← Beranda
3 Hal Penting yang Wajib Diketahui Orang Tua soal Influenza Anak Menurut IDAI
Tazkia Royyan Hikmatiar• Kamis, 24 September 2026 | 01.30 WIB
Ilustrasi seorang anak terserang influenza A. (Magnific)

JawaPos.com - Orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan kondisi anak saat terserang influenza. Sebab, turunnya demam belum tentu menandakan kondisi anak sudah aman.

Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat sedikitnya ada tiga hal yang perlu diketahui dan dipantau orang tua terkait influenza pada anak.  

Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K) mengatakan, anak belum selalu mampu mengenali dan menyampaikan keluhan yang dirasakannya.

Karena itu, orang tua maupun pengasuh menjadi radar utama untuk memantau kondisi anak selama sakit.

Baca Juga: Penularan Influenza Tinggi di Musim Kemarau, Berikut Penjelasannya

“Radar terbaik adalah pada orang tua serta pengasuhnya. Yang namanya penyakit itu enggak datang sendiri-sendiri. Jadi, oh ada demam. Lihat aktivitas anak,” ujarnya, Rabu (23/9).

Dia menjelaskan, saat influenza, orang tua perlu melihat bagaimana perilaku anak setelah demam turun.

Jika setelah demam mereda anak kembali aktif, banyak berceloteh seperti biasa, masih mau minum, dan tetap buang air kecil, kondisi tersebut menjadi tanda yang relatif baik.

Namun, orang tua perlu memastikan demam yang turun memang diikuti dengan perbaikan kondisi anak, bukan sekadar akibat pemberian obat penurun panas.

“Kalau anak sedang demam, masih loyo. Tetapi begitu demamnya turun, apakah turun dengan sendirinya atau turun karena dikompres atau minum antipiretik seperti parasetamol,” jelasnya.

Baca Juga: Influenza A Meningkat, Anak Berisiko Kena Komplikasi Berat

“(Kalau) dia beraktivitas seperti biasa, celotehannya seperti biasa, aman,“ lanjut dr Anggraini.

dr Anggraini menyebut ada tiga petunjuk utama yang mudah dipantau orang tua, yakni aktivitas, intake atau asupan, dan output atau buang air kecil.

Pada sisi asupan, anak yang sedang sakit, khususnya influenza mungkin mengalami penurunan nafsu makan.

Namun, selama masih mau minum, orang tua tetap memiliki indikator bahwa kebutuhan cairannya masih masuk.

“Kalau makan mungkin kurang, masih mau minum dan buang air kecil kita lihat tiap empat jam sekali karena dia banyak minum. Itu bagus,” katanya.

Baca Juga: IDAI Rekomendasikan 6 Langkah Tangani Influenza A Anak

Waspadai Gejala Tak Biasa

Sebaliknya, orang tua harus segera waspada apabila anak mengalami perubahan perilaku atau muncul gejala yang tidak biasa. 

Terlebih jika anak sulit dibangunkan, justru sangat gelisah, mengalami kejang, bernapas cepat, atau tubuh tampak kebiruan.

“Bilamana kok anak sulit dibangunkan atau dia justru gelisah tidak seperti biasa. Ada kejang, ada napas cepat, kok tampak kebiruan, kok ada bleeding,” tegas Prof. Anggraini.

Gangguan buang air kecil pada anak saat sakit influeza juga tidak boleh dianggap sepele.

Jika anak tidak buang air kecil hingga enam jam, orang tua perlu segera memperhatikan dan memperbaiki asupan cairannya serta mempertimbangkan pemeriksaan medis.

Baca Juga: Bukan Sekadar Flu Biasa, Kenali Perbedaan Influenza Tipe A dengan Flu yang Sering Dialami

“Bahkan juga bila enam jam kok anak kita belum kencing-kencing, tentunya cepat perbaiki asupannya,” ujarnya.

Menurut dr Anggraini, pemantauan sederhana tersebut sangat penting karena anak, terutama yang masih kecil, belum tentu dapat menjelaskan keluhan secara spesifik.

“Walaupun anak belum bisa menunjukkan suatu atau bicara keluhan, hanya melihat aktivitas, intake, output itu sudah cukup,” tuturnya.

Selain memantau kondisi selama sakit, orang tua juga perlu memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.

Asupan cairan menjadi semakin penting untuk mencegah dehidrasi, terutama ketika kondisi cuaca panas dan kering.

Baca Juga: 8 Makanan yang Membantu Meredakan Influenza, Nutrisi Tepat Bantu Pulih dengan Cepat

Namun, kebutuhan nutrisi anak saat sakit tidak cukup hanya mengandalkan buah-buahan.

Protein hewani dan karbohidrat tetap diperlukan untuk mendukung kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan dan pemulihan.

“Nutrisi anak-anak itu butuh protein hewan. Jadi protein hewannya jangan lupa. Buah-buahan silakan. Namun protein hewannya, karbohidratnya jangan terlupakan,” tandasnya.

 

EDITOR: Bayu Putra