JawaPos.com – Dominasi Bitcoin di pasar kripto mulai tergeser, setidaknya untuk sementara. Ethereum mencuri perhatian pelaku pasar setelah berhasil menguat 20 persen dalam sebulan terakhir. Sebaliknya, Bitcoin justru menurun 6 persen dan menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum.
Dikutip dari CoinDesk, Rabu (27/8), peluang Ethereum menembus harga USD 5.000 atau sekitar Rp 81,5 juta kini meningkat menjadi 26 persen, naik dari 16 persen beberapa hari lalu menurut Polymarket. Lonjakan ini didorong oleh akumulasi besar-besaran dari investor institusi serta perpindahan arus modal dari Bitcoin ke Ethereum.
“Ethereum memperlihatkan kekuatan lewat aliran dana institusi, yang membentuk lantai likuiditas kuat,” kata March Zheng, General Partner di Bizantine Capital.
Zheng menambahkan bahwa rasio ETH terhadap BTC sedang berada di titik rendah, membuka peluang rebound. Ia juga menekankan bahwa adopsi stablecoin global serta kejelasan regulasi memperkuat fundamental ETH.
Gracie Lin, CEO OKX Singapura, juga melihat hal serupa. “Pasar memang sensitif terhadap berita, tetapi nilai jangka panjang tetap ditentukan oleh utilitas. Ethereum tetap kuat karena ada keyakinan institusi yang mendalam,” katanya kepada CoinDesk.
Meski total nilai terkunci (TVL) di sektor DeFi belum kembali ke puncaknya, Ethereum tetap menjadi poros utama dalam ekosistem kripto. Volume transaksi ETH bahkan sudah melebihi Bitcoin, meski kapitalisasi pasarnya lebih kecil.
Harga Ethereum saat ini diperdagangkan di kisaran USD 4.598,67 atau sekitar Rp 74,9 juta, mendekati rekor tertingginya di USD 4.946.
Di sisi lain, Bitcoin justru berada dalam tren menurun yang cukup kuat. Berdasarkan analisis teknikal dari CoinDesk, BTC kini diperdagangkan di sekitar USD 111.733 atau Rp 1,82 miliar, turun tajam dari puncak lokal di USD 124.517. Penurunan ini diperparah dengan likuidasi posisi leverage senilai USD 940 juta atau sekitar Rp 15,3 triliun.
Secara teknikal, harga Bitcoin sedang terjebak dalam pola lower high dan lower low, pertanda bahwa tekanan jual masih dominan. Bahkan pada grafik 1 jam, BTC hanya mampu bergerak di kisaran sempit antara USD 109.000 hingga USD 110.500.
Indikator teknikal lainnya pun menunjukkan sinyal bearish. Relative Strength Index (RSI) ada di level 38, stochastic berada di 11, dan Commodity Channel Index (CCI) menyentuh angka minus 180. Artinya, pasar belum menunjukkan kekuatan beli yang cukup untuk membalikkan tren.
Data moving average jangka pendek hingga menengah semuanya menunjukkan tren penurunan. Hanya rata-rata 200 periode yang masih memberikan sinyal dukungan jangka panjang, namun masih terlalu jauh untuk jadi pijakan harga saat ini.
Jika tekanan jual berlanjut, target penurunan BTC bisa mencapai USD 106.000 atau sekitar Rp 1,72 miliar. Namun bila level support di USD 108.700 mampu bertahan dan volume beli menguat, bukan tidak mungkin terjadi pembalikan arah menuju USD 113.000.
Sementara itu, mata uang kripto lain juga ikut bergerak mengikuti sentimen pasar. Token HYPE milik Hyperliquid naik dua digit seiring lonjakan volume perdagangan, bahkan melebihi Robinhood. Kapitalisasi pasar dan minat spekulasi tampaknya mulai bergeser ke token dengan infrastruktur native.
Pasar kripto secara umum sedang berada di persimpangan. Dengan rilis data ekonomi penting seperti indeks PCE dari Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini, volatilitas masih akan menjadi tema besar beberapa hari ke depan.