JawaPos.com – Fenomena jutaan warga Indonesi berobat ke luar negeri menjadi pekerjaan rumah bagi layanan kesehatan di dalam negeri. Penguatan fasilitas, teknologi medis, hingga kompetensi dokter terus digenjot guna menjawab kebutuhan pasien yang selama ini mencari layanan kesehatan di negara lain.
Direktur Kelembagaan Pertamedika Indonesia Healthcare Corporation (IHC), dr. Kamelia Faisal, M.A.R.S., mengatakan informasi mengenai banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri memang terkonfirmasi dari berbagai informasi yang diperolehnya saat melakukan kunjungan ke sejumlah negara.
“Ya, jadi memang Pak Menkes kan sempat mengucapkan ya katanya ada 2 juta lebih ya orang Indonesia yang pergi ke luar negeri setiap tahunnya,” kata Kamelia saat Media Visit di Kantor JawaPos.com, Graha Pena, Jakarta Selatan, Kamis (24/9).
Menurut dia, Malaysia dan Singapura menjadi sejumlah negara yang banyak dituju masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan kesehatan. Kondisi tersebut mendorong IHC untuk menghadirkan fasilitas kesehatan dengan standar pelayanan yang selama ini dicari masyarakat ketika berobat ke luar negeri.
“Nah itu kami tindak lanjut, kami ingin IHC bisa jadi menjadi flagship-nya Indonesia, kebanggaan di ketahanan kesehatan masyarakat, sekaligus kita menyediakan lahannya untuk pelayanan kesehatan baik bagi turis luar yang mau ke Indonesia maupun bagi orang Indonesia yang biasa ke luar negeri,” ujarnya.
Baca Juga: Mengajarkan Gizi Lewat Dapur UMKM: Cerita Para Pelaku Usaha di Program CSR IHC RS Pertamina Pusat
Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui Bali International Hospital (BIH) yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali. Rumah sakit itu mulai beroperasi pada Juli 2025 dengan dukungan dokter Indonesia serta sejumlah dokter asing.
“Jadi supaya orang nggak sibuk keluar, kami datangkan dokter yang biasa dikunjungi oleh orang-orang ini ke Indonesia,” jelasnya.
Kamelia mengatakan BIH memiliki sejumlah layanan unggulan, salah satunya bidang kanker. IHC menggandeng pihak dari Australia untuk mengelola layanan kanker tersebut secara menyeluruh, dengan melibatkan dokter asing maupun dokter Indonesia.
“Kita bekerja sama dengan sebuah brand icon namanya, itu dari Australia, yang me-manage ya, mengelola layanan cancer kita dari A to Z, lengkap dokternya,” katanya.
Selain kanker, BIH juga mengembangkan layanan unggulan kardiologi atau jantung. Menurut Kamelia, meski tergolong rumah sakit baru, BIH telah berhasil melakukan operasi bedah jantung pada tahun ini (2026). “Dan sukses ya,” ujarnya.
Kamelia menyebut keberadaan BIH di Bali juga menjadi salah satu faktor yang membuat pasien merasa nyaman selama menjalani perawatan. Menurut dia, lingkungan Bali dengan keindahan alamnya turut mendukung proses pemulihan pasien.
“Pasien-pasien cancer kami juga merasa nyaman, mereka merasa bahwa datang ke BIH ini mendapat perawatan dengan hospitality yang baik dan ternyata karena memang lokasinya itu kan ya lokasi Bali ya, penuh dengan keindahan, pantai, gunung dan macam-macam, itu mempercepat penyembuhan,” tuturnya.
IHC berharap penguatan layanan tersebut dapat menahan aliran pasien Indonesia yang selama ini memilih berobat ke luar negeri. Selain memperluas akses layanan kesehatan, langkah itu dinilai dapat menjaga perputaran ekonomi dari sektor kesehatan tetap berada di dalam negeri.
“Bisa mengembalikan deviden negara yang bisa kami kembalikan ke BUMN dan akhirnya digunakan untuk kepentingan masyarakat Indonesia lagi,” kata Kamelia.
Fokus Maksimalkan 38 Rumah Sakit
Selain BIH, IHC belum berencana menjadikan pembangunan rumah sakit baru sebagai prioritas utama. Kamelia mengatakan pihaknya akan terlebih dahulu memaksimalkan potensi 38 rumah sakit yang berada di bawah IHC.
“Jadi kami memang dengan 38 rumah sakit yang ada saja, itu kami ingin kembangkan dulu,” katanya.
Salah satunya melalui Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) di Jakarta. IHC berencana mengembangkan layanan unggulan di rumah sakit tersebut untuk melayani pasien yang sebelumnya memilih berobat ke luar negeri maupun pasien dari daerah yang membutuhkan rujukan ke Jakarta.
Pengembangan juga dilakukan di Rumah Sakit Pelni melalui bangunan baru yang disebut Merial. Fasilitas tersebut melayani peserta BPJS dengan skema top up atau Coordination of Benefit (COB), sekaligus menggandeng dokter-dokter yang dikenal di Indonesia untuk memberikan layanan eksklusif bagi pasien domestik.
Menurut Kamelia, strategi IHC ke depan adalah memaksimalkan rumah sakit yang sudah ada sebelum membangun fasilitas baru. Peremajaan fasilitas dan pembaruan peralatan medis menjadi bagian dari transformasi tersebut.
“Roadmap kami sebelum kami memutuskan untuk membangun rumah sakit baru atau membangun bangunan baru, kami akan memaksimalkan dulu yang sudah existing tapi di-rejuvenasi atau diperbaiki, diperbaharui gitu. Ditingkatkan layanannya,” ujarnya.
Peningkatan teknologi medis juga dilakukan secara bertahap. Kamelia mencontohkan peningkatan kapasitas mesin MRI dan CT Scan yang tersedia di rumah sakit.
“Jadi itu kita mau meningkatkan di situ dulu,” katanya.
Selain fasilitas, IHC juga mendorong peningkatan kompetensi dokter agar mampu mengikuti perkembangan penyakit dan terapi medis. Pengembangan tersebut akan dilakukan di berbagai rumah sakit di bawah payung IHC, termasuk di Jakarta, Surabaya, Jawa, dan wilayah lainnya.