← Beranda
Bitcoin Lepas dari Bayang-Bayang Dolar? Data 2026 Ungkap Perubahan Besar di Market Kripto
Dhimas GinanjarSabtu, 16 Mei 2026 | 17.53 WIB
Ilustrasi Bitcoin dan Dolar Amerika. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Pergerakan Bitcoin kembali diuji faktor makro global setelah indeks dolar Amerika Serikat atau US Dollar Index (DXY) menunjukkan sinyal breakout. Secara historis, penguatan dolar hampir selalu menjadi kabar buruk bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Namun pada 2026, pola itu mulai menunjukkan retakan, memunculkan pertanyaan baru di kalangan trader: apakah BTC kini sudah cukup kuat bergerak dengan fundamentalnya sendiri?

Dikutip dari BeInCrypto, Sabtu (16/5), Bitcoin diperdagangkan di USD 80.605 atau sekitar Rp 1,41 miliar dengan kurs Rp 17.500. Dalam 24 jam terakhir, BTC naik 0,97%, sementara performa bulanan masih mencatat kenaikan 8,71%.

Di sisi lain, DXY bergerak naik menuju area 101 setelah membentuk pola double bottom pada chart harian. Setup teknikal ini biasanya menjadi sinyal bullish bagi dolar, sekaligus tekanan untuk market kripto.

Hubungan Lama: Bitcoin dan Dolar Biasanya Berlawanan

Selama lebih dari satu dekade, Bitcoin dan DXY umumnya bergerak berlawanan arah. Ketika dolar melemah, likuiditas global cenderung longgar dan appetite terhadap aset berisiko meningkat. Kondisi ini sebelumnya mendorong reli besar Bitcoin pada 2013, 2017, dan 2020.

Sebaliknya, saat dolar menguat pada 2014, 2018, dan 2022, Bitcoin mengalami drawdown brutal, bahkan lebih dari 60%.

Polanya sederhana: dolar kuat berarti uang lebih mahal, likuiditas mengetat, dan investor cenderung menghindari aset volatil seperti kripto.

YouTuber kripto Carl Moon juga menyoroti pola ini melalui chart bulanan yang membandingkan setiap siklus halving Bitcoin dengan fase DXY. Menurutnya, fase bull run BTC selama ini identik dengan pelemahan dolar.

Namun ada satu hal yang menarik. Dalam proyeksi terbarunya, Carl justru melihat kemungkinan Bitcoin dan dolar sama-sama naik — sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi.

Data 2026 Mulai Mengubah Narasi

Meski hubungan invers secara historis masih valid, data pergerakan harian sepanjang 2026 menunjukkan cerita yang lebih kompleks.

Pada akhir Januari hingga awal Februari, korelasi Bitcoin dan DXY justru mendekati +1.00, artinya keduanya bergerak searah. Pola serupa muncul lagi pada pertengahan Maret hingga awal April, ketika dolar dan Bitcoin sama-sama rebound.

Baru sejak pertengahan April hingga Mei, pola klasik kembali muncul: DXY naik, Bitcoin cenderung sideways di area USD 80.000.

Perubahan ini dianggap berkaitan dengan transformasi struktur market Bitcoin.

ETF Ubah Struktur Market BTC

Jika sebelumnya market Bitcoin sangat didominasi retail sentiment, kini institusi memainkan peran jauh lebih besar.

Data menunjukkan arus masuk Spot Bitcoin ETF mencapai USD 1,97 miliar (Rp 34,4 triliun) sepanjang April 2026, menjadi bulan terbaik tahun ini. Arus dana dari pemain seperti BlackRock menciptakan permintaan yang lebih stabil, sehingga BTC tidak selalu bergerak mengikuti dinamika dolar seperti dulu.

Dengan kata lain, Bitcoin mulai memiliki demand base yang lebih independen.

DXY Menuju 101, Ini Area Krusial BTC

Secara teknikal, DXY kini berada di 99,124 setelah menembus Fibonacci retracement 0,618 di 98,548. Pola W-formation yang terbentuk sepanjang April-Mei membuka target kenaikan ke 101,075 atau sekitar 2% di atas level sekarang.

RSI mendekati 60, sementara histogram MACD sudah berubah hijau — dua sinyal momentum bullish yang cukup kuat.

Jika DXY benar-benar menembus 100,393 hingga 101, trader kripto akan mendapat jawaban penting.

Jika Bitcoin tetap bertahan atau justru rally, teori decoupling akan semakin kuat — bahwa BTC kini bergerak sebagai asset class tersendiri.

Namun jika BTC justru terkoreksi saat dolar menguat, maka pola lama belum mati: Bitcoin masih tetap menjadi penumpang dalam permainan makro dolar global.

Beberapa pekan ke depan akan menjadi ujian penting apakah Bitcoin benar-benar telah dewasa sebagai aset independen atau masih sensitif terhadap napas dolar Amerika Serikat.

Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.

EDITOR: Dhimas Ginanjar