JawaPos.com - Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi masalah di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera. Sebanyak 283.270 orang di 7 provinsi dilaporkan terkena ISPA akibat asap karhutla.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Then Suyanti menyampaikan bahwa angka itu merupakan akumulasi dari data di 7 provinsi dan 63 kabupaten maupun kota yang terdampak karhutla. Kasus tertinggi terdata dialami oleh pasien berusia 5 tahun ke atas.
Khusus untuk daerah dengan kasus ISPA tertinggi, Kemenkes mencatat Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Sumatera Selatan (Sumsel). Angkanya masing-masing 74.636 kasus di Kalsel dan 74.458 di Sumsel.
”Dan situasi saat ini ISPA yang masih diderita sebanyak 3.897,” kata dia kepada awak media dalam konferensi Pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) pada Rabu (14/10).
Baca Juga: Lima Tersangka OTT BNPB Ditahan KPK dan Pakai Rompi Oranye, Tangan Tertangkup
Berdasar data, asap karhutla sudah masuk kategori sangat tidak sehat dan berbahaya. Akibatnya, risiko kesehatan meningkat. ISPA adalah salah satu dampak sebaran asap karhutla.
”Karena kita tahu asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus yaitu PM 2.5, maupun karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti ISPA,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Then menyatakan bahwa batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan juga termasuk dampak asap karhutla. Kondisi itu juga bisa memicu asma, gangguan mata, serta gangguan kulit.
”Dan bisa dampak sistemik, yaitu meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke, tekanan darah meningkat terutama pada lansia,” ata dia.
Untuk itu, Kemenkes mengupayakan menjaga kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, dan pekerja di luar ruangan. Edukasi terus dilakukan agar dampak asap karhutla tidak semakin buruk.
”Kami melakukan edukasi untuk mengurangi risiko krisis kesehatan, kemudian juga kami melakukan pemantauan penyakit ISPA, pneumonia asma, maupun iritasi mata dan kulit,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Kemenkes telah menerbitkan surat kewaspadaan untuk Dinas Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan. Tujuannya agar mereka menyiapkan segala kebutuhan untuk melayani masyarakat.
“Dan merekomendasikan agar pembelajaran jarak jauh bagi wilayah terdampak karhutla kepada kementerian lembaga terkait, yaitu Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kemenag,” ucap Then.