← Beranda
Penularan Influenza Tinggi di Musim Kemarau, Berikut Penjelasannya
Tazkia Royyan Hikmatiar• Kamis, 24 September 2026 | 00.24 WIB
Ilustrasi seorang anak terserang influenza A. (Magnific)

JawaPos.com - Penularan influenza seharusnya semakin rendah di musim kemarau. Pasalnya, kondisi udara yang lebih kering dan paparan sinar matahari membuat virus influenza lebih mudah mati. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat penularan flu menurun. Kebiasaan masyarakat yang lebih banyak beraktivitas di ruang tertutup saat cuaca panas justru dapat meningkatkan risiko penularan.

“Karena sebenarnya musim kemarau si virus itu lebih mudah mati. Tetapi kita itu merasa gerah kalau keluar. Jadi malah berkumpul di dalam. Ditutup ventilasi semuanya,” ujar Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI pada Rabu (23/9).

Menurut Prof. Anggraini, ruangan yang minim ventilasi dan tidak mendapatkan paparan sinar matahari menjadi salah satu kondisi yang dapat memperbesar peluang penularan influenza.

Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi karena masyarakat cenderung menutup ruangan.

“Hal-hal yang menutup, tidak ada sinar matahari masuk, ini justru meningkatkan penularan flu sehingga terasanya ini yang flu itu tinggi dan flu sangat menular,” jelasnya.

Risiko penularan juga semakin besar pada anak-anak yang banyak menghabiskan waktu di tempat penitipan anak atau daycare. Aktivitas dalam ruang yang sama membuat virus lebih mudah berpindah ketika ada satu anak yang terinfeksi.

 

“Orang tua sekarang di perkotaan sibuk ke daycare. Di daycare-nya satu sakit, ketutup semuanya. Pembersihannya juga kurang untuk permukaan yang terkena semua, karena itu memang sangat cepat menularnya,” katanya.

 

Prof. Anggraini menjelaskan, satu orang yang terinfeksi influenza rata-rata dapat menularkan virus kepada sekitar tiga orang lainnya. Namun, angka tersebut dapat meningkat bergantung pada kondisi lingkungan, cuaca, dan intensitas orang berkumpul dalam satu ruangan.

Karena itu, peningkatan kasus influenza pada musim kemarau tidak cukup dihadapi dengan mengandalkan kondisi alam yang seharusnya membuat virus lebih cepat mati. Justru, masyarakat perlu memperbaiki kondisi lingkungan tempat beraktivitas.

“Harusnya proteksi. Harusnya proteksi paling banyak yang namanya virus influenza di mana-mana pada saat musim penghujan,” tegas Prof. Anggraini.

Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat memperbaiki sirkulasi udara di dalam ruangan, menjaga kebersihan tangan, serta tidak membawa orang yang sedang sakit ke sekolah maupun kantor.

“Kalau musim kemarau ini tinggi, kita perbaiki dengan ventilasi makin bagus, hand hygiene-nya, yang sakit itu jangan masuk sekolah atau ngantor,” tandasnya.

 

EDITOR: Diar Candra