JawaPos.com - GERD menjadi salah satu gangguan pada saluran pencernaan yang semakin banyak dijumpai di Indonesia. Kondisi tersebut tidak terlepas dari perubahan pola makan dan gaya hidup masyarakat.
Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai 9,35 persen.
Sementara itu, data IQVIA mencatat pasar obat antiulkus di Indonesia mencapai sekitar Rp2,55 triliun atau setara USD164,3 juta sepanjang 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6 persen.
Data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier juga menunjukkan bahwa 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif. Kondisi ini menegaskan pentingnya diagnosis yang akurat serta penanganan sejak dini melalui terapi yang efektif dalam praktik klinis.
dr. Ari Fahrial Syam, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) sekaligus Profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, menekankan pentingnya bukti klinis dalam negeri dalam menentukan strategi terapi GERD.
Hal ini disampaikannya dalam salah satu kongres gastroenterologi utama di Indonesia, simposium ilmiah dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026 yang bersamaan dengan perkenalan terapi baru untuk GERD yakni fexuprazan oleh PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong).
"Indonesia memiliki proporsi pasien GERD dengan esofagitis erosif yang cukup tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan klinis terhadap terapi generasi baru yang mampu memberikan supresi asam secara cepat dan kuat sejak awal pengobatan. Penyusunan panduan terapi berbasis bukti ilmiah yang sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia, serta didukung data klinis dari pasien Indonesia, memiliki nilai ilmmiah yang sangat penting," ujar Ari di Jakarta pada Jumat (18/8).
Tak hanya itu, pengalaman klinis dan hasil penelitian dari Korea Selatan juga menjadi salah satu pembahasan utama pada simposium.
Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, menjelaskan bahwa penggunaan P-CAB di Korea Selatan terus berkembang demi menjawab berbagai kebutuhan klinis yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh terapi proton pump inhibitor (PPI).
"Di Korea Selatan, terapi P-CAB telah digunakan secara bertahap sehingga pengalaman klinis penggunaannya terus bertambah. Dalam studi fase 3 yang melibatkan 263 pasien Korea Selatan dengan esofagitis erosif, fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu ke-8, yang menunjukkan efektivitas klinis yang kuat," jelas Ahn.
Di Indonesia sendiri kini sudah bisa melakukan terapi P-CAB yang membuat perkenalan fexuprazan menjadi suatu hal yang berarti.
“Sebagai terapi P-CAB generasi baru, kami berharap fexuprazan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien GERD di Indonesia,” ujar Ji Won Kim, President Korean Gastroenterology Association sekaligus Professor, Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Seoul National University College of Medicine,SMG-SNU Boramae Medical Center.
Sementara itu, dr. Wicak Prasetiadi, Brand and Marketing Manager PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menegaskan bahwa fexuprazan bisa memberikan alternatif pengobatan GERD bagi pasien di Indonesia.
"Kami berharap kehadiran fexuprazan dapat menjadi salah satu pendorong perkembangan tata laksana GERD di Indonesia. Kami akan terus memperluas pertukaran pengetahuan terkini dan kegiatan edukasi bersama tenaga kesehatan guna mendukung peningkatan kualitas pelayanan bagi pasien di Indonesia," ujar dr. Wicak.