JawaPos.com – Ethereum memasuki fase yang sering membuat trader waspada: market terlihat tenang, tetapi justru menyimpan potensi ledakan volatilitas besar. Setelah beberapa pekan bergerak melemah, ETH kini berada di area krusial yang bisa menentukan arah pergerakan untuk beberapa minggu ke depan. Bagi trader teknikal, kondisi seperti ini sering menjadi fase “calm before the storm.”
Dikutip dari BeInCrypto, Rabu (27/5), Ethereum diperdagangkan di USD 2.120 atau sekitar Rp 37,8 juta dengan kurs Rp 17.850. ETH sebelumnya kehilangan support penting setelah keluar dari ascending parallel channel dan turun di bawah level Fibonacci retracement 0.236 pada USD 2.140.
Kini market terbelah. Sebagian melihat peluang rebound, sebagian lain menilai seller masih memegang kendali.
Volatilitas ETH di Level Terendah, Biasanya Tak Bertahan Lama
Salah satu indikator yang jadi sorotan adalah Bollinger Band Width Percentile, yang kini menyentuh level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Dalam market kripto, kondisi ini biasanya menandakan volatilitas sedang “dikompresi” dan bersiap meledak.
Masalahnya, ledakan itu bisa ke dua arah.
Secara historis, kondisi volatilitas serendah ini jarang bertahan lebih dari dua pekan. Itu sebabnya trader kini memantau area support dan resistance dengan sangat ketat.
Chart 4 Jam: Bear Masih Unggul
Di timeframe 4 jam, Ethereum masih bergerak dalam descending parallel channel sejak 26 April. Saat artikel ini ditulis, ETH berada di USD 2.122 dan mencoba menguji garis tengah channel dari bawah.
Secara teknikal, jika ETH berhasil breakout dari area ini, jalur menuju USD 2.230 (Rp 39,8 juta) akan terbuka. Level ini sekaligus menjadi resistance atas channel yang sedang membatasi pergerakan harga.
Namun ada satu masalah: volume.
Setiap upaya rebound sejauh ini terjadi dengan volume yang terus mengecil. RSI (Relative Strength Index) juga hanya berada di sekitar 55, level netral yang sebelumnya beberapa kali gagal mendukung rebound.
Selama volume belum kembali masuk, seller masih punya keunggulan.
Jika ETH ditutup di bawah USD 2.080 (Rp 37,1 juta), tekanan bearish berpotensi kembali dominan.
Zona Demand Jadi Benteng Bull
Meski tekanan masih terasa, tidak semua analis pesimistis.
Analis Crypto Candy melihat Ethereum masih bertahan di daily demand zone antara USD 1.942 hingga USD 2.015 atau sekitar Rp 34,6 juta hingga Rp 35,9 juta.
“ETH bertahan di atas daily demand zone 2k-1.9k dan mencoba rebound. Selama zona ini bertahan, kami memperkirakan pantulan menuju 2.4k atau level lebih tinggi,” tulisnya.
Jika buyer mampu mempertahankan area ini, ETH berpotensi rebound menuju USD 2.400 (Rp 42,8 juta), bahkan menguji area yang lebih tinggi.
Namun jika support ini jebol, skenario bullish otomatis gugur.
Target ETH: USD 2.382 atau Jatuh ke USD 1.750
Daily chart menunjukkan gambaran lebih besar.
ETH kini sudah keluar dari ascending parallel channel yang bertahan sejak 7 Februari. Ini menjadi sinyal teknikal yang cukup serius.
Jika ETH berhasil reclaim channel tersebut, resistance berikutnya berada di Fibonacci 0.382 di USD 2.382 (Rp 42,5 juta). Setelah itu, golden ratio berikutnya ada di USD 2.772 (Rp 49,4 juta).
Namun jika support USD 1.950 gagal bertahan, ETH berpotensi turun ke USD 1.920 (Rp 34,2 juta). Jika tekanan makin kuat, target koreksi berikutnya mengarah ke swing low Februari di USD 1.750 (Rp 31,2 juta).
RSI harian juga masih berada di sekitar 40, artinya momentum belum benar-benar berpihak ke buyer.
Dua Pekan Penentu
Dengan volatilitas yang tertekan ekstrem, Ethereum tampaknya hanya tinggal menunggu pemicu.
Breakout ke atas bisa memicu short covering dan relief rally. Sebaliknya, breakdown bisa mempercepat liquidation dan koreksi lebih dalam.
Untuk saat ini, trader ETH sedang menunggu siapa yang menekan tombol lebih dulu: bull atau bear.
Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.