← Beranda
Perbedaan Keracunan Makanan dengan Alergi Makanan, Jangan Salah Kaprah!
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 15 September 2026 | 02.28 WIB
Sejumlah siswa di Kabupaten Pati menjalani perawatan di RS usai diduga keracunan MBG. (Radar Pati)

JawaPos.com - Keracunan makanan dan alergi makanan memiliki gejala yang mirip, tapi sebenarnya kondisi ini berbeda. Keracunan makanan akhir-akhir ini banyak dibahas karena kasus program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.

Keracunan terkait makanan yang terkontaminasi atau mengandung zat berbahaya. Sedangkan alergi terjadi saat tubuh bereaksi berlebihan terhadap makanan biasanya aman.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR Dr Yogi Prawira, SpA, Subsp ETIA(K), menjelaskan penting memahami beda ini. Terutama di tengah kasus keracunan makanan massal di sekolah pada program MBG.

"Bedanya mendasar, keracunan itu soal makanannya yang memang bermasalah. Kalau alergi soal orangnya, makanannya enggak apa-apa, tapi tubuhnya bereaksi berlebihan," kata dr. Yogi, Senin (14/9).

Keracunan Bisa Menyerang Banyak Orang

dr. Yogi menjelaskan keracunan makanan dapat dialami siapa saja yang makan atau minum dari sumber bermasalah. Karena itu, kasus keracunan sering terjadi massal dan bisa menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Sebaliknya, alergi makanan tidak terjadi pada semua orang yang makan makanan serupa.

Dari gejala, keracunan makanan lebih menyerang saluran pencernaan. Contohnya mual, muntah, diare, dan sakit perut.

Alergi makanan lebih sering menunjukkan reaksi di kulit atau saluran pernapasan. Gejala berupa gatal, biduran, pembengkakan bibir atau mata, sampai sesak napas.

"Jadi saat ada reaksi seperti ini, ini bisa jadi petunjuk praktis apakah keracunan atau alergi," jelas dr. Yogi.

Waspadai Gejala Keracunan yang Tidak Khas

Menurut dr. Yogi, muntah dan diare pada keracunan adalah mekanisme tubuh mengeluarkan racun atau bakteri. Namun, masyarakat perlu waspada pada gejala tidak khas yang terkait saraf.

"Anaknya demam, ada pusing, sakit kepala, pandangan kabur, kelemahan anggota gerak, kesemutan. Ya, itu gejala saraf yang kadang mengarah ke racun tertentu," tuturnya.

dr. Yogi memberi contoh kondisi tersebut bisa terkait toksin Clostridium botulinum atau racun hewan laut tertentu.

Jika gejala seperti itu muncul, anak harus segera dibawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

Dehidrasi Jadi Risiko Paling Berbahaya

Terlepas penyebabnya, dr. Yogi ingatkan derajat dehidrasi adalah faktor penting yang menentukan kondisi anak setelah keracunan. Tanda dehidrasi seperti mulut kering, sering haus, buang air kecil jarang, urine pekat, dan tubuh lemas.

"Karena mungkin kumannya bisa mati, toksinnya hilang, tapi cairan harus direhidrasi agar tidak fatal," jelasnya.

Anak dengan keracunan harus dipantau cairannya. Terutama jika muncul gejala tidak biasa seperti gangguan saraf; pemeriksaan di fasilitas kesehatan jangan ditunda.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra