JawaPos.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan enam langkah untuk menghadapi influenza A yang belakangan meningkat di beberapa daerah di Indonesia.
Kewaspadaan terhadap influenza A mesti diperkuat setelah subtipe Influenza A H3N2 subklad K yang populer disebut “Super Flu” terdeteksi di 13 provinsi. IDAI juga mengingatkan anak termasuk kelompok yang rentan mengalami infeksi influenza dan komplikasi serius.
“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0–17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus,” ujar Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI DR Dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Rabu (23/9).
Menurutnya, anak juga dapat melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat, terutama bagi anak dengan faktor risiko.
“Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati,” tegas Prof Anggraini.
Data IDAI menunjukkan sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap. Dari jumlah tersebut, 80 persen merupakan anak di bawah usia 2 tahun dan 50 persen di antaranya berusia kurang dari 6 bulan.
Berikut enam rekomendasi IDAI untuk menghadapi peningkatan Influenza A pada anak:
1. Vaksinasi influenza setiap tahun
IDAI merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan untuk seluruh anak mulai usia 6 bulan, termasuk anggota keluarga lainnya.
Vaksin influenza tersedia dalam bentuk inaktif, baik trivalen maupun kuadrivalen, serta vaksin hidup intranasal untuk usia 2–49 tahun dengan kondisi sehat. Vaksinasi disebut dapat mengurangi risiko infeksi hingga 40–60 persen sekaligus menurunkan keparahan penyakit dan komplikasi.
“Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift,” jelas Prof Anggraini.
2. Terapkan protokol kesehatan
Orangtua diminta membiasakan anak mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, serta menghindari kerumunan, terutama ketika aktivitas influenza sedang meningkat.
Etika batuk dan menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi bagian penting untuk memutus rantai penularan.
3. Kenali gejala dan tanda bahaya
Orangtua perlu mengenali gejala influenza dan segera berkonsultasi dengan dokter apabila kondisi anak memburuk.
Tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, hingga dehidrasi.
Pada anak dengan faktor risiko atau gejala berat, pemeriksaan laboratorium seperti RT-PCR dapat diperlukan untuk membantu memastikan diagnosis dan mengidentifikasi subtipe virus.
4. Jangan paksa anak sekolah saat sakit
IDAI meminta anak yang mengalami influenza untuk beristirahat di rumah dan tidak dibawa ke sekolah maupun tempat bermain sampai pulih.
Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Karena itu, anak yang sakit perlu diisolasi hingga setidaknya 24 jam bebas demam tanpa menggunakan obat penurun panas.
5. Cegah dehidrasi
Anak yang terinfeksi influenza dianjurkan mendapatkan istirahat cukup dan asupan cairan yang memadai. Orangtua juga diminta memastikan anak banyak minum air putih, terutama untuk mencegah dehidrasi di tengah kondisi cuaca panas dan kering.
Obat penurun demam dapat diberikan sesuai indikasi. Sementara obat antivirus harus diberikan berdasarkan evaluasi dokter, dengan dosis yang disesuaikan usia dan berat badan.
“Pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter. Jangan memberikan obat tanpa resep, dan waspadai tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, atau dehidrasi,” pesan dr Hikari.
6. Perkuat surveilans dan akses pemeriksaan
IDAI juga mendorong penguatan surveilans genomik serta akses pemeriksaan RT-PCR untuk mengidentifikasi subtipe influenza, termasuk subklad K.
Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung manajemen kasus sekaligus menjadi bahan dalam menentukan komposisi vaksin influenza pada masa mendatang.
Secara global, influenza diperkirakan menyebabkan sekitar 1 miliar infeksi setiap tahun, dengan 3–5 juta kasus berat dan 290 ribu–650 ribu kematian terkait pernapasan.
“Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, kita dapat mengurangi dampak influenza pada anak dan keluarga. Lindungi anak, lindungi bangsa,” tutup Prof Anggraini.