JawaPos.com - Minat generasi muda terhadap investasi terus meningkat, mulai dari saham, aset kripto hingga komoditas. Namun, di balik peluang memperoleh keuntungan, terdapat sejumlah risiko yang wajib dipahami sebelum memutuskan menanamkan modal.
Literasi keuangan menjadi salah satu bekal penting bagi calon investor, terutama mahasiswa yang kini mendominasi kelompok investor baru di Indonesia.
Pemahaman mengenai cara kerja instrumen investasi, potensi keuntungan, hingga risiko kerugian dinilai menjadi langkah awal agar keputusan investasi tidak sekadar mengikuti tren.
Berikut lima risiko yang perlu diketahui pemula sebelum mulai berinvestasi.
1. Harga aset bisa naik dan turun drastis
Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik berbeda. Aset kripto dikenal memiliki volatilitas tinggi sehingga harganya dapat berubah dalam waktu singkat. Sementara saham dan komoditas juga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga sentimen pasar.
Karena itu, investor pemula perlu memahami bahwa keuntungan tidak pernah dijamin dan selalu ada potensi kerugian.
2. Mudah terjebak tren tanpa memahami produk
Banyak investor baru mulai berinvestasi karena mengikuti tren atau rekomendasi di media sosial tanpa mempelajari produk yang dibeli.
Memahami cara kerja suatu instrumen investasi menjadi langkah penting agar keputusan investasi didasarkan pada analisis, bukan sekadar ikut-ikutan.
3. Perencanaan keuangan sering diabaikan
Investasi seharusnya menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang, bukan dilakukan menggunakan dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari atau dana darurat.
Dengan perencanaan yang baik, investor dapat menentukan tujuan investasi sekaligus mengelola risiko sesuai kemampuan finansial.
4. Kurangnya edukasi meningkatkan potensi kerugian
Pelaku industri menilai literasi keuangan menjadi faktor utama dalam membentuk investor yang lebih siap menghadapi dinamika pasar.
Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, mengatakan edukasi menjadi bekal penting bagi generasi muda yang mulai tertarik berinvestasi.
"Kami mengapresiasi rekan-rekan mahasiswa yang tergabung dalam HIMAPEN atas terselenggaranya acara ini. Antusiasme dan semangat para mahasiswa untuk belajar serta berdiskusi mengenai peluang investasi masa depan menjadi hal yang sangat positif," ujar Andy di Jakarta baru-baru ini.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi investasi bertema Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas yang digelar bersama Himpunan Mahasiswa & Pemuda Nagekeo (HIMAPEN) di Jakarta.
5. Tidak memahami investasi yang bertanggung jawab
Selain mengejar potensi keuntungan, investor juga perlu memahami pentingnya berinvestasi secara bertanggung jawab dengan mengenali risiko setiap instrumen.
Ketua Umum HIMAPEN se-Jabodetabek, Aster Leta, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami perkembangan teknologi sekaligus mengenal berbagai pilihan investasi.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap mendapatkan sebuah pemahaman terkait edukasi tentang bagaimana caranya untuk memanfaatkan perkembangan teknologi yang sudah semakin besar termasuk bagaimana cara berinvestasi serta instrumen investasi apa saja yang bisa dilakukan oleh para mahasiswa," katanya.
Generasi muda mendominasi investor Indonesia
Pentingnya edukasi investasi juga tercermin dari komposisi investor di Indonesia yang kini didominasi kelompok usia muda.
Berdasarkan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 yang diterbitkan Indonesia Crypto Network (ICN), Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), sebanyak 81,6 persen pengguna aset kripto berasal dari kelompok usia 18-34 tahun atau generasi Z dan milenial.
Sementara itu, data Statistik Pasar Modal Indonesia dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan investor berusia di bawah 30 tahun mencapai sekitar 55 persen dari total investor hingga April 2026. Kelompok usia 31-40 tahun menyusul dengan porsi sekitar 25 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa generasi muda kini menjadi motor utama pertumbuhan pasar investasi nasional. Namun, meningkatnya partisipasi tersebut perlu diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai agar keputusan investasi dilakukan secara rasional dan sesuai profil risiko masing-masing.