← Beranda
WIC Jakarta Tuan Rumah Pembukaan Konferensi, Usung Tema Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan dan Warisan Budaya
Edi Yulianto• Kamis, 30 April 2026 | 00.56 WIB
Pembukaan Biennial Welcome Clubs International (WCI) ke-17 di Jakarta. (istimewa)

 

JawaPos.com - Women’s International Club (WIC) Jakarta resmi membuka Konferensi Biennial Welcome Clubs International (WCI) ke-17 pada Senin, 27 April 2026, bertempat di Ballroom The Westin Jakarta.

Konferensi internasional ini diikuti perwakilan dari belasan klub wanita internasional yang berasal dari berbagai negara di Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, Korea Selatan, dan Indonesia.

Sebagai tuan rumah, WIC Jakarta menyambut para peserta dalam suasana penuh kehangatan, persahabatan, dan kekayaan budaya Indonesia. Konferensi tahun ini mengangkat tema “Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World” atau “Menyambungkan Tradisi dan Transformasi: Memberdayakan Perempuan melalui Pendidikan dan Warisan Budaya di Dunia yang Berubah.”

Baca Juga: Menteri PPPA Arifah Fauzi Kecam Keras Pelecehan Seksual oleh 16 Makasiswa FHUI!  

Acara pembukaan turut dihadiri Deputi Menteri Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Ibu Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, S.Sos., M.Hum., serta para tamu undangan dari komunitas diplomatik, sektor swasta, organisasi perempuan, dan peserta konferensi dari dalam maupun luar negeri.

Dalam sambutannya, Conference Chairperson WCI Biennial Conference ke-17, Dr. Nina Handoko, menegaskan penyelenggaraan konferensi ini memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai forum pertemuan internasional, tetapi juga sebagai ruang diplomasi budaya dan pertukaran gagasan antarperempuan lintas negara. Menurutnya, tema Bridging Traditions and Transformations merefleksikan tantangan penting yang dihadapi perempuan di berbagai belahan dunia, yakni bagaimana menjaga akar tradisi dan warisan budaya, sekaligus merespons perubahan sosial dengan pendidikan, kolaborasi, dan kepemimpinan yang inklusif.

“Konferensi Biennial Welcome Clubs International ke-17 yang diselenggarakan di Indonesia ini bukan sekadar pertemuan, melainkan sebuah perjalanan bersama. Bagi kami, ini juga merupakan kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia sebagai negara yang kaya akan tradisi, keberagaman, keramahan, dan nilai-nilai kebersamaan,” ujarnya.

Baca Juga: Pakar Sebut Usulan Menteri PPPA soal Pemindahan Gerbong Perempuan Tak Sentuh Akar Masalah

Dr. Nina Handoko menambahkan, klub-klub yang tergabung dalam WCI memiliki peran penting sebagai ruang perjumpaan yang membangun persahabatan sekaligus memperkuat kontribusi perempuan dalam komunitas masing-masing. Ia menilai di tengah dunia yang semakin terhubung, namun juga menghadapi berbagai tantangan sosial dan budaya, jejaring seperti WCI menjadi semakin relevan sebagai jembatan antargenerasi, antarbudaya, dan antarbangsa.

Sementara itu, Presiden Welcome Clubs International (WCI), Lea Hesse, menyampaikan apresiasi kepada WIC Jakarta atas penyelenggaraan Konferensi Biennial WCI ke-17. Ia menekankan konferensi ini menjadi momentum penting bagi klub-klub anggota WCI untuk memperkuat jaringan persahabatan internasional, bertukar pengalaman, dan memperdalam komitmen terhadap pemahaman lintas budaya.

Menurut Lea Hesse, sebagai organisasi payung yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat, WCI terus mendorong klub-klub anggotanya untuk menjadi ruang perjumpaan yang inklusif, konstruktif, dan bermakna. “Konferensi Biennial ini memberikan kesempatan bagi kita semua untuk belajar dari satu sama lain, merayakan kekayaan budaya, serta memperkuat peran perempuan dalam membangun komunitas yang lebih saling memahami. Indonesia, dengan keberagaman budaya dan semangat persahabatannya, menjadi tempat yang sangat tepat untuk pertemuan ini,” tambahnya.

Presiden WIC Jakarta 2026–2028, Tari Arsita Boestami, menyampaikan konferensi ini menjadi momentum untuk mempererat persahabatan dan merayakan keberagaman yang mempersatukan perempuan dari berbagai negara. Ia berharap para peserta dapat membawa pulang inspirasi, pengalaman budaya, dan kenangan yang bermakna dari Indonesia. Selain seremoni pembukaan, konferensi ini juga menghadirkan sesi diskusi yang menyoroti peran perempuan dalam pendidikan, pelestarian warisan budaya, kewirausahaan sosial, dan pemberdayaan komunitas.

Sesi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ibu Inayah Wulandari Wahid, putri Presiden Republik Indonesia ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid; Ibu Azalea Ayuningtyas, Co-Founder Du Anyam dan CEO Krealogi; serta perwakilan dari Batik Marunda. Melalui sesi ini, para narasumber berbagi perspektif mengenai bagaimana pendidikan, tradisi, dan inisiatif berbasis komunitas dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat peran perempuan, menjaga warisan budaya, serta menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

EDITOR: Edi Yulianto