mengalami perubahan, sementara investor juga perlu memahami struktur token, aset yang mendasarinya, mekanisme perdagangan, serta ketentuan perpajakan dan regulasi yang berlaku.
Pintu sendiri mengingatkan bahwa investasi aset kripto dan aset tertokenisasi memiliki risiko tinggi serta volatilitas yang signifikan.
“Namun kami tetap mengingatkan bahwa investasi aset crypto dan aset tertokenisasi memiliki risiko tinggi (high risk) serta volatilitas yang signifikan, sehingga calon investor perlu memahami profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi,” tutup Andy.